OJK NTB Mulai Dorong Pengembangan Tanaman Porang Secara Masif

Kepala OJK NTB, Farid Faletehan bersama seluruh stakeholders terkait foto bersama usai membahas pengembangan porang di NTB. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Tanaman porang memiliki prospek bisnis yang cukup besar. NTB diharapkan menjadi salah satu daerah penghasil untuk memenuhi permintaan global. Karena itu, perbankan didorong mendukung pembiayaan kepada petani porang.

Porang adalah tanaman umbi-umbian dengan nama latin Amorphophallus muelleri.Tanaman ini biasanya tumbuh liar di lahan – lahan sejuk, di perkebunan. Porang juga disebut sebagai tanaman beracun. Dibalik itu, tanaman porang sebenarnya menjadi bahan baku yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku tepung untuk memenuhi kebutuhan industri kosmetik, pengental, lem, mie ramen, dan campuran makanan.

Iklan

Di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTB, Jumat, 21 Mei 2021, Kepala OJK NTB, Farid Fatelehan beserta jajarannya melakukan pertemuan dengan dua perbankan, Bank NTB Syariah dan Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Mataram. Bappeda, PT. GNE, P3N NTB, Dewan Pakar P3N Pusat, dan pengusaha calon offtaker porang.

Farid kepada Suara NTB, mengatakan, OJK merespon pengumuman dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Perindustrian bahwa ada dua komoditas yang sekarang menjadi sangat perioritas harus diperhatikan. Pertama sarang burung walet, kemudian porang. “Sekarang sedang kita dukung program pemerintah pusat itu di NTB untuk pengembangan porang,” ujarnya.

NTB ini menurut Farid memiliki potensi besar untuk pengembangan porang. Hampir seluruh kabupaten di provinsi ini sudah mulai menanam porang. Hanya saja masih sporadis, dan tidak banyak. Lalu ada juga keluhan petani porang bagaimana mendapatkan pinjaman dana untuk membiayai tanaman porang.

Bertani porang menurutnya membutuhkan modal agak besar. Dalam satu hektar, paling tidak biaya untuk pembelian bibit sebesar Rp40 juta. Itulah yang menjadi salah satu kendala tidak masifnya pengembangan porang di NTB. Karena itu, salah satu caranya, OJK mulai mengumpulkan pihak-pihak yang berkompeten di bidangnya. Dari perbankan sebagai pembiaya, lalu off taker yang nantinya akan membina petani, menyediakan bibit, membeli hasil panen sekaligus mengolah porang menjadi produk jadi.

“Kita diskusikan hari ini, intinya bagaimana tata niaga pertanian porang di NTB bisa berjalan. Sudah ada off taker menyatakan sudah menanam 600 hektar di Lombok, dia siap juga menampung hasil panen porang berapapun banyaknya. Sudah hadir dari off taker tadi, kemudian dari perbankan,” jelas Farid. Pada bulan Oktober 2021 ini, gerakan tanam porang ini sudah mulai massif dilakukan petani.

Kebutuhan pembiayaannya, dapat dilakukan kerjasama antara off taker dengan perbankan. Off taker dimaksud bahkan akan membentuk agen-agen di setiap kabupaten/kota untuk menjembatani para petani porang. “Petani-petani yang memiliki komitmen, royal, akan dibina, diberikan pembiayaan. Dan dibeli hasil produksinya,” imbuhnya.

Farid menambahkan, penanaman porang di NTB sudah dilakukan meskipun sporadis. Hanya saja belum terbentuk sistemnya dari hulu ke hilir. Karena itu, pertemuan kemarin adalah awal untuk membuat sistem mengembangkan porang di NTB. “Secara bisnis hasil porang ini sangat besar. Dan hasilnya bisa berlipat-lipat. Inilah komoditas yang dianggap sangat potensial. Dari webinar bersama kementerian kemarin, disebut 99 persen hasil produksi porang di ekspor. Karena itu Indonesia tertarik mengembangkan porang,” demikian Farid. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional