Nunggak Iuran IUPJWA, Pemprov Layangkan Peringatan Terakhir ke Investor Pantai Pink

Syamsudin (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) melayangkan peringatan ketiga atau terakhir kepada investor Pantai Pink, PT. Eco Solutions Lombok (ESL). Peringatan tersebut telah dilayangkan sebulan yang lalu.

Dalam surat peringatan tersebut, investor diminta segera merealisasikan investasinya sesuai komitmen awal termasuk membayar iuran  Izin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) yang mencapai miliaran rupiah.

Iklan

“Kami sudah layangkan  peringatan ketiga sebulan yang lalu. Peringatan supaya segera eksekusi termasuk membayar kewajiban mereka juga, iuran izin. Yang jelas mereka harus mengeksekusi kewajibannya,” kata Sekretaris Dinas LHK NTB, Syamsudin, S. Hut, M. Si dikonfirmasi di Mataram, Selasa, 25 Agustus 2020.

Tunggakan pembayaran iuran IUPJWA dari PT ESL yang memperoleh izin seluas 330 hektare di Hutan Sekaroh menjadi diskusi dengan aparat penegak hukum. Karena berdasarkan aturan, mereka harus membayar iuran sejak diberikan izin.

‘’Kami di Dinas LHK, memfasilitasi dan berkomunikasi dengan investor mengenai apa yang menjadi kewajiban mereka dengan nilai-nilai yang diharuskan. Kami dengan inspektorat dan BPKAD tetap mendiskusikan itu. Agar segera ditindaklanjuti,’’ ujarnya.

Syamsudin mengatakan, izin investor Pantai Pink terancam dicabut apabila mereka tidak mengindahkan peringatan yang diberikan. Pemprov nantinya akan memberikan rekomendasi ke Kementerian LHK. Kementerian LHK yang melakukan pencabutan izin. Karena mereka yang mengeluarkan izin.

‘’Kami akan terus komunikasikan dengan PT. ESL dan supaya segera melakukan eksekusi di lapangan. Karena secara kasat mata tak ada aktivitas di lapangan. Setelah lewat peringatan ketiga, kita diskusikan kembali langkah yang akan diambil,’’ terangnya.

Catatan Suara NTB,  PT. ESL menunggak pembayaran iuran Izin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) sekitar Rp3,4  miliar lebih untuk izin yang berada di Hutan Sekaroh. Selain itu, PT. ESL juga berkewajiban membayar iuran IUPJWA sekitar Rp3,2 miliar lebih, untuk investasi yang berada di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).

PT. ESL merupakan investor asal Swedia yang berencana membangun eco tourism terbesar di Asia yang terletak di kawasan Pantai Pink, Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur. Saat kick off ceremony Tanjung Ringgit di Kawasan Pantai Pink, Rabu, 29 Januari 2014 lalu, investor ini berencana membangun 20-30 vila, restoran, diveshop, pasar tani dan nelayan di kawasan tersebut.

Hadir dalam acara kick off ceremony tersebut, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang saat itu dijabat Dr. Mari Elka Pangestu, Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Mrs. Ewa Polano, Wakil Gubernur NTB (waktu itu), H. Muh. Amin, SH, M. Si. Namun beberapa tahun setelah acara seremonial tersebut, belum ada progres pembangunan di sana, akibat sengketa perizinan dan persoalan lahan, yakni sertifikat diduga ilegal.

Luas kawasan hutan Sekaroh yang diberikan pengelolaannya untuk kepentingan wisata alam seluas 330 hektar lebih, termasuk Pantai Pink. Dari izin yang diperoleh, PT. ESL hanya diperbolehkan membangun sekitar 10 persen dari luas kawasan. Sementara 90 persen lainnya dimaksudkan untuk perlindungan hutan. (nas)