Oknum Dosen Unram Dihukum Penjara 2,5 Tahun

Mataram (Suara NTB) – Hakim Pengadilan Negeri Mataram menjatuhkan hukuman penjara selama 2 tahun 6 bulan kepada Hasanudin Chaer. Hukuman itu diberikan karena terdakwa terbukti bersalah melakukan penipuan kepada calon mahasiswa.

Ketua majelis hakim, Didiek Jatmiko, Senin, 22 Januari 2018 menjatuhkan hukuman itu berdasarkan dakwaan pasal 378 KUHP juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 yang terbukti perbuatan pidananya dalam persidangan.

Iklan

“Menyatakan terdakwa Hasanudin terbukti bersalah melakukan tindak pidana penipuan secara bersama-sama. Oleh karenanya menjatuhkan pidana penjara selama dua tahun enam bulan,” tegasnya.

Dia menambahkan, hal yang memberatkan terdakwa untuk dihukum karena terdakwa merupakan seorang dosen perguruan tinggi.

“Majelis mencermati bahwa terdakwa dosen Universitas Mataram yang mengaku seorang panitia penerimaan seharusnya tidak melakukan perbuatan tersebut,” jelasnya.

“Di lingkungan pendidikan adalah hal yang utama dan pertama dalam penjenjangan kehidupan dan perilaku. Terdakwa adalah dosen yang tidak patut melakukan pidana tersebut,” imbuh Didiek.

Hukuman yang dijatuhkan hakim sama dengan tuntutan jaksa penuntut umum, Iman Firmansyah dalam sidang sebelumnya.

Sementara, Lalu Syukur oknum pengacara komplotan oknum Dosen FKIP Unram tersebut, dihukum dengan lama penjara yang sama dalam persidangan terpisah yang juga dipimpin Didiek Jatmiko. Meskipun sebelumnya Syukur hanya dituntut dua tahun penjara.

Syukur terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan penipuan seperti diatur pasal 378 KUHP juncto pasal 55 ayat 1 ke-1.

“Oleh karenanya menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa Lalu Syukur selama dua tahun,” kata Didiek.

Vonis hakim lebih tinggi dari tuntutan jaksa dengan pertimbangan perbuatan Syukur tidak ada bedanya dengan pidana yang dilakukan Hasanuddin. “Perbutannya sama sehingga hukumannya sama,” tegas dia.

Atas vonis tersebut, Hasanuddin menyatakan pikir-pikir. Sementara Syukur dengan meyakinkan langsung menyatakan banding atas putusan tersebut.

Para terdakwa terbukti menipu korban, Kahan Kampanye dengan menjanjikan putri korban lulus masuk fakultas Kedokteran Unram dalam seleksi tahun 2016 lalu.

Dijembatani guru SMA Negeri anak korban, uang pelicin meluluskan anak korban masuk fakultas kedokteran Unramyang diberikan korban sebesar Rp 200 juta.

Tak cukup sampai di situ, Syukur kembali meminta Rp 50 juta ke korban dengan dalih untuk keperluan menyogok tim seleksi penerimaan yang langsung disanggupi korban.

Setelah transaksi sejumlah uang tersebut yang totalnya mencapai Rp 250 juta, anak korban akhirnya tetap gagal lulus. (why)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional