Operasi Pekat 2019, Polisi Jaring Prostitusi Pesan Antar

Tersangka kasus judi, prostitusi dan miras yang terjaring Operasi Pekat 2019. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Operasi Pekat 2019 Polres Mataram menjaring bisnis esek-esek di kawasan perkotaan dan pinggiran Kota Mataram. Modusnya, mucikari menjembatani transaksi korban prostitusi dengan lelaki hidung belang. Imbalannya, selipan duit kamar.

Kapolres Mataram AKBP Saiful Alam menyebutkan, selama sepekan terakhir pihaknya menangkap sembilan orang yang diduga sebagai mucikari yang mendapatkan keuntungan. Mereka ini mendapatkan antara Rp100 ribu sampai Rp150 ribu dari sekali transaksi jual beli syahwat.

Iklan

“Sembilan kasus yang berhasil kita ungkap. Barang buktinya Rp6,2 juta yang diduga hasil transaksi,” ungkapnya Selasa, 1 Mei 2019 lalu. Barang bukti lainnya sprei bekas dipakai korban berhubungan intim. Dia merinci tiga kasus di Narmada dan dua kasus di Lingsar Lombok Barat; kemudian tiga kasus di Cakranegara, Mataram serta satu kasus lainnya di Pagutan, Mataram.

“Mucikarinya ini rata-rata dari swasta. Modusnya mereka menerima telepon dari pemesan lalu mengirimkan wanita korban prostitusi,” jelasnya. Selanjutnya, operasi pekat tersebut juga menangkap 35 tersangka kasus perdagangan miras tanpa izin dengan barang bukti 340 liter miras tradisional, dan 294 botol bir.

Kasus lainnya yakni perjudian dengan delapan tersangka. mereka bertaruh duit dalam permainan kartu. Bukti yang disita antara lain uang tunai Rp16,35 juta dan 11 set kartu remi dan domino.

“Totalnya ada 64 kasus penyakit masyarakat yang kita ungkap. Ini untuk menjaga agar umat muslim yang menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dapat berjalan tenang dan lancar,” tandas Alam.

Sementara Polsek Narmada mengamankan 13 sepeda motor yang diduga bodong. Motor tersebut dijual pelaku curanmor melalui dalam jaringan dan kurir. Motor tidak diketahui asal usulnya. Motor sudah beberapa kali berpindah tangan. (why)