Nurmah dan Suhartinah, Dua Perempuan Tangguh di Balik Kebersihan Jalan di Kota Mataram

Mataram (suarantb.com) – Pagi baru saja menampakkan diri. Beberapa kendaraan mulai melintas di Jalan Bung Karno, Kota Mataram. Di sana, tepat di bawah pepohonan pinggir jalan itu, seorang wanita berompi kuning tengah sibuk seorang diri. Sigap menggenggam sapu lidi di tangan, menyapu sampah dan dedaunan yang memenuhi jalan. Seakan tak rela membiarkan sehelai daun kering lepas dari jangkauan sapunya.

Mengenakan sarung dan pakaian sehari-hari, pada  rompi kuningnya tertulis ‘Dinas Kebersihan Kota Mataram’. Nurmah, begitu ia dipanggil. Ibu dari enam orang anak itu mengaku telah 6 tahun bekerja sebagai tukang sapu jalan.

Iklan

Memulai aktivitas sejak pukul 05.30 Wita, ia bertugas  menyapu di sepanjang ruas Jalan Bung Karno. Sekitar 500 meter ke arah utara dari Jalan Sriwijaya menjadi wilayahnya.

“Saya bekerja dari jam 05.30 sampai jam 09.00 pagi, terus dari jam 02.00 siang sampai jam 04.00 sore” ujar wanita berusia 50 tahun itu, disela-sela kegiatan menyapu saat berbincang dengan suarantb.com, Sabtu, 25 Februari 2017.

Tak ada keluhan yang terlontar dari mulut Nurmah terkait pekerjaannya sebagai tukang sapu. Justru ia nampak mensyukuri pekerjaannya yang sekarang. “Semua harus disyukuri, saya kerja begini ya saya bersyukur sama Allah,” ungkapnya.

Meskipun tak dapat ditampik, guratan keletihan nampak jelas dari raut wajahnya yang mulai keriput. Menghidupi enam orang anak seorang diri tentu bukan perkara mudah. Sang suami sendiri telah meninggal dunia sejak 8 tahun yang lalu.

Tak ada pilihan lain,  sejak saat itu, Nurmah menjadi tulang punggung keluarga. Mencari nafkah untuk keenam anaknya.

Beberapa ratus meter dari tempat Nurmah, juga ada seorang wanita berompi kuning lainnya. Namanya Suhartinah. Hampir sama kisahnya dengan Nurmah. Suhartinah juga menjadi tukang sapu karena dihimpit persoalan ekonomi.

Namun, ia masih lebih beruntung dari Nurmah. Ia masih memiliki suami, meskipun sang suami tidak memiliki pekerjaan tetap. Sehingga dirinya yang harus bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga.

Ibu satu orang anak tersebut menceritakan suka dukanya menjadi tukang sapu. “Kalau sudah ramai banyak kendaraan jadi susah mau nyapu, apalagi kalau musim angin gini, susah sekali,” ujarnya.

Namun diakui Suhartinah, ia bangga menjadi seorang tukang sapu jalan. Karena dari pekerjaan itu kebersihan Kota Mataram bisa terjaga.

Gaji Nurmah dan Suhartinah memang tidak mencapai UMK, namun keduanya mengaku bersyukur karena dengan uang tersebut, kebutuhan makan mereka setidaknya tercukupi. “Yang penting bisa buat makan, kadang ndak cukup untuk sebulan uang itu, tapi insya Allah selalu ada rezeki,“ kata Nurmah.

Nurmah dan Suhartinah adalah gambaran dari sekian banyak wanita yang bergabung dalam pasukan kuning. Mereka, adalah wanita tangguh yang tak menyerah begitu saja dengan keadaan. Seolah mengajarkan kepada kaum perempuan, untuk menjadi wanita yang kuat dan tangguh dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan. (hvy)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here