Zohri Belum Puas dengan 10 Detik

Lalu Muhammad Zohri (ke dua dari kiri) didampingi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga NTB, Hj. Husnanidiaty Nurdin (paling kanan) saat silaturahmi ke Redaksi Harian Suara NTB, Jumat, 14 Juni 2019 diterima Penanggung Jawab Suara NTB, H.Agus Talino (paling kiri). (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Atlet lari kebanggaan NTB, Lalu Muhammad Zohri, belum ingin berhenti membuat kejutan demi kejutan. Setelah memecahkan serangkaian rekor demi rekor, kini ia bertekad mencatatkan waktu terbaik, yaitu di bawah 10 detik. Untuk mencapai catatan ini, ia kini memacu latihannya.

Keinginan itu disampaikan Zohri saat silaturahmi ke Redaksi Harian Suara NTB, Jumat, 14 Juni 2019. Zohri hadir bersama Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga NTB, Ir. Hj. Husnanidiaty Nurdin, MM. Zohri diterima dan berbincang ringan dengan Penanggung Jawab Harian Suara NTB, H. Agus Talino.

Dalam kesempatan itu, Zohri mengutarakan bahwa kini ia telah resmi menjadi mahasiswa Jurusan Olahraga, di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Mataram. Langkah Zohri melanjutkan pendidikan di IKIP ini merupakan bagian dari cita-citanya, untuk menjadi guru olahraga jika kelak ia sudah pensiun dari lintasan lari.

Di lintasan lari, Zohri mengaku bersyukur telah mencapai sejumlah target. Ia berhasil lolos olimpiade setelah mencatatkan waktu 10,03 detik di Seiko Golden Grand Prix 2019, Osaka, Jepang, belum lama ini.

Capaiannya ini membuat rasa syukurnya bertambah. Selain itu, keikutsertaan di ajang tersebut juga melambungkan rasa percaya diri dan motivasinya. Ia kini telah masuk dalam peta persaingan para atlet lari terbaik dunia. Tak tanggung-tanggung, lawannya di Jepang kala itu adalah juara dunia lari 100 meter, Justin Gatlin.

Baca juga:  Faktor Psikologis Pengaruhi Penampilan Zohri

‘’Saya bersyukur sekali bisa tampil bersama juara-juara dunia. Dan itu juga membuat saya bersemangat dan termotivasi,’’ ujarnya.

Sedianya, Zohri juga akan turun dalam nomor lari 100 meter di kejuaraan atletik Asian Grand Prix (GP) 2019 di Chong Qing China, awal Juni ini. Namun, ia terpaksa membatalkan niatnya karena mengalami cidera lutut.

‘’Karena lutut saya agak sedikit sakit, dan kejuaraan ke depannya masih banyak juga, makanya nggak diizinkan turun sama ibu (pelatih),’’ ujar Zohri.

Meski absen di Cina, Zohri menegaskan sudah punya agenda terdekat. September mendatang, ia akan saling adu cepat dengan para pelari terbaik dunia. Kali ini, di lintasan lari kejuaran dunia atletik di Doha, Qatar. Di sana, Zohri sudah membidik target baru. “Semoga bisa lari di bawah 10 (detik),” ujarnya mantap.

Keinginan untuk membidik rekor baru ini tentunya ia barengi dengan perbaikan di berbagai aspek penampilannya. Ia misalnya, telah berhasil memecahkan salah satu kelemahannya, yaitu pada teknik start. Seperti diketahui, dalam beberapa penampilan awalnya di pentas dunia, Zohri kerap keteteran di start sehingga ia kerap tertinggal lebih dulu.

Baca juga:  Tampil di Kejuaraan Dunia, Zohri Tidak Dibebani Target

Kini, tantangan ini sudah berhasil ia lampaui. “Alhamdulillah kemarin, start block-nya sudah bagus sekali, harus dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Semoga di kejuaraan dunia bisa memperbaiki catatan waktu dan bisa lebih baik lagi,” ujarnya.

Selain memperbaiki teknik start, ia juga harus bisa mempertahankan lajunya di 30 meter akhir. ‘’Ke depannya, untuk 30 meter terakhir kayak abis tenaga. Itu yang masih harus diperbaiki lagi,’’ tegasnya.

Dengan berbagai pencapaian yang sudah diraihnya, Zohri kini sudah menjadi selebritas. Hal ini tentu saja melahirkan banyak perubahan terhadap cara orang memperlakukan dirinya. Jika dulu tidak ada yang menyapanya saat berada di keramaian, kini tidak lagi demikian.

“Dulu kan walaupun jalan di mal, walaupun banyak orang, nggak ada yang lihat. Tapi sekarang ada juga yang minta foto,” ujarnya. Menjadi publik figur seperti saat ini, Zohri mau tidak mau harus bersikap terbuka terhadap siapapun. “Ya, diladenin,” ujarnya saat ditanyai sikapnya ketika berhadapan dengan situasi demikian. (aan)