Nyayu Ernawati Ajak Masyarakat Waspada Corona

Nyayu Ernawati, S. Sos., melihat APD milik RSUD Kota Mataram, Jumat (20/3). (Suara NTB/fit)

Mataram (Suara NTB) – Nyayu Ernawati, S.Sos., anggota DPRD Kota Mataram, terpanggil untuk ikut berperan memastikan upaya pencegahan, berikut protap penanganan wabah virus corona di Mataram.

Kepedulian Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Mataram ini, ditunjukkan lewat aksi nyata melakukan kunjungan lapangan ke dua tempat sekaligus. Masing-masing RSUD Kota Mataram dan Puskesmas Ampenan. Nyayu mengawali tugas mulianya dengan mengunjungi RSUD Kota Mataram.

Kedatangan Nyayu disambut oleh Wakil Direktur Bidang Pelayanan Medik RSUD Kota Mataram, dr. Emirald Isfihan, MARS. Ditemani dr. Emirald, Nyayu berkesempatan melihat secara langsung bagaimana kesiapan RSUD Kota Mataram dalam rangka mencegah virus corona. Dalam kunjungan itu pula, Nyayu mendapatkan penjelasan detail bagaimana prosedur penanganan ODP (Orang Dalam Pemantauan) maupun PDP (Pasien Dalam Pengawasan) di rumah sakit milik Pemkot Mataram ini.

Berbagai sudut RSUD Kota Mataram, terlebih yang berkaitan dengan penanganan virus corona, tidak luput dari perhatian Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Mataram ini. Setiap pengunjung yang datang ke rumah sakit ini, wajib menggunakan hand sanitizer dan juga menjalani screening.

Apabila suhu tubuh pengunjung terdeteksi normal, mereka diizinkan masuk melalui pintu depan. Namun apabila hasil screening menunjukkan tanda tanda yang merujuk pada gejala corona, RSUD Kota Mataram sudah menyiapkan jalur khusus yang dinamakan zona kewaspadaan.

Nyayu memantau, di ruang tunggu pengunjung, pihak RSUD sudah memberlakukan upaya upaya pencegahan. Seperti mengatur jarak duduk antar pengunjung sekitar 1 meter – 1,5 meter. Sekretaris Komisi IV yang membidangi masalah kesehatan ini, diajak melihat secara langsung zona kewaspadaan yang sudah disiapkan oleh RSUD Kota Mataram.

Pada zona ini, Nyayu mendapat penjelasan beragam fungsi ruangan. Mulai dari ruang observasi, ruang operasi dan ruang isolasi. Di tempat ini dia bertemu dengan beberapa staf yang sedang bertugas di sana. Nyayu berkesempatan berdialog dengan tenaga medis yang bertugas saat itu.

Tenaga medis mengeluhkan minimnya APD (alat pelindung diri). Menurut dr. Emirald, RSUD Kota Mataram hanya memiliki 11 APD. “Itupun dua sudah terpakai dua, dan sekarang sisa sembilan,” ungkapnya. Kondisi ini, katanya, terjadi bukan karena rumah sakit tidak mau membeli, tetapi memang barang tersebut sulit didapatkan. Hal ini sudah disampaikan kepada Pemkot Mataram. Meski tak menyebutkan jumlah kebutuhan APD, namun, kata dr. Emirald, saat menangani kasus, APD mutlak diperlukan. Selain APD, dia berharap segera ada alat rapid tes di Mataram agar hasil tes bisa segera diketahui.

Setelah melihat fasilitas di RSUD Kota Mataram berikut kesiapan tenaga medis, Nyayu menyampaikan terimakasih kepada pihak RSUD dan para medis. Sebagai garda terdepan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, Nyayu berpesan agar mereka senantiasa menjaga diri. Nyayu mengapresiasi kesiapan RSUD Kota Mataram. Karena, meski bukan merupakan rumah sakit rujukan namun RSUD Kota Mataram sudah mempersiapkan diri dengan sangat matang.

Menyikapi anggaran penanganan wabah corona, menurut Nyayu, hal itu bisa saja ditanggung oleh APBD. “Kalau kunker tidak terlalu penting, kan anggarannya bisa dialihkan untuk kesehatan,” tuturnya. Sementara itu, kondisi cukup kontras terlihat di Puskesmas Ampenan. Tidak ada pemeriksaan pengunjung seperti yang dilakukan RSUD Kota Mataram. Di puskesmas ini, pengunjung masuk tanpa screening. Bahkan hand sanitizer tidak dijaga oleh petugas. Saat berdialog dengan Kepala Puskesmas Ampenan, drg. Hj. Ilin Yuliani, Nyayu menekankan supaya ada protap kunjungan ke Puskesmas Ampenan. “Jangan sampai ada yang lolos dari cuci tangan,” anggota dewan dari daerah pemilihan Ampenan ini. Hj. Ilin mengakui bahwa pihaknya terpaksa tidak melakukan pemeriksaan seketat rumah sakit karena, keterbatasan alat yang mereka miliki.

Alat screening misalnya, Puskesmas Ampenan hanya punya satu unit. “Jadi karena jumlahnya terbatas, alat itu kita siagakan di poli lansia,” sebutnya. Sedangkan untuk APD, Puskesmas Ampenan memiliki tiga unit. “Tapi tidak selengkap RSUD Kota Mataram,” sebutnya. Hj. Ilin mengaku pihaknya sudah mengambil peran. Tim sosialisasi dari Puskesmas Ampenan sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh, hingga menghindari kontak fisik. “Kalau kegiatan Posyandu kita tunda dulu karena kita khawatir dengan keselamatan petugas. Saya juga menjaga kru saya. Jangan sampai yang rontok justru kru saya,” demikian Hj. Ilin.

‘’Saya mengingatkan kembali kepada kita semua untuk menggalakan gerakan CTPS (cuci tangan pakai sabun) sebagaimana yang kita ketahui bersama Mataram pernah meraih rekor MURI untuk gerakan CTPS ini pada tahun 2015 yang lalu. Gerakan ini dipimpin langsung oleh ibu Plt Walikota Mataram hj. Putu selly andayani. (fit/*)