Observasi 14 Hari, 29 Mahasiswa NTB Negatif Corona

Bayu Putra Sagita asal Sumbawa dan Media Arifiani asal Lombok Tengah, dua mahasiswa yang dibolehkan pulang setelah menjalani proses observasi di Graha Mandalika RSUP NTB. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Sedikitnya 29 Mahasiswa NTB yang dipulangkan dari China tuntas menjalani observasi di Gedung Graha Mandalika RSUP NTB. Jumat, 21 Februari 2020  kemarin, dua diantaranya selesai dikarantina dan dinyatakan sehat. Masyarakat diminta tidak khawatir berinteraksi dengan para mahasiswa setelah berkumpul dengan keluarga.

Dua mahasiswa yang tuntas jalani observasi itu Bayu Putra Sagita asal Sumbawa, asal Sumbawa yang mendapat beasiswa di Nanjing University of Science and Technology dan Media Arifiani asal Lombok Tengah yang mendapat beasiswa LPP di Yangzhou University.

Iklan

Sejak gelombang pemulangan  mahasiswa Indonesia, termasuk asal NTB yang menempuh Pendidikan di China, RSUD Provinsi NTB menangani 33 orang termasuk warga sipil lain. Selain 29 mahasiswa, ada empat orang warga NTB etnis Tionghoa.  Dua mahasiswa yang dipulangkan kemarin adalah  rombongan terakhir.

“Dua mahasiswa yang  sudah boleh pulang ini dinyatakan sehat dan bebas dari infeksi virus corona,” kata Kabid Pelayanan Medis RSUP NTB, dr. I Nyoman Wijaya Kusuma. Mereka dipulangkan sesuai jadwal berakhirnya observasi, terhitung 14 hari sejak datang ke RSUP NTB.

Para mahasiswa menjalani observasi dengan beberapa proses pemeriksaan selama di gedung Graha Mandalika. Dalam proses itu, menurut Wijaya Kusuma, serangkaian pemeriksaan seperti pengecekan suhu tubuh.

Proses observasi yang dianggap paling cepat untuk deteksi awal kemungkinan para mahasiswa dan warga sipil itu terinfeksi. “Observasi rutin dilaksanakan pagi, siang dan sore. Itu  terus rutin selama 14 hari,”  sebutnya.

Selama proses pemeriksaan suhu tubuh, tidak ada yang melebihi 37 derajad, sehingga dianggap aman dari kemungkinan suspect virus Corona.

“Kenapa 14 hari?, karena ini masa inkubasi kalau mereka terjangkit virus Corona sejak keluar dari China. Tapi sampai saat ini tidak ada,” tandasnya.

Kepada mahasiswa dan warga sipil, sudah bisa berbaur kembali dengan keluarga dan masyarakat. Kepada masyarakat, diimbau tidak khawatir paranoid karena para mahasiswa sejak di China dalam kondisi sehat hingga pemeriksaan di RSUP NTB.

“Jadi jangan sampai ada anggapan, apalagi khawatir mereka terjangkit. Warga kita aman semua,” tegasnya. Para mahasiswa juga dibekali dengan surat keterangan  sehat dan bebas virus corona dari pihak RSUP.

Kedua mahasiswa mengaku lega setelah dinyatakan sehat.  Kekhawatiran mereka selama ini tak terbukti setelah dinyatakan sehat secara medis.

“Alhamdulillah bisa berkumpul lagi dengan keluarga,” kata Media Arifiani,  mahasiswi asal Penujak Loteng ini. Selama di RSUP ia mengaku ditangani dengan baik, layaknya service hotel selama di Graha Mandalika. Ia sebelumnya sempat merasakan tekanan ketika berada di kampus setelah virus corona merebak. pihak kampus menerapkan isolasi kepada semua mahasiswa. Sampai akhirnya libur musim dingin tiba, ia minta izin untuk pulang. Kepulangannya semakin mudah karena pihak Pemerintah China membuka akses dengan catatan sudah dinyatakan sehat.

Mengenai lanjutan kuliah, Bayu Putra Sagita mengaku tetap bisa menempuh pendidikan meski dengan jarak jauh. “Kami tetap bisa kuliah. Kampus sudah menyiapkan aplikasi online untuk kegiatan belajar. Jadi masih lanjut walaupun saya di rumah,” ujarnya.

Mengenai rencana untuk kembali ke China, keduanya geleng kepala. Mereka masih menunggu kepastian sampai China benar benar steril dari virus corona yang sudah menjangkiti ribuan orang itu. (ars)