Objek Wisata Pantai di Lotim Kumuh

Pantai Pidana di Pringgabaya harus dibersihkan, karena banyak sampah ditemukan di tempat ini.  (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Obyek wisata, utamanya pantai pantai di wilayah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) banyak yang terlihat kumuh. Pemandangan pantai yang seharusnya memperlihatkan keelokan menjadi terganggu karen tumpukan sampah. Realita itu diakui Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Lotim, Muhir.

Muhir tidak menampik sebagian besar pantai-pantai di Lotim ini menjadi tempat tempat bersarang sampah-sampah kiriman. Kondisi ini jelas sangat tak mencerminkan sapta pesona, utamanya pada aspek kebersihan. Objek wisata yang tidak berorientasi pada sapta pesona akan membuat pemasaran wisata terganggu dan tidak mungkin memasarkan objek wisata yang kotor.

Iklan

Menurut Muhir,  pembangunan pariwisata itu sangat luas. Pariwisata haruas ada gerakan bersama semua dinas dan Dinas Pariwisata jelas tidak bisa sendiri.  ‘’Semisal Pantai Labuhan Haji. Di dalamnya ada Dinas Kelautan. Soal kebersihan ada Dinas Lingkungan Hidup. Mengenai masyarakatnya, ada Pemerintah Desa Labuhan Haji sendiri,’’ terangnya, Senin,  28 Januari 2019.

Tidak hanya itu, tambahnya, diperlukan upaya untuk menumbuhkan kesadaran kultural dalam membangun wisata. Wisata yang juga memperhatikan kearifan lokal dan kultural dan tidak dinodai dengan perilku-perilaku yang tidak sesuai dengan norma.

Untuk itu, sapta pesona ini harus terus disosialisasikan. Salah satu cara mewujudkannya adalah membangun pariwisata yang berbasis kemasyarakatan dan membangun bersama secara partisipatif. Dalam hal ini, semua bisa mengambil peran. Menyambut hal itu, Dispar Lotim mencoba membangun konsep pembangunan pariwisata berbasis kemasyarakatan  tersebut dengan bergandengan tangan dengan dinas terkait. “Kita akan coba dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD),” ungkap Muhir.

Dinas PMD sebagai leading sector desa. Desa-desa yang memiliki objek wisata dan ada kelompok-kelompok sadar wisata di dalamnya, bersama dengan masyarakat membangun pariwisata. Dalam pengembangan kerajinan, seperti di Loyok misalnya, pariwisata akan bergandengan tangan dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

Sudah banyak desa yang siap untuk memulai. Desa-desa juga sudah banyak menyulap daerahnya dengan menata desa menjadi obyek wisata yang memiliki daya tarik, seperti Ketapang Raya, Tanjung Luar, Dasan Borok dan desa-desa lain dengan konsep yang berbeda-beda. Mengenai kebersihan, menjadi ranah Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).

Kepala DLHK, Mulki sebelumnya mengakui realita belum maksimalnya dalam penanganan sampah. Kekurangan armada dan personel menjadi salah satu kendala besar.  Saat ini dengan 8 armada yang dimiliki DLHK ditambah 2 tambahan baru bisa menjangkau tujuh kecamatan dari 21 kecamatan se Kabupaten Lotim.

Mulki, dapat segera terwujud satu desa satu tempat pengelolaan sampah. Pasalnya, menjadi tidak mungkin bisa menyentuh 254 desa dengan kekuatan armada yang ada.  Soal sampah-sampah di pantai diakui sebagian besar merupakan sampah kiriman. Beberapa upaya sudah dilakukan, di antaranya memasang jaring. Namun tidak bisa efektif, sampah masih ditemukan menumpuk. Pihaknya mengharapkan masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. (rus)