Omzet Pedagang di Pantai Ampenan Mulai Naik

Pengunjung mulai ramai menikmati kuliner di pantai Ampenan. Para pedagang yang membuka lapak di sana mengaku omzetnya perlahan naik.(Suara NTB/bay)

Peningkatan kunjungan di beberapa destinasi pariwisata di Kota Mataram mulai terlihat. Khususnya sejak Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram membuka kembali seluruh destinasi dan usaha pariwisata yang ada di ibu kota provinsi tersebut sejak Agustus lalu.

Hal  tersebut dirasakan salah satunya oleh pedagang di Pantai Ampenan, Widi Astuti. Sempat menutup usaha selama 2 bulan karena pandemi virus corona (Covid-19), perempuan yang telah berdagang selama lima tahun di Pantai Ampenan tersebut mulai membuka kembali usahanya.

Iklan

“Hampir dua bulan saya tutup sama sekali, sepi. Sekarang sudah mulai ada yang datang, alhamdulillah,” ujar Widi kepada Suara NTB, Minggu, 6 September 2020. Kendati demikian, dirinya tetap harus mengurangi barang yang dijual karena tingkat kunjungan belum sepenuhnya kembali normal.

“Sekarang ini masih sedang. Tidak seramai dulu, tapi tidak terlalu sepi juga,” jelasnya. Omzet usahanya juga saat ini mengalami penurunan hingga 50-75 persen. Namun dirinya menganggap penurunan tersebut wajar terjadi mengingat situasi pandemi saat ini.

“Kalau kita jual begini hampir Rp200 ribu (keuntungan kotor) per hari, Rp500 kalau malam minggu,” ujar Widi. Padahal, pada masa sebelum pandemi varian dagangan yang ditawarkannya bisa lebih beragam dan mendatangkan keuntungan lebih besar. “Kalau dulu saya jualan kerang, kepiting itu bisa sampai berjutaan. Sekarang tidak sampai, karena kita hanya jualan sate dan pelecing begini ini,” sambungnya.

Pedangan lainnya di Pantai Ampenan, Diniah, juga mengalami hal serupa. Kendati sempat menutup usaha, dirinya bersyukur Pantai Ampenan mulai ramai dikunjungi. “Sekarang untunglah sudah ramai. Kemarin awal-awal kita buka juga, pembelinya yang tidak ada,” ujarnya.

Kendati demikian, penurunan omzet juga dialami pihaknya lantaran jumlah pengunjung belum benar-benar kembali normal. “Sekarang sampai setengah 10 (21.30 Wita) saja juga dikasi (membuka usaha). Kalau dulu kita bisa sampai jam 01.00 Wita,” ujar Diniah.

Menurutnya, pendeknya waktu operasional tersebut juga mempengaruhi pendapatan. Mengingat setiap harinya di masa pandemi dirinya hanya berjualan selama 6 jam, yaitu sejak pukul 16.00 Wita hingga 22.00 Wita. “Sudah 4 bulan kita begini, tidak seperti dulu kita jualan. Dulu enak kita jualan, bisa sampai malam,” jelasnya.

Sebelumnya Pemkot Mataram resmi membuka kembali seluruh destinasi dan usaha wisata di Kota Mataram melalui Surat Edaran (SE) Walikota Mataram Nomor 443/250/Dispar/VIII/2020 yang dikeluarkan Agustus Lalu lalu. Pembukaan tersebut dilakukan untuk  menyambut tatanan baru. Di mana pandemi virus corona (Covid-19) telah menjadi bagian dari hidup masyarakat, sehingga protokol kesehatan harus terus diterapkan secara sadar dan menjadi kebiasaan.

“Itu dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata Kota Mataram dalam era new normal (tatanan baru),” ujar Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Mataram, I Nyoman Suwandiasa.

Kendati diizinkan buka secara resmi, masing-masing destinasi dan usaha pariwisata diharapkan tetap memperhatikan penerapan protokol Covid-19. Terutama untuk mencegah penyebaran yang lebih meluas di wilayah Kota Mataram. (bay)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional