Olah Tuak Manis, Dua Siswa MAN 2 Mataram Raih Beasiswa ke Jepang

Prestasi Aldila Rizki Batari Nasution dan Nandini Rohmi menunjukkan air tuak yang sudah diolah dan membuat mereka mendapatkan beasiswa ke Jepang dari Pemprov NTB.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Aldila Rizki Batari Nasution dan Nandini Rohmi berhasil meraih prestasi gemilang di ajang Stipark penulisan esai yang diselenggarakan oleh Pemprov NTB dan kegiatan yang sama di Universitas Sahid (Unsahid) Jakarta.

Keduanya merupakan jebolan salah satu organisasi ekstrakurikuler di MAN 2 Mataram, yaitu Karya Ilmiah Remaja (KIR). Di bawah besutan Verweny Rochcy Maryati, M.Pd.Cs. Dengan prestasi ini, ekstrakurikuler KIR mulai menunjukkan eksistensinya.

Esai ini mengantarkan keduanya mendapat beasiswa kuliah ke Jepang dari Pemprov NTB. Dengan makalah yang sama, mereka mempresentasikan makalah ini di tingkat nasional, tepatnya di Unsahid Jakarta. Di Unsahid keduanya meraih juara 2 dan juara 1 favorit bersaing dengan SMA, SMK, dan Madrasah terbaik se-Indonesia.

Kepala MAN 2 Mataram, H. Lalu Syauki menjelaskan Lala dan Omy, demikian mereka kerap dipanggil, memang langganan mengikuti ajang serupa. Beberapa prestasi telah diraih, seperti juara 2 lomba menulis esai tingkat provinsi yang diadakan oleh Museum Provinsi NTB, Juara 3 lomba karya tulis ilmiah se-Pulau Lombok yang diadakan oleh MAN IC Lombok Timur, Juara 3 dalam rangka bulan bahasa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNW Mataram tingkat Provinsi NTB, lomba cerpen, lomba membuat sinopsis buku cerita, dan lomba bergengsi lainnya tingkat nasional.

Esai yang dilombakan kali ini tentang olahan pangan, yakni penelitian tentang Nata de Waren. Kedua siswi ini unggul dalam semua kategori penilaian yaitu makalah, presentasi, hasil penelitian, dan tanya jawab. Penelitian dengan bahan baku utamanya tuak manis atau air nira ini tergolong masih baru. Biasanya nata dibuat dari air kelapa.

Disebutkan, alasan penggunaan air nira sebagai bahan penelitian adalah untuk memanfaatkan tumbuhan berbasis kearifan lokal yang produksinya melimpah. Jika tidak diolah dengan baik, tuak ini akan cepat rusak. Paling-paling oleh petaninya hanya mampu diolah menjadi gula merah. Itupun memakan waktu yang cukup lama dan air asli dari nira ini hanya mampu terjual dengan harga Rp5 ribu per botol.

Sementara jika diolah menjadi nata dan dikemas menarik hasil penjualannya bisa berkali lipat. Alasan lain penelitian ini adalah untuk membantu petani nira meningkatkan penghasilannya. Pohon aren (Arenga Pinata) merupakan salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan dan dijadikan sumber mata pencaharian oleh sebagian besar masyarakat Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat.

Bagian aren yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat tersebut adalah air nira yang disadap dari tandan bunganya. Selama ini air nira aren dijual sebagai minuman tradisional yang disebut sebagai tuak manis atau diolah menjadi gula aren. Proses pengolahan yang masih sederhana dan tradisional menyebabkan nilai ekonomi dari bahan tersebut tergolong rendah.

Salah satu solusi untuk meningkatkan nilai ekonomi adalah dengan mengolahnya menjadi Nata de Waren. Olahan nira aren menjadi Nata de Waren tersebut menjadikannya produk yang bernilai ekonomi lebih tinggi, tahan lebih lama dan secara tidak langsung akan meningkatkan pendapatan para petaninya.

Bahan lain yang digunakan dalam eksperimen pembuatan Nata de Waren ini adalah ekstrak kacang hijau, cuka, starter nata/biakan (acetobacter xylinum), PH indikator, kertas koran, karet gelang, alkohol 70 persen dan es batu. Sedangkan alat-alat yang digunakan terdiri atas gelas kimia, kasa, pembakar bunsen, saringan dan kain kasa, spiritus, pengaduk kaca, tisyu, neraca atau timbangan digital dan gelas ukur.

Pada produksi Nata de Coco dari air kelapa umumnya menggunakan gula pasir sebagai sumber energi. Sedangkan air nira yang rasanya manis dan mengandung gula cukup tinggi tidak ditambahkan, kecuali air nira yang sudah mengalami proses fermentasi selama 10-48 jam memerlukan tambahan gula. Karena selama proses fermentasi yang dilakukan oleh mikroorganisme menyebabkan kandungan gula menurun drastis, sehingga rasa manis dari aren menjadi asam.

Bahan baku lainnya adalah ekstrak kacang hijau yang dipastikan lebih ramah lingkungan karena merupakan bahan organik, tidak menimbulkan residu berbahaya, mudah dibuat dan diperoleh. Di samping itu telah terbukti menghasilkan nata yang berkualitas. Penggunaan ekstrak kacang hijau juga sebagai pengganti pupuk ZA yang biasa digunakan pada Nata de Coco (air kelapa).

“Penelitian tentang pengolahan nira menjadi produk fermentasi nata dilakukan di Laboratorium Biologi MAN 2 Mataram, sedangkan analisis kandungan nata dilakukan di laboratorium BPOM Nusa Tenggara Barat,” paparnya.

Di sisi lain, Lala –panggilan akrab Aldila Rizki Batari Nasution—bercerita jika mereka senang, takjub, sekaligus tidak percaya dengan raihan yang diperoleh. Lala menyukai hal-hal yang menantang, ada perasaan gugup ketika presentasi dan tanya jawab di depan juri dan peserta lainnya mengenai kelebihan sekaligus kekurangan dari produk yang mereka tawarkan.

Sementara Omy, panggilan akrab Nandini Rohmi juga menyukai penelitian dengan eksperimen. Ada kesenangan sendiri ketika harus berjuang untuk mengumpulkan tuak manis dan bahan lainnya, menimbang, meneliti, maupun uji coba tandasnya. Keduanya berharap ekstrakurikuler KIR MAN 2 Mataram, ke depannya ada regenerasi dari KIR yang bisa lebih bagus prestasinya, karena Lala dan Omy sekarang duduk di kelas XII. (dys)