OJK Bongkar Modus Investasi Bodong

Farid Faletehan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tak henti-hentinya mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur investasi bodong. Modus sistem kerjanyapun diungkap OJK dengan harapan masyarakat mengetahuinya, sehingga tidak makin banyak korban.

Demikian disampaikan, Kepala OJK Provinsi NTB, Farid Faletehan dalam diskusi dengan media di Tanjung Bloam, Kabupaten Lombok Timur, Kamis, 3 Desember 2020. Ia membeberkan hasil pertemuannya dengan beberapa agen investasi bodong yang sudah insyaf, karena sadar sudah merasa cukup banyak merugikan orang lain dari iming-iming produk investasi bodong.

Iklan

Beragam tawaran investasi bodong marak di NTB. Biasanya tawaran menempatkan dana untuk produk-produk tertentu dan dijanjikan keuntungan berlipat ganda dalam waktu singkat. Ada juga yang bentuknya arisan online. Umumnya berkembang dengan cara berjamaah, atau menggunakan sistem Multi Level Marketing (MLM).

Sumber ini, kata Farid, adalah pelaku investasi bodong yang sudah banyak mendapatkan keuntungan dari jaringan di bawahnya yang notabene adalah korban-korban yang berhasil diyakinkan ikut bergabung berinvestasi.

‘’Yang datang ke kantor (OJK) kemarin, adalah para pelakunya yang sudah banyak mendapatkan keuntungan. Bahkan keuntungannya sampai Rp1 miliar lebih. Tapi sekarang insyaf karena sudah merasa banyak merugikan orang,’’ jelas Farid.

Dari sumber ini, OJK mendapat informasi bahwa dalam sebulan, ada dua atau tiga investasi bodong masuk ke Lombok. Masuknya menggunakan jalur para “pemain-pemain” biasa.

‘’Masuknya ya dari orang-orang yang sudah biasa, orang itu-itu saja yang sudah mengembangkan berbagai jenis investasi bodong,’’ imbuhnya.

Setiap kali baru masuk, pemodal sudah menyiapkan dana untuk memfasilitasi bonus bagi jaringan-jaringan baru di bawahnya yang akan digerakkan untuk mempengaruhi orang lain lagi sebagai jaringannya.

‘’Begitu masuk investasi ini, sudah disiapkan minimal Rp300 juta, untuk reward kepada jaringan-jaringan baru di bawahnya. Dengan target, akan banyak orang lain yang akan ikut meyakini investasi ini,’’ imbuh Farid.

Para pelaku investor bodong ini, lanjut Farid, sudah memperhitungkan masa booming investasi biasanya kisaran 3 sampai 4 bulan atau usia pendek. Tetapi sudah diperhitungkan target dana yang masuk dan berhasil di raup dari jaringan-jaringan dibawahnya.

‘’Kalau sudah dapat nyerap dana sampai miliaran, biasanya pemodalnya hilang lagi. Nanti akan datang lagi dengan produk investasi bodong lainnya,’’ jelas Farid.

Leader-leader yang akan bergerak mengembangkan jaringan ini biasanya yang sudah terlatih. Ironisnya, ketika investasi tersebut sudah dinyatakan bodong oleh OJK sekalipun, leader ini masih mampu meyakinkan bahwa produk investasi yang ditawarkan sudah legal. Justru aparat pemerintah yang dianggap berbohong. Sehingga target sasarannya merasa sangat yakin.

‘’Bagaimana cara menyadarkan masyarakat untuk tidak tergiur investasi-investasi bodong ini. Karena sebetulnya banyak yang sudah jadi korban, tapi malu melapor. Dia sudah jadi korban, sekaligus jadi pelakunya. Karena itu aparat tidak bisa melakukan tindakan. Contoh saja di HIPO, ada yang kehilangan investasi sampai ratusan juta rupiah, tapi tetap tidak melapor,’’ katanya.

Karena itu, masyarakat diingatkan agar berinvestasi pada kegiatan investasi yang wajar dan legal.(bul)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional