Obat Ranitidine Belum Ditarik dari Puskesmas

Obat ranitidine ditemukan masih beredar di salah satu Puskesmas di Kota Mataram. Kandungan NDMA pada obat tersebut memicu penyakit kanker bila mengkonsumsinya secara berlebihan dan terus menerus. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Kesehatan Kota Mataram belum sepenuhnya menarik peredaran obat ranitidine dari Puskesmas. Penyalahgunaan obat tersebut dapat memicu penyakit kanker.

Suara NTB mencoba menelusuri peredaran obat tersebut ke salah satu Puskesmas. Ternyata obat tersebut masih tersimpan dalam lemari yang digabung dengan injeksi serta obat – obat lainnya.

Iklan

Perawat di Puskesmas tersebut menuturkan, Dinas Kesehatan memang menginstruksikan agar ranitidine ditarik. Tetapi tidak semua obat itu dikembalikan. Ada sebagian yang disimpan bahkan digabung dengan injeksi serta obat – obat lainnya. “Ini kan buktinya masih ada,” kata perawat yang enggan disebut identitasnya.

Mestinya obat tersebut tidak disatukan dengan obat generik lainnya. Dikhawatirkan, petugas lainnya memberikan obat tersebut ke pasien. Kandungan ranitidine sendiri untuk beberapa obat memiliki komposisi terlalu besar, sehingga memicu karsinogen atau racun pemicu kanker. Obat tersebut aman dikonsumsi dan bisa menyebuhkan jika komposisinya tidak terlalu besar dan tidak dikonsumsi dalam durasi yang lama.

Zat kandungan ranitidine yang bisa menjadi karsinogen jika pasien mengkonsumsinya dengan kadar 92 nanogram secara rutin.

Perintah penarikan sejumlah produk obat ranitidine itu berawal dari peringatan US Food and Drug Administration dan European Medicine. Lembaga pengawas obat di AS dan Eropa menemukan cemaran Nitrosodimenthylamine (NDMA) dalam jumlah relatif kecil pada sampel produk obat yang mengandung bahan aktif ranitidine.

Temuan tersebut kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Usman Hadi yang ditindaklanjuti oleh Kementerian Kesehatan dan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan untuk menarik peredaran dari Puskesmas, apotek dan rumah sakit.

Dikes menindaklanjuti dan menarik peredaran obat itu dari Puskesmas. Sedangkan, peredaran di apotek – apotek jadi kewenangan BPPOM. “Kalau kita sudah semua, kecuali di apotek itu tugas BBPOM,” ucapnya.

Adapun ranitidine masih ditemukan di salah satu Puskesmas akan dicek. Setelah keluarnya surat edaran itu sudah diminta semua Puskesmas mengembalikan atau menarik kembali. Kandungan ranitidine memicu penyakit kanker, sehingga tidak diizinkan beredar. “Prinsipnya kalau membahayakan untuk kesehatan lebih baik tidak digunakan,” ucapnya. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional