Cari Bibit Atlet Disabilitas, Menpora Harapkan Peran Stakeholder

Kabid Olahraga Disabilitas Kemenpora, Dr. Ismun Dwi Karyatingsih saat memberikan sambutan di acara Pelatihan Pelatih Disabilitas di Mataram belum lama ini(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Keikutsertaan siswa disabilitas dalam menggeluti  olahraga berprestasi dinilai masih kurang banyak, padahal ada ribuan sekolah penyandang disabilitas di Indonesia. Kemenpora guru sekolah luar biasa dan pemerhati olahraga disabilitas di NTB seperti National Paralympic Comitte (NPC) dan Special Olympics Indonesia (SOIna)  diharapkan bisa berperan maksimal mencari bibit-bibit atlet disabilitas.

Demikian disampaikan Kabid Olahraga Disabilitas Kemenpora Dr. Ismun Dwi Karyatingsih  kepada wartawan di acara Pelatihan Pelatih Disabilitas yang di gelar di Mataram belum lama ini. Dikatakannya kemenpora memiliki program pelatihan untuk para penyandang disabilitas. Program ini menyasar guru sekolah disabilitas, NPC, dan SOIna. Tujuannya agar mereka bisa mencari bibit-bibit atlet disabilitas.

”Kami yakin di sekolah khusus ini banyak anak yang memiliki bakat menjadi atlet disabilitas. Disinilah perlu peran serta dan kepekaan stakeholder,” ujarnya.

Menurut Ismun, saat ini di seluruh Indonesia ada ribuan sekolah bagi disabilitas. Di NTB saja  terdapat sekitar 41 sekolah disabilitas. Dari jumlah sekolah

tersebut siswanya mencapai ribuan. ”Namun sekarang masih sedikit pelajar disabilitas yang menjadi atlet,” katanya.

Penyebab masih minimnya atlet disabilitas ini karena event olahraga disabilitas masih sangat minim. Dengan minimnya event ini, Kemenpora berharap dari pelatihan yang dilakukan bisa membuka wawasan guru dan pemerhati disabilitas.

Dari laporan yang diterimanya, NPC NTB tetap menggelar event untuk atlet disabilitas melalui bantuan pendanaan dari Dispora NTB. Hanya saja, pemerintah juga diharapkan memberi bantuan dana untuk pembinaan atlet disabilitas.

”Jadi tidak hanya support event. Tapi pembinaan juga harus didukung misalnya dengan rutin menggelar festival olahraga disabilitas,” tutur wanita berhijab ini.

Untuk skala nasional sendiri, pemerintah pusat sudah mengagendakan event rutin yakni pekan paralimpik pelajar nasional (peparpenas). Peparpenas digelar bersamaan dengan Popnas (pekan olahraga pelajar nasional).

”Di kementerian memang kesulitan untuk menggelar single event. Karena peserta berada di seluruh penjuru Indonesia. Maka ajang peparpenas dan festival bisa menjadi solusi,” pungkasnya. (fan)