‘’Belanjakan’’, Permainan “Gulat” ala Warga Sasak

Permainan tradisional belanjakan, permainan gulat alat warga Sasak Lotim sebagai salah satu daya tarik wisata budaya. (Suara NTB/rus)

Belanjakan pada gelaran Festival Masbagik turut meramaikan kegiatan Pekan Pesona Gumi Selaparang. Salah satu permainan tradisional tersebut untuk kali ke empat digelar setelah 25 tahun lamanya hilang.

KETUA Panitia Festival Masbagik, Mirsoan kepada Suara NTB, Kamis, 29 Agustus 2019 menuturkan permainan tradisional adu ketangkasan ini dulu dilakukan saat usai panen raya. Permainan ini sebagai hiburan para pemuda dengan saling undang untuk beradu ketangkasan.

Miing sapaan akrab Mirsoan, menjelaskan dalam belanjakan tidak sekadar adu ketangkasan dan saling menunjukkan keperkasaan seorang laki-laki akan tetapi semua peserta saling menjunjung tinggi persaudaraan antar pemuda dan antar kampung.

Melihat dasar gerakan yang dilakukan para pemain, diakui Miing belanjakan mirip sekali dengan gulat orang Jepang. Akan tetapi, bedanya dalam belanjakan, sesuai dengan namanya permainan ini mengutamakan lanjakan atau tendangan kaki. Ada juga bantingan dan mengunci gerakan lawan.

Biasanya kegiatan belanjakan digelar persawahan atau di pinggir sungai. Kegiatan pada beberapa tahun terakhir ini dikemas dalam bentuk permainan dan ditonton banyak orang. Dulunya, permainan belanjakan ini sering berujung ribut antar kampung, karena itulah kegiatan tersebut terpaksa dihentikan. “Tahun 1995 terakhir digelar,” tuturnya.

Permainan belanjakan ala masyarakat dulu digelar di beberapa kampung. Itulah yang sering ribut. Menyikapi hal itu, tim kreatif dari panitia mencoba mengemasnya dengan dibuatkan sejumlah peraturan mengikat, sehingga selama empat tahun terakhir ini tidak pernah terjadi keributan pasca-permainan belanjakan.

“Pertama kali kita gelar 2016 lalu dan alhamdulillah tidak pernah ribut lagi, semua berakhir dengan baik,” ucap Miing.

Dahulu, tambahnya, pelaksanaannya dinilai masih banyak belum profesional. Terjadi adu saling pukul tanpa aturan, sehingga berujung keributan. Namun, sekarang ini, sudah diupayakan dengan menggunakan standar asli belanjakan dan semua peserta sangat menerima dan bahkan terjalin persaudaraan yang cukup kuat antarpeserta pascapermainan. Permainan yang berlangsung di lapangan Masbagik diisebut dalam sehari terjadi permainan tujuh pasang.

Miing  yang juga ketua Komunitas Lambur Masbagik ini mengatakan, membangkitkan kembali belanjakan, karena sudah lama sekali terbuang. Sebagai khasanah budaya dan tradisi masyarakat Sasak dinilai perlu dilestarikan. Dalam permainan belanjakan sebenarnya tidak mengenal istilah saling dendam dan saling membenci pasca pertandingan. Sebaliknya, terbangun hubungan persaudaran yang cukup harmonis antar sesama.

Belanjakan disebut menjadi salah satu daya tarik bagi kunjungan wisata. Selain peresean, Lotim khususnya memiliki permainan olahraga yang unik. Permainan trandisional adu fisik yang melibatkan jawara-jawara hebat.  “Kita ingin angkat kembali belanjakan ini agar lebih banyak dikenal orang di luar sana,” harapnya. (rus)