Oknum PNS Pemprov NTB Diduga Edarkan Uang Palsu

Aparat Polres Lotim menunjukkan barang bukti uang palsu yang diedarkan oknum PNS.(Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Kasus pengungkapan uang palsu oknum PNS Pemprov NTB sampai saat ini masih dilakukan pengembangan pihak Polres Lombok Timur (Lotim). Pasalnya pasca kejadian di Dusun Rumeneng Desa Paokmotong Kecamatan Masbagik, pengembangan terhadap keterlibatan pihak lain masih dilakukan..

“Pengembangan masih kita lakukan terkait kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain. Namun sejauh ini kita baru amankan satu tersangka,”terang Kasat Reskrim Polres Lotim, AKP. Daniel P. Simangunsong, SIK., Minggu, 3 Januari 2020.

Sementara untuk identitas pelaku yang sudah diamankan tersebut atas nama  Sap (37), warga Pancoran, Desa Rumbuk, Kecamatan Sakra. Yang bersangkutan berprofesi sebagai PNS di lingkup Pemprov NTB.

Pihaknya menduga, pelaku yang saat ini diamankan di Mapolres Lotim tidak hanya sebagai pengedar, tetapi sekaligus sebagai pencetak uang palsu pecahan Rp100 ribu. Pelaku diduga menggunakan printer miliknya dan sudah menjalankan aksinya selama 4 bulan terakhir ini.

Sedangkan dalam menjalankan aksinya, pelaku menggunakan modus mengedarkan uang palsu dengan cara mencampur uang pecahan Rp100 ribu palsu dengan yang asli selama empat bulan. Tindakan pelaku terungkap setelah mendatangi kios  H. Sunardi Khaerudin, salah satu korban di Dusun Rumeneng.

Korban yang merupakan agen BRILink dengan maksud melakukan transfer sebesar Rp4 juta ke rekening miliknya. Pelaku kemudian menyerahkan uang pecahan, Rp100 ribu senilai yang ditransferkan tersebut. Korban menyadari bahwa uang tersebut palsu setelah beberapa menit pelaku meninggalkan TKP.

Tidak hanya itu, pelaku diduga membelanjakan uang palsu tersebut di beberapa toko. Dari laporan korban yang mengalami kerugian hingga Rp4 juta melaporkan kasus yang menimpanya ke Polsek Masbagik untuk dilakukan penyelidikan terhadap pemilik rekening dan melakukan penggeledahan di rumah pelaku.

Sap ditangkap di rumahnya di Rumbuk bersama barang bukti (BB) berupa peralatan untuk mencetak uang palsu. Pelaku disangkakan Pasal 36 ayat 3 dan ayat 1 atau 2 UU RI Nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp 50 miliar.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan, yaitu 40 lembar uang palsu pecahan, Rp100 ribu, 1 buah laptop, 1 buah printer, 1 buah buku tabungan bank. Selain itu, 1 buah setrika, sepeda motor, kertas HVS, 1 botol lem kertas dan 1 buah hair dryer. (yon)