Sahlan, Angkat Lombok di Level Dunia Lewat Ring Tinju

Giri Menang (Suara NTB) – Nama daerah bisa terkenal melalui potensinya dan kekayaan alamnya. Ada pariwisata, budaya hingga perekonomian. Namun bagi Sahlan, memperkenalkan Lombok ia lakukan melalui olahraga yang membesarkan namanya, yakni tinju.

Sebagai salah satu olahraga ekstrem, tinju mungkin digemari oleh sedikit orang. Namun siapa sangka peluang menang, menjadi terkenal dan dibayar mahal justru setimpal dengan olah raga “saling tonjok” ini.

Sahlan, 25 tahun, pria kelahiran Peseng, Desa Taman Ayung, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, adalah salah satu atlet beprestasi di dunia tinju. Tinju telah membesarkan namanya karena telah memenang berbagai Kejuaraan Nasional maupun dunia, di dalam negeri dan mancanegara. Di luar negeri, ia pernah bertinju bertanding di Singapura, Malaysia dan Australia.

“Saya mulai masuk tinju sejak usia 15 tahun. Berkat pengaruh orang yang suka menonton tinju, kelas 6 SD saya sudah menyukai Mike Tyson,” kata Sahlan.

Baca juga:  Kadispora NTB Minta Zohri Kembali ke Lombok

Awal mula masuk ring tinju, kisah Sahlan, dimulai dari perjalanannya sebagai buruh kasar. Ia menjalani profesi serabutan selama di Bali. Oleh rekan sesama Lombok yang seorang sopir taksi di Bali, ia diperkenalkan dengan pemilik sasana di sana. Hingga ia pun mulai berlatih dan bertanding.

Tak di sangka, dalam perjalanannya, Sahlan bertemu dan berlatih bersama dengan petinju andalan Indonesia di masanya, Chris John. Dari sanalah karir tinjunya mulai berkembang hingga menjadikannya pemegang Peringkat Pertama Kejurnas Kelas Welter 66,6 kg. Namun karena jarang bertanding, peringkatnya pun turun 1 tingkat.

“Dengan Chris John, saya latihan beberapa kali,” imbuhnya menjadikan jejak Chris John sebagai motivasinya.

Baca juga:  Kurang Diapresiasi, Pelatih - Atlet NTB Juara Nasional dan Dunia Mengadu ke Gubernur

Di event tinju, Sahlan tak pernah sekalipun menjejekkan karir di ajang amatir. Ia langsung menjajal ajang Profesional. Berkat prestasinya, ia dikenal sebagai petinju Lombok di luar negeri. “Soal target internasional, saya berharap bisa sampai di level Asia dan dunia,” harapnya.

Untuk mewujudkan cita-cita itu, ia memandang perlu bagi pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten untuk menggelar event Kejurnas Tinju. Event ini diakuinya sangat mendukung terutama menambah jam terbang bertinju sekaligus memberi kesempatan bagi generasi muda – petinju asal NTB.

Event tinju di Indonesia agak jarang, padahal potensi bibit berbakat kita banyak terpendam. Kalau pulang kampung, saya melatih beberapa anak muda dan mereka terbukti cepat bisa, gampang juga diatur,” pungkasnya. (ari)