Obsesi Gubernur, Cabai NTB Dipasarkan di Mekkah

Baiq Nelly Yuniarti. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah terobsesi memasarkan sumber daya alam NTB ke panggung internasional. Salah satunya, cabai. Obsesi orang nomor satu di NTB ini mengacu pada potensi besar pasarnya di luar negeri. Cabai NTB bahkan diharapkan dapat dipasarkan di Makkah, Arab Saudi.

“Saya membayangkan, ibu Nelly ini (Sekretaris Dinas Perdagangan Provinsi NTB) jualan cabai NTB di Makkah. Potensi pasarnya adalah orang-orang yang umrah dan haji. Pun halnya komoditas lainnya. Jadi tidak lagi berpikir jualannya hanya lokal,” kata gubernur dalam sebuah kesempatan di Kantor Dinas Perindustrian Provinsi NTB.

Iklan

Konteks jualan yang ia maksudkan adalah, cabai lokal yang hasilnya melimpah pada saat musim panen, diolah menjadi cabai tumbuk dalam kemasan yang memiliki ketahanan waktu simpan. Disinilah peran industrialisasi yang diharapkan. Sehingga saat musim panen, harga tidak anjlok. Dan saat musim tak panen, harganya tetap stabil karena sudah dikemas.

Dinas Perdagangan kemudian menerjemahkan obsesi gubernur ini sebagai salah satu terobosan untuk dilakukan pengolahan cabai. Dan tetap memberi nilai tambah kepada petani sebagai produsennya. Sekretaris Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Baiq. Nelly Yuniarti mengatakan, obsesi gubernur ini ditangkap sebagai perintah menduniakan komoditas lokal.

Berbicara saat ini, harga cabai tengah melambung. Di pasaran harganya di atas Rp50.000 perkilo. Belum lama ini bahkan mendekati hampir Rp100.000 perkilo. Hal ini bukan persoalan baru. Lebih kepada hukum pasar. Saat produksi berkurang, harga naik. Dan produksi berlebih, harga turun, bahkan anjlok. Pemprov NTB melakukan intervensi, salah satunya dengan melakukan operasi pasar. Hasil produksi petani dijual langsung dengan harga petani. Kelompok-kelompok tani digandeng.

Baiq. Nelly mengatakan, untuk stabilisasi harga, idealnya pasokan harus tersedia sepanjang tahun. Sehingga tidak mudah pasar terpengaruhi permainan spekulan. “Kita butuh CAS sebenarnya. CAS ini bisa menampung komoditas segar sampai enam bulan. Kalau punya CAS, kita bisa simpan hasil produksi saat panen. Dan dikeluarkan kalau saat produksi berkurang. Pemprov sudah minta ke Kemendag, tapi karena kondisi keuangan negara seperti ini, belum dapat,” ujarnya.

CAS merupakan sistem yang mengkombinasikan teknologi pendingin dengan teknologi pengkondisian udara (O2, CO2, N2, Ethylene dan RH) sebagai alat penyimpan produk komoditi hortikultura dalam jangka waktu yang lebih panjang dari metode konvensional. Mesin CAS dapat mengawetkan berbagai komoditas seperti bawang merah, cabai, buah-buahan, sayuran, dll, hingga 3 sampai 6 bulan.

Selain CAS, adalah upaya mengemas dan mengawetkan cabai. Salah satunya sudah dibuat oleh IKM, yaitu “Sambal Cengeh”. Cabai yang ditumbuk dan diawetkan tanpa bahan kimia.

Baiq. Nelly mengatakan, cabai yang dipasarkan di sentra Pasar Mandalika sering diamati. Saat tidak laku siang harinya, cabai dikemas. Kemudian dikirim ke luar daerah. Ia menduga, ada pengolahan cabai di daerah tujuan pengiriman. Dan pastinya, cabai-cabai ini dijual murah. Daripada tidak laku sama sekali, dan rusak. Itulah salah satu dasar inisiatif pengolahan cabai di NTB.

Harusnya masif juga dilakukan di NTB. Selain hasil pengolahannya untuk menjaga stabilitas harga pasar lokal, ketersediaan pasokan terjaga. Juga dapat dikirim untuk dijual ke luar negeri. Salah satunya seperti obsesi gubernur, ke Makkah. “Dalam konteks situasi normal, cabai NTB dan komoditas lainnya bisa dipasarkan di sana. Bayangkan begitu banyak orang Indonesia yang berumrah yang bisa menjadi pangsa pasarnya. Disana pasti senang, makan nasi pakai sambal. Karena itu, kita sedang mencari jalan juga, bagaimana orang-orang NTB yang ada di sana bisa kita ajak bekerjasama. Atau perwakilan-perwakilan Indonesia di sana,” demikian Baiq. Nelly. (bul)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional