Orang Tua Kekasih Linda Mohon Maaf, Warga Royal Kaget dengar Temuan Polisi

Suasana rumah nomor 4 Jalan Arafah II Perumahan Royal Mataram, yang berdekatan dengan lokasi penemuan jenazah Linda Novitasari, tetap diterangi cahaya lampu, non stop 24 jam. (Suara NTB/bul)

Mataram (suarantb.com) – Terungkapnya temuan baru polisi dalam kasus dugaan pembunuhan Linda Novitasari, mengejutkan warga Komplek Perumahan Royal Mataram, khususnya di Jalan Arafah II. Sementara, orang tua R, tersangka pembunuh Linda, angkat bicara soal kejadian ini.

Hingga kini, warga sekitar rumah yang ditinggali R sungguh tak menyangka, jika berdasarkan temuan polisi, Linda yang ditemukan dalam keadaan tergantung pada sore Sabtu, 25 Juli 2020 lalu ternyata adalah korban pembunuhan.

Iklan

Menurut keterangan warga, rumah nomor 4 Jalan Arafah II sebenarnya ditinggali orang tua R. Karena pindah tugas ke luar Kota Mataram, sang anak, R yang akhirnya tinggal di rumah itu.

Hampir setahun terakhir R tinggal di rumah ini. Menurut sejumlah tetangganya, R dikenal jarang berinteraksi dengan warga sekitar. Cenderung tertutup. Namun rumahnya sering digunakan untuk nongkrong bersama teman-teman seusianya.

“Saya masih tidak percaya saja, kalau R yang melakukannya (pembunuhan). Tidak percayanya karena dia mahasiswa, apalagi mahasiswa Fakultas Hukum di Unram,” kata Ana, tetangga samping rumahnya.

Ana menilai, R sebenarnya memiliki karakter yang baik lagi sopan. Mungkin karena usianya yang masih muda yang membuatnya belum terlalu intens bergaul dengan sesama warga komplek.

Ketidakpercayaan warga akan apa yang dilakukan R ini juga didasari banyak faktor yang membuat ia tidak disangka bisa mengeksekusi sendiri kekasihnya, Linda hingga meninggal dunia.

“Orang tuanya orang yang baik, orang mampu. Dan sangat hormat kepada semua orang. Tidak percaya saja,” imbuh Ana.

Ana juga menceritakan tabiat R yang dinilainya cukup sopan. Ayah Ana adalah seorang dosen di Fakultas Hukum Unram. Saat ayahnya datang, R dan kawan-kawannya langsung datang menyalami. Hal itu yang membuat R dikenal cukup sopan.

Ana berharap, setelah penetapan tersangka ini, polisi segera membuka garis polisi yang masih dipasang di gerbang rumah tetangganya ini.

“Agar rumah ini segera dimanfaatkan. Ditinggali, tempat ngaji, atau tempat ibadah lainnya. Biar semua tenang kembali seperti biasa,” demikian Ana.

Sementara, Fathur, tetangga R juga sangat kaget mengetahui Polisi mengumumkan R sebagai tersangka pembunuhan Linda, kekasihnya. Pasca kejadian, Fathur cukup terguncang dengan tragedi tersebut. Bahkan ia mengaku sempat jatuh sakit, karena rumah di samping tembok rumahnya ditemukan jenazah Linda yang menggantung.

Fathur mengaku tidak cukup mengenal sosok R. Setiap kali ada di rumah, selalu menutup gerbang. Rumah nomor 4 di Jalan Arafah II ini konsepnya dibuat setengah terbuka. Setengah tanpa dinding. Karena itu, demi pengamanan, gerbang harus selalu ditutup.

“Setahu saya, dua kali seminggu mereka pada kumpul di rumah ini. Entah kumpul sama siapa. Tetapi biasanya ramai. Kadang-kadang ada suara mereka bernyanyi main gitar,” kata Fathur.

Pasca kejadian ditemukannya jenazah Linda yang tergantung di atas kusen pintu, warga setempat berinisiatif melakukan yasinan di Jalan Arafah II beberapa malam. Hal itu yang membuatnya merasa tenang. Fathur mengatakan, ketakutannya kini telah berkurang. Tidak seperti ketika penemuan jenazah Linda baru terjadi.

Ketua RT 13 Perumahan Royal Mataram, L. Wahidin juga mengaku tidak banyak mengenal sosok R. Interaksinya memang jarang. Ia hanya bertemu saat R berbelanja di kiosnya.

Sebagai Ketua RT, Wahidin hanya mengenal orang tua R yang dikenal baik, dan sangat hormat kepada sesama tetangga. Orang tua R juga didaulat sebagai penasehat RT, ditokohkan.

L. Wahidin mengatakan, rumah nomor 4 ini tidak lagi dianggap angker. Sebelum Polisi mengungkap pelakunya, spekulasi yang berseliweran di luaran membuat rumah tersebut terkesan menakutkan.

“Tapi sudah tidak lagi menakutkan. Karena korban ternyata dibunuh, bukan gantung diri. Doa bersama juga sudah kita lakukan di sana. Kita doakan saja R semoga benar-benar bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT,” ujarnya.

L. Wahidin mengatakan, berdasarkan keterangan Polisi, pembunuhan tidak dilakukan atas rencana. Melainkan, didasari cekcok yang mengakibatkan emosi tidak terkontrol hingga Linda menjadi korban.

Orang tua R benar-benar terpukul atas kejadian ini. Hingga saat ini, orang tuanya tidak percaya, anaknya melakukan hal tersebut. Kesedihan pun belum bisa dibendung.

Melalui sambungan telepon, orang tua R pun menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya. Khususnya, kepada warga komplek Perumahan Royal Mataram, yang dibuat sempat terganggu karena kejadian ini.

“Tunas (mohon) ampun maaf atas kejadian ini. Kepada warga Royal, terutama juga kepada keluarga almarhumah. Biarlah, ini sudah jadi suratan takdir anak saya. Mohon dimaaafkan,” demikian permintaan maaf orang tua R dari ujung telepon.

Kesedihan orang tuanya cukup terasa dalam percakapan tersebut. Suaranya dari ujung telepon menggambarkan betapa terpukulnya orang tua R atas kejadian tersebut.

Apalagi, R tengah menghadapi ancaman penjara maksimal 15 tahun atas perbuatannya. Diketahui, R dua bersaudara. Ia putra sulung di keluarganya. Adiknya perempuan. Kasus ini diharapkan menjadi pembelajaran bagi siapapun. Orang tua R pun telah pasrah, menyerahkan proses penanganan kasus ini kepada aparat penegak hukum. (bul)