Pengusaha Pariwisata Dukung Investasi Glamping di Rinjani

0
4
Awanadhi Aswinabawa (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Selain pihak yang menentang, tidak sedikit memberikan dukungan agar investasi berupa glamour camping (Glamping) segera direalisasikan. Salah satu dukungan itu datang dari Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) NTB, Awanadhi Aswinabawa. Menurut dia, perkembangan industri pariwisata tidak bisa dielakkan dari sentuhan konsep lain, termasuk glamping.

”Kita harus siap menerima perubahan, apapun itu. Supaya pariwisata kita lebih bervariasi,” katanya menjawab Suara NTB, Selasa, 25 Februari 2020.

Menurut dia, penolakan glamping itu terlalu terburu buru, karena pihak Investor PT. Rinjani Glamping Indonesia belum detail dan lebih masif menyampaikan alasannya menanamkan investasi di Rinjani.

Sepengetahuannya, konsep glamping termasuk yang sangat kompromistis dengan alam. Konstruksi penginapannya menggunakan tenda dan bahan bahan ramah alam lainnya.

“Glamping ini jualannya alam. Sumber daya alam itu sendiri. Kalau dia merusak alam, itu bukan glamping namanya,” tandasnya.

Dia memberi contoh di beberapa daerah yang sudah menerapkan konsep pariwisata yang sama. Seperti di Garut Jawa Barat, Lembang, bahkan termasuk di NTB, wisata glamping ada di Pulau Moyo, Sumbawa Besar.

“Itu sangat menyatu dengan alam,” tandasnya.

Menurut dia, masyarakat harus bijak memberi respon kepada investasi yang masuk, termasuk bidang pariwisata. Investor harus diberi kesempatan untuk memberikan presentasi tentang konsep pariwisata yang diyakini akan memberi efek samping kepada ekonomi dan sosial masyarakat.

Terlebih Provinsi NTB “jualan” utamanya adalah wisata alam, termasuk Rinjani yang menjadi magnetnya. “Artinya, beri kesempatan investor untuk menjelaskan dulu. Jangan buru buru ada pro-kontra,” jelasnya.

Tapi yang harus dilakukan adalah mengawal investor agar memenuhi syarat pendukung, seperti faktor lingkungan, komunitas setempat, kenyamanan wisatawan dan kepentingan pelaku industri pariwisata. Jika empat konsep ini sudah terpenuhi, baginya investasi apa pun itu, termasuk Glamping tidak jadi soal. Sebab itu menjadi syarat utama pariwisata berkelanjutan.

  WWF Minta Investor Glamping dan TNGR Pertimbangkan Reaksi Publik

“Kita harus siap dengan pariwisata berkelanjutan ini,” jelasnya.

Diketahui, ada tiga investor yang tertarik menggarap potensi wisata Rinjani. Diantaranya PT Indonesia Lombok Resort dengan konsep wisata kereta gantung, PT Rinjani Glamping Indonesia ingin membuat fasilitas glamping di sekitar Danau Segara Anak dan PT Airbus Helicopters Indonesia menawarkan konsep heli tourism.

Selain mendukung konsep Glamping sebagai salah satu alternatif wisata alam yang menarik, dukungan sama untuk rencana investasi kereta gantung. Di beberapa belahan dunia, termasuk China sudah jauh lebih maju dengan banyaknya titik pembangunan kereta gantung. Namun tentu tidak ditempatkan di semua area. Sama halnya dengan heli tourism, baginya tidak berdampak pada alam.

Kesimpulan dia, semua perubahan harus disikapi dengan bijak. ”Kita harus siap-siap dengan perubahan, kalau tidak ya kita ditinggal oleh perubahan itu,” tandasnya. (ars)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here