Dari Dini-Dhita, Sepasang Medali Emas untuk Pak Yani

Mataram (suarantb.com) – Pasangan atlet voli pantai Putri NTB, Putu Dini Jasita Utami dan Dhita Juliana, tampil dengan mengenakan kaos bergambar wajah seseorang usai meraih medali emas di PON Jabar 2016, Rabu, 21 September 2016. Pemilik wajah yang tengah tersenyum lepas di kaos itu tak lain adalah Nur Ahmad Yani, seorang tokoh yang berjasa besar untuk memajukan cabor voli pantai di daerah ini.

Sebagai atlet yang masih berusia 20-an, Dini dan Dhita mungkin tidak cukup dekat dan mengenal Nur Ahmad Yani. Namun, tidak demikian dengan Agus Salim, pelatih yang memoles Dini dan Dhita menjadi seperti sekarang.

Kepada suarantb.com, Agus mengisahkan bahwa jika dirunut ke belakang, sukses yang diraih Dini dan Dhita secara tidak langsung juga merupakan buah dari apa yang telah ditanam oleh Pak Yani puluhan tahun silam.

Agus menerangkan, dirinya bersama Anjas Asmara, Putu Timi YR merupakan atlet-atlet yang lahir berkat dukungan dan fasilitas yang disediakan secara sukarela oleh Pak Yani dan keluarganya. Saat itu, keluarga Pak Yani merupakan pengelola Pondok Senggigi. Disanalah mereka mengasah bakat dan kemampuan.

Berkat dukungan itu, berbagai prestasi untuk NTB bisa diraih di cabor voli pantai. Putu Timi meraih emas PON dan SEA Games 1997, Olimpiade Atlanta 1996 dan berhasil duduk di rangking 13 dunia.

Agus Salim juga meraih emas PON dan SEA Games 1997 serta meraih perak pada Asian Games 1998 dan 2002. Anjas Asmara meraih emas PON 1998 dan perunggu di Asian Games 1998. Sementara, Dini dan Dhita meraih emas PON 2012, perak pada SEA Games 2011 dan emas di Kejuaraan Dunia Negara Islam ISG 2013 dan kini emas PON 2016.

“Dulu tidak ada yang menyangka bahwa NTB punya atlet voli pantai. Bahkan sampai bisa ikut Kejurnas. Itu pun dibiayai mereka, pokoknya harus bisa ikut Kejurnas ada atau tidak biaya dari pemda,” tutur Agus.

Baca juga:  Menengok Hijaunya Lapangan Bola di Desa Lanta, Kabupaten Bima

Karena itulah, untuk mengenang sosok yang baru saja meninggal dunia pada 4 Agustus 2016 itu, Dini-Dhita dan Agus Salim bersama para atlet dan ofisial tim mendedikasikan sukses ini untuk Pak Yani.

“Kita memang rencanakan mau dedicate untuk beliau emas itu,” ujar Agus Salim. Menurut Agus Salim, rangkaian prestasi demi prestasi yang telah dibuat oleh para atlet voli pantai sejak generasinya hingga Dini-Dhita memang buah dari pengorbanan Yani dan keluarga.

Agus menilai, sangat penting bagi generasi atlet muda voli pantai di NTB untuk mengenang sosok Yani. Bukan sekadar untuk romantisme, melainkan untuk meniru dedikasi dan cara orang-orang seperti mereka menjalani hidup.

Inspirasi Juara

Sebagai mantan atlet yang pernah merasakan puncak prestasi, Agus menilai seorang atlet tidak bisa hebat tanpa didukung dengan perilaku kesehariannya. Seorang juara, menurutnya juga harus menjadi juara dalam kehidupan sehari-hari. Pengorbanan besar dari Yani dan keluarganya, menurut Agus adalah bukti dedikasi dalam kepribadiannya. Dan dedikasi serupa juga harus diterapkan oleh para atlet muda yang saat ini sedang meniti karirnya.

Agus mencontohkan, Dini dan Dhita bisa meraih berbagai prestasi karena mereka memang menerapkan dedikasi seorang juara dalam kesehariannya. Saat berlatih, Dini dan Dhita tidak pernah mengurangi porsi latihan meski tanpa pengawasan pelatih. Bobot latihan justru seringkali mereka tambah sendiri tanpa harus dipelototi pelatih.

Perilaku berbeda seringkali ditemukan Agus dalam cara berlatih atlet-atlet lainnya. Mereka, terkadang mengurangi bobot latihan saat pelatih sedang tidak mengawasi mereka. Padahal, kepatuhan terhadap bobot latihan sangat diperlukan untuk memaksimalkan proses penggemblengan mereka.

Melalui sosok Yani, Agus berharap ia bisa mengenalkan sejarah, sekaligus memberikan pesan khusus kepada para atlet muda untuk terus mengembangkan kepribadian seorang juara. “Sehingga anak-anak ini bisa termotivasi dan bermental juara. Atlet itu tidak sekedar bermain voli dan juara. Tapi juga juara di kehidupan sehari-hari. Contohnya, respek sama hal-hal kecil di sekitar kita. Penting bagi mereka untuk belajar dari keikhlasan Pak Yani. Seperti saya, Timi, Anjas, dan berbagai atlet lain,” ujar Agus.

Baca juga:  Rawan Penyelewengan Anggaran, Pejabat Publik Diminta Mundur dari Kepengurusan Inti KONI

Agus menegaskan, akan tiba masanya saat seorang atlet membutuhkan kepribadian juara untuk meraih prestasi tertinggi. Masa-masa sulit seorang atlet adalah batu ujian yang kerap menghadang mereka. Sebab, kemampuan teknis saja belum cukup untuk menghasilkan atlet berprestasi.

Tekanan penonton kubu lawan, keputusan wasit di lapangan yang merugikan, caci maki orang lain hingga hubungan yang bermasalah dengan pacar adalah banyak faktor yang bisa memengaruhi prestasi seorang atlet. Tanpa adanya kemampuan menangani problem-problem tersebut, seorang atlet bisa saja anjlok prestasinya.

“Menilai hal-hal kecil itu penting, untuk menjadi motivasi menumbuhkan mental juara. Setiap langkah, attitude, tindakan, ucapan, adalah sesuatu yang harus dibentuk dan dijaga untuk membuktikan bahwa kamu layak juara,” tegasnya.
Agus mengaku, selama menjadi pelatih yang menggembleng Dini dan Dhita, ia sudah bisa mengetahui kapan atletnya termotivasi, kapan mereka tertekan, kapan mereka merasa sedih ataupun senang. Dan keduanya, menurut Agus juga telah memahami cara untuk keluar dari persoalan-persoalan semacam itu.
Mengingat Dini dan Dhita sudah tidak bisa lagi tampil di PON berikutnya, Agus berharap para atlet voli pantai NTB seperti duet Danang-Tio, Desi-Lysa hingga Edy-Wendy bisa meraih pencapaian serupa.

Untuk mengasah mereka, Agus mengaku akan menambal sejumlah kekurangan yang ia amati selama mereka tidak berada di bawah pelatihannya. “Saya mau mulai dari awal. Kemarin cuma sebulan saya full time sama mereka. Saya menemukan banyak hal yang belum berhasil dibentuk. Padahal itu hal penting yang perlu disiapkan,” ujar Agus. (aan)