Operator Sampah di KSB Protes Lima Bulan Gaji Belum Dibayar

Taliwang (Suara NTB) – Sekitar 28 orang operator tenaga lepas kendaraan sampah roda tiga di Sumbawa Barat, mengeluhkan belum dibayarkan gaji sejak bulan Januari lalu hingga saat ini. Padahal mereka selalu bekerja setiap hari untuk mengangkut sampah yang dihasilkan masyarakat ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) desa Batu Putih, Kecamatan Taliwang.

Hal tersebut sangat miris, dengan gaji yang tidak seberapa hanya Rp 400 ribu per bulannya dan saat ini tertunggak juga, menjadikan nasib keluarga mereka di rumah semakin tidak menentu.

Iklan

Salah seorang operator sampah di TPA Desa Baru Putih, A. Rahman, Kepada Suara NTB, Sabtu, 19 Mei 2018 mengatakan, kondisi ini (belum dibayarkan gajinya) sudah sering disuarakan kepada dinas terkait (Dinas Lingkungan Hidup) untuk bisa direalisasikan. Tetapi faktanya saat ini tidak kunjung terealisasi, dampak dari kondisi tersebut, untuk membuat dapur “mengepul” terpaksa melakukan pekerjaan sampingan dengan cara memungut sampah yang dibawa dari masyarakat untuk dijual kembali.

Hal ini harus dilakukan karena jika hanya mengandalkan gaji yang tidak kunjung ada kejelasan maka keluarganya tidak akan makan apa-apa. Apalagi saat ini (Bulan Ramadhan) biaya yang tidak terduga semakin menumpuk dengan pemasukan yang tidak jelas seperti ini membuat para operator berfikir ekstra.

“Kami tidak mengetahui secara pasti apa kendala yang dialami oleh DLH, sehingga gaji kami tertunggak. Tetapi kami sangat berharap gaji yang belum dibayarkan bisa terealisasi sebelum lebaran nanti,” harapnya.

Dia mengatakan, hampir semua tenaga operator yang bekerja di TPA ini belum ada yang menerima gaji. Tetapi sangat disayangkan, para agen PDPGR justru sudah menerima gaji lebih dulu. Hal ini membuat para operator geram, karena para agen ini dalam bekerja tidak berat seperti yang dilakukan para operator. Hanya sekedar pendataan, melaporkan hasil pekerjaan justru sudah menerima gaji selama dua bulan. Tetapi operator yang notabene bekerja setiap harinya justru belum juga diberikan hak-haknya dalam bekerja.

Kendati demikian, para operator ini belum sampai melakukan aksi ekstrem (mogok) kerja karena masih ada upaya untuk membicarakan masalah ini secara baik-baik. Jika tetap saja buntu, maka dengan terpaksa para operator akan mogok kerja.
“Kami masih menghargai dinas supaya bisa membuktikan janji untuk hak-hak kami. Jika tetap saja menemui jalan buntu, maka kami akan mogok kerja,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi saat ini kembali diperparah, dimana kendaraan tosa yang diberikan hanya sekali saja direparasi dan diganti oli. Padahal jika menghitung jarak tempuh dari dalam kota TPA sangat jauh dan minimal bisa dua kali ganti oli, supaya kendaraan yang digunakan bisa awet serta tidak rusak. Mirisnya lagi kondisinya saat ini, operator diminta untuk bisa mengganti sendiri oli motor tanpa gaji yang masih tertunggak.

Hal ini sangat disayangkan, jangankan untuk mengganti oli, uang untuk makan sehari-hari juga tidak ada kabarnya. “Kami saat ini diminta untuk bisa mengganti oli kendaraan yang ada di kami. Tetapi masalahnya uang untuk menggantinya kami dapat darimana, dari gaji kan tidak mungkin. Masa iya kami harus ngutang dulu supaya bisa memperbaiki kendaraan Pemerintah kan sangat lucu,” tandasnya. Untuk itu, pihaknya sangat berharap supaya hak mereka bisa dipenuhi oleh Pemerintah.

Menanggapi masalah itu, DLH masih belum memberikan komentar. Media juga sempat berusaha mencari kontak yang bisa dihubungi untuk memberikan klarifikasi terkait masalah ini. Hanya saja belum ada satupun yang mampu memberikan respon terkait persoalan tersebut. Bahkan Kabid Kebersihan pada dinas terkait, nomornya sudah tidak aktif lagi. Sementara kepala Dinas DLH sampai dengan saat ini belum kembali ke KSB masih melaksanakan ibadah umroh bersama Bupati. (ils)