Kantongi Dua Tiket PON, Pecatur NTB Catat Sejarah Baru

Salah seorang atlet NTB, Edison (kiri) dan Miftahurahman (tengah) tengah bertanding di Pra-PON Catur di  Hotel Grand Madani Mataram, 6-9 November 2019. (Suara NTB/fan)

Mataram (Suara NTB) – Pecatur NTB berhasil meraih dua tiket mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua tahun 2020. Dua tiket itu diraih Miftahurahman di kelas perorangan putra dan tim beregu putra yang diperkuat, Edison, Muhammad Nuh, Wahyullah dan Ardiansyah.

Ketua Umum Pengprov Percasi NTB, Abdullah Djaiz kepada Suara NTB,  di Mataram Sabtu, 9 November 2019, mengatakan dua tiket PON NTB diraih oleh tim NTB setelah menjuarai Pra-PON Catur Wilayah Timur-Tengah Indonesia di Hotel Grand Madani Mataram, 6-9 November 2019. Hasil tersebut merupakan sejarah baru bagi tim Pra-PON catur NTB yang telah sukses merebut dua medali emas di kelas perorangan dan kelas tim.

“Tim Catur NTB meraih dua tiket PON di nomor perorangan dan di nomor tim putra. Ini sejarah bagi NTB karena baru kali ini NTB bisa meraih dua emas. Dimana  Pra-PON tahun 2015 atlet NTB gagal,” ucap Abdullah seraya menambahkan bahwa dua tiket PON itu diraih NTB setelah menjuarai nomor perorangan putra, dan menjuarai nomor tim putra.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Pra-PON Wilayah Timur-Tengah Indonesia yang berlangsung selama empat hari di Mataram melibatkan enam provinsi, yakni NTB, NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua  dan Papua Barat.

Baca juga:  Atlet NTB Persembahkan Medali Emas untuk Indonesia

Pengurus Besar (PB) Percasi menyiapkan dua tiket untuk peserta yang keluar sebagai juara, selanjutnya PB Pertina juga memberikan kesempatan bagi  atlet yang meraih juara dua dan tiga untuk mengikuti babak play off di Pra-PON di Sumatera Utara (Sumut), 22 November 2019.

Hasilnya kontingen NTB berhasil meraih dua tiket PON setelah menjuarai kelas perorangan putra dan menjuarai kelas  tim putra. Sementara peringkat dua diraih Maluku dan NTT meraih juara tiga. “Maluku dan NTT akan mengikuti babak play off di Pra-PON yang akan di gelar Sumut, 22 November 2019,” jelasnya.

Menurut Abdullah, prestasi yang diraih oleh kontingen Pra-PON NTB itu cukup mengharukan. Pasalnya meski dengan keterbatasan anggaran dan minimnya dukungan dana dari Pemprov NTB namun pecatur  NTB mampu mempersembahkan yang terbaik untuk provinsi NTB. “Prestasi ini merupakan kali  pertamanya NTB meraih dua tiket mengikuti PON,” jelasnya.

“Salut banget atlet catur NTB yang  ikhlas berjuang meski dalam kondisi miskin. Ternyata kita belajar dari ketiadaan pelari tercepat kita Lalu Zohri dalam menatap keajaiban masa depan. Atlet catur kita baru bisa mencatatkan diri setelah berjuang cukup lama hingga wajah keriput mereka terlihat, uban di kepala mulai tampak. Tak ada pemain muda seperti Lalu Zohri,  tetapi mereka berusia di atas 30 tahun hingga 50 tahun,” terangnya.

Baca juga:  Pebulutangkis asal Lotim Persembahkan Emas SEA Games untuk Indonesia

Menurut Abdullah catatan emas ini harus menjadi cambuk bagi atlet bahwa di usia muda dan tua bukan menjadi ukuran,  tetapi semangat juang tanpa kenal menyerah harus menjadi pemacu cita-cita.

“Kita berkaca dari mereka semoga yang muda siap melanjutkan prestasi itu hingga kelak berhasil meraih yang terbaik. Untaian kata indah buat mereka, terimasih buat catur,  terimasih buat NTB yang kita cintai. Ukiran emas ini akan tetap tercatat sepanjang masa dan tak akan pernah hilang. Kalian jadi semangat juang bagi pejuang catur selanjutnya. Alhamdulillah hanya kepada Allah kita bersyukur,  semoga kita suka catur tapi tidak melupakan sujud kepada yang menciptakan otak kita,” harapnya. (fan)