Oknum Kadus di Lotim Diduga Setubuhi Dua Pelajar

Selong (Suara NTB) – Seorang oknum kepala dusun (kadus) di wilayah Kecamatan Keruak berinisial, SP (45) saat ini hanya bisa tertunduk malu menyesali perbuatannya. Ia diduga menyetubuhi dua pelajar yang merupakan warganya sendiri di salah satu tempat hiburan malam  di Pantai Labuhan Haji. Sebelum melakukan aksinya, korban diajak menenggak minuman keras (miras) hingga tak sadarkan diri.

Dikonfirmasi di ruang kerjanya, Sabtu, 18 Maret 2017, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Lotim, Aipda. I Nengah Wardika, SH, mengungkapkan, korban perbuatan asusila dari oknum kadus masih berstatus pelajar. Keduanya merupakan pelajar kelas di salah satu Madrasah Aliyah (MA) di Kecamatan Keruak. Ironisnya lagi, salah satu korban yakni HL masih di bawah umur.

Iklan

Dalam menjalankan aksinya itu, kedua korban diiming-imingi uang sebesar Rp 500 ribu asalkan semua korban menuruti semua keinginan pelaku mulai dari menemaninya di kafe, menenggak miras hingga hingga aksi bejat lainnya yang terlebih dahulu direncanakan oleh pelaku. Khusus untuk HL, katanya, hubungan dengan pelaku terjadi sejak 2 minggu setelah bau nyale, sementara NL baru sekali disetubuhi oleh pelaku.

Tindakan bejat pelaku terungkap setelah Marni warga Dusun Demung Semogen Desa Danerase Kecamatan Keruak, yang merupakan orang tua dari HL melaporkan kasus tersebut ke Polsek Keruak tentang Tindakan Kekerasan Seksual Terhadap Anak, pada Kamis, (16/3/2017) lalu. Korban yang tidak pulang kerumah seharian ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri di bawah kasur Pi’i salah satu teman korban.

“Orang tua dari salah satu korban yang melaporkan kasus ini, saat ini korban sudah kita mintai keterangan. Sementara oknum Kadus sudah ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka,”ungkapnya.

Sementara, HL dan NA kepada Suara NTB, mengaku tidak mengetahui secara persis musibah yang dialaminya itu. Ia hanya menuturkan jika kedatangannya ke tempat hiburan malam di pesisir Pantai Labuhan Haji karena diajak oleh oknum diiming-imingi uang masing-masing Rp 500 ribu. HL mengaku sudah empat kali datang ke beberapa tempat hiburan malam tersebut, sementara NA hanya dua kali bersama pelaku. Kedatangannya biasanya pada siang hari sepulang sekolah hingga malam hari dengan beralasan pada kedua orang tuanya ke rumah teman.

Sedangkan, SP yang merupakan oknum kadus menyesali perbuatannya. Diakuinya tindakan bejat yang dilakukannya, karena terpengaruh miras yang dikonsumsinya. Saat ini, penyidik dari unit PPA Satreskrim Polres Lotim terus melakukan penyelidikan terhadap kasus ini, termasuk mendatangi TKP. (yon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here