OJK: Waspadai Ajakan Hoaks Menarik Dana di Bank

Ilustrasi penarikan uang dari mesin ATM. (Gambar oleh Peggy und Marco Lachmann-Anke dari Pixabay)

Mataram (Suara NTB) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mewaspadai ajakan hoaks yang beredar melalui media sosial untuk menarik dana di bank. Ajakan ini terindikasi dilakukan oleh pihak-pihak tertentu untuk menarik keuntungan. OJK secara resmi menyampaikan bahwa informasi yang beredar melalui media sosial adalah informasi hoaks dan tidak benar.

Secara nasional, berdasarkan data OJK Mei 2020, tingkat permodalan dan likuiditas perbankan masih dalam kondisi yang aman. Rasio kecukupan permodalan (CAR) perbankan sebesar 22,16% (di atas ketentuan), sementara hingga 17 Juni, rasio alat likuid/ non-core deposit dan alat likuid/DPK terpantau pada level 123,2% dan 26,2% jauh di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%.

Iklan

OJK telah melaporkan informasi hoaks ini kepada pihak Bareskrim Polri dan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk diusut dan ditindak sesuai ketentuan karena telah menimbulkan keresahan di masyarakat. Sesuai Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), para penyebar hoaks diancam hukuman penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar.

Masyarakat diimbau untuk senantiasa memastikan informasi tentang keuangan yang diterima adalah informasi yang benar dan valid dengan menghubungi Kontak OJK di nomor 157 atau layanan Whatsapp resmi 081157157157.

Kepala OJK Provinsi NTB, Farid Faletehan kepada Suara NTB, Kamis, 2 Juli 2020 menegaskan, masyarakat di NTB agar bijak menyikapi informasi-informasi yang disebar oleh pihak-pihak tertentu melalui media sosial.

“Kami mengharapkan masyarakat tidak mudah terpengaruh. Walaupun ajakan dari media sosial untuk menarik dana di bank sudah menyebar ke mana-mana,” ujarnya.

OJK, sebagai regulator selalu melakukan pengawasan terhadap seluruh lembaga keuangan. Baik bank maupun non bank (finance). Pengawasan dilakukan, salah satunya untuk menajaga eksistensi lembaga keuangan.

“Sampai saat ini tidak ada bank-bank yang kondisinya mengkhawatirkan. Di NTB juga relatif industri keuangannya cukup bagus,” kata Farid. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional