Okupansi ‘’Homestay’’ di Lotim Meningkat

Ketua Asosiasi Homestay Lotim Jumaedy bersama para wisatawan saat berkunjung ke beberapa objek wisata di Lotim belum lama ini. (Suara NTB/ist)

Selong (Suara NTB) – Pelaku wisata Lombok Timur (Lotim) menolak sebutan para wisatawan ke Lotim sekadar buang air kecil seperti dinyatakan Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Lotim H. Mugni beberapa waktu lalu. Sebaliknya, tingkat kunjungan wisatawan ke Lotim ini cukup besar. meski beberapa bulan terakhir ini masuk musim sepi. Okupansi homestay di Kabupaten Lotim ini justru meningkat.

Ketua Asosiasi Homestay Lotim, Jumaedi kepada Suara NTB, Sabtu, 22 Februari 2020, melihat fakta kunjungan ke objek-objek wisata dan tingkat hunian homestay yang ada di Kabupaten Lotim cukup meningkat.

Iklan

Menurut Edy – sapaan akrabnya, berwisata dengan menginap di homestay ini adalah wisatawan yang sebenarnya. Berbeda dengan wisatawan yang menginap di hotel. Tingkat okupansi di homestay saat ini sudah ada yang sampai lima sampai enam malam atau berada sepekan lamanya di homestay. “Homestay adalah the real tourism,” akuinya.

Ketua Asosiasi Homestay Lotim ini, berpendapat, menginap di homestay akan membuat wisatawan benar-benar datang berwisata. Selain bisa mengetahui kearifan lokal atau budaya masyarakat, paket-paket kunjungan wisata ke sejumlah objek wisata pun dipastikan jauh lebih lengkap.

Tidak hanya itu, tamu yang datang diyakini cukup puas. Hal ini dibuktikan dari booking kembali yang ada di situs-situs layanan pemesanan secara online.

“Kita lihat tamu-tamu di Tetebatu, Trengwilis, Jeruk Manis dan Kembang Kuning ini saja tamu-tamunya tidak pernah sepi,” ungkapnya.

Perkembangan homestay di Lotim pun terus meningkat. Hal ini menandakan se sepi-sepinya tamu yang datang, homestay tetap terisi. Disebut, jumlah homestay yang berada di asosiasi sebanyak 70 unit. Jumlah kamarnya rata-rata dua sampai empat.

Dilihat dari data kunjungan berdasarkan booking online sangat ramai tamu yang masuk. Dari fakta ini, memperlihatkan data nyata jumlah kamar dan angka kunjungan ke Lotim. Disarankan, pemerintah hendaknya melihat data kunjungan ke lapangan langsung.

Edy mengklaim, tamu yang datang menginap di homestay dikatakan jauh lebih diminati dibandingkan hotel. Terlihat saat ini, tidak saja di wilayah Lotim bagian utara, penginapan-penginapan di wilayah Lotim bagian selatan juga ramai membangun homestay. Hal ini karena faktanya, wisatawan yang menginap di homestay dipastikan tidak mengenal musim ramai dan sepi. (rus)