Optimisme Mori Hanafi akan “Kakeknya Kopi”

Dompu (Suara NTB) – Calon Wakil Gubernur NTB, H. Mori Hanafi, SE, M.Comm, meyakini bahwa produk kopi asal NTB, khususnya Kopi Tambora, bisa memiliki nama besar yang mendunia. Pandangan itu disampaikannya saat bertemu dengan beberapa kelompok pengusaha mandiri kopi, di Desa Tambora, Pekat, Dompu, Selasa, 24 April 2018 lalu.

Para pengusaha tersebut, tergabung dalam Kelompok King Coffee. Kelompok usaha kopi yang sudah dimulai sejak tahun 2014 ini mengembangkan merk Ompu Coffee. Dalam Bahasa Indonesia, Ompu Coffe bisa diartikan sebagai “Kakek-nya Kopi”.

Iklan

Kelompok usaha King Coffee ini mengolah, mengemas dan menjual jenis kopi asli Tambora seperti kopi Robusta dan Luwak. “Saya sangat mendukung dan berjanji untuk membantu pengembangan pemasaran kopi Tambora sehingga bisa dikembangkan dan terkenal hingga ke mancanegara,” ujar Mori Hanafi.

Optimisme Mori Hanafi terhadap potensi Kopi Tambora, bukannya mengada-ada. Selain memiliki kekhasan, Kopi Tambora juga tentunya memiliki asosiasi dengan Gunung Tambora yang punya sisi historis yang legendaris. Tambora menjadi sebuah nama yang legendaris karena letusannya pada ratusan tahun lalu telah mengubah wajah dan sejarah dunia kita.

Ari Priono, pemilik brand vanbredo Tambora Coffee Dompu seperti dilansir Suara NTB beberapa waktu lalu mengatakan, kopi Tambora rata – rata jenis robusta, tapi memiliki cita rasa yang khas dibandingkan kopi daerah lain.

Bahkan, Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Triawan Munaf saat menghadiri puncak Festival Pesona Tambora (FPT), 11 April 2017 lalu, mengaku cukup terkesan dengan kopi Tambora yang disuguhkan di acara itu.

“Kepala Badan Ekonomi Kreatif bahkan beberapa kali mengungkapkan kopi Tambora yang nikmat dan itu bisa dikembangkan,” kata Ari Priono.

Mori Hanafi menilai, Kopi Tambora merepresentasikan satu dari sekian banyak komoditas lokal yang sebenarnya memiliki potensi untuk dikemas sedemikian rupa, dan ditampilkan di pasar dunia. Untuk itulah, dalam berbagai kesempatan, Mori selalu menyuarakan dukungan terhadap aneka komoditas yang tumbuh dan dikembangbiakkan di NTB untuk mendapatkan nilai tambah.

Strategi peningkatan nilai tambah ini sejatinya merupakan kelanjutan dari strategi yang menjadi kelanjutan dari proses peningkatan produksi komoditas yang dijalankan selama pemerintahan Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi.

Peningkatan produksi yang dilanjutkan dengan strategi peningkatan nilai tambah, bisa menjadikan NTB memiliki pusat-pusat ekonomi baru yang tidak lagi hanya menguntungkan segelintir elit. Dengan kata lain, model pertumbuhan ekonomi yang tercipta, tidak lagi hanya dinikmati oleh sebagian kecil elit di puncak piramida ekonomi NTB.

Mori meyakini, upaya pemerintah ini, harus dipadukan dengan terbangunnya kesadaran masyarakat NTB sendiri untuk mencintai produk lokal.

Melalui laman facebooknya beberapa waktu lalu, Mori menegaskan bahwa kampanye mencintai produk lokal sebenarnya sudah lama digalakkan oleh pemerintah pusat dan provinsi. Namun, kesadaran dari masyarakat sendirilah yang perlu ditingkatkan agar bisa membantu perputaran roda ekonomi di daerah.

“Sepanjang yang saya pantau, perlu dilakukan promosi lebih lanjut baik dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten sampai ke desa-desa mengenai perkembangan UMKM (Usaha Menengah, Kecil dan Mikro) dan daya saing produk lokal yang dimiliki,” ujarnya.

Di beberapa daerah yang telah ia lihat perkembangan produk lokalnya, Mori mengakui bahwa kualitas produk sebenarnya sudah sangat bagus.

“Mulai dari cara produksinya, rasanya, kemasannya bahkan sampai pemasarannya. Namun, Kebijakan promosi ini masih kurang membumi di Nusa Tenggara Barat ini, sehingga banyak produk lokal yang masih minder untuk bersaing dengan produk luar,” ujarnya.

Kondisi setali tiga uang ia rasakan dalam konteks pengembangan sentra UMKM yang ada. Sampai saat ini, Mori menilai masih banyak sentra UMKM yang belum diresmikan dan dibalut dengan kemasan sebagai salah satu tempat yang sangat baik untuk mengangkat perekonomian masyarakat.

Ia pun menyebutkan sejumlah contoh nyata. Misalnya, Sentra Tenun Desa Sade, Sentra Garam Desa Kedome, Sentra Gerabah di Banyumulek, Sentra Kopi di KLU, Sentra Pengolahan Susu Kuda di Sumbawa.

Sentra-sentra itu, menurut Mori adalah beberapa tempat yang akan menjadi role model pasangan Ahyar-Mori dalam membangun sentra-sentra bisnis bagi UMKM nantinya. “Kita akan membuat masyarakat NTB lebih bangga terlebih dahulu menggunakan produk lokal dibandingkan produk luar,” ujarnya. (tim)