Jembatan Tampes Dua Kali Putus

Jembatan Tampes yang putus diterjang luapan air sungai akibat hujan lebat, Jumat, 21 Februari 2020 pagi. (Suara NTB/ari).

Tanjung (Suara NTB) – Jembatan Tampes di jalur jalan nasional, di Dusun Tampes, Desa Selengen, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), kembali putus untuk kedua kalinya. Kerusakan pada jembatan, lagi-lagi akibat banjir bandang Jumat, 21 Februari 2020 dini hari.

Informasi yang dihimpun, Jembatan Tampes kembali putus  sekitar pukul 05.00 Wita. Konstruksi jembatan tidak mampu menahan terjangan air yang datang secara tiba-tiba. Bahkan, terlihat dari bekas aliran air, sampah yang tersangkut di lorong jembatan menghambat laju air sehingga air melewati atas jembatan.

Dampaknya, badan jalan tanah yang menyambungkan jalan aspal sebelah barat dengan jembatan, kembali amblas akibat disapu banjir Kali Tampes. Pile side yang berdiri kokoh tidak mampu menahan terjangan air. Sementara pada konstruksi jembatan, terlihat patah. Setengah badan jembatan sebelah barat turun lebih rendah. Kondisi ini secara otomatis menyulitkan pengendara.

Balai Jalan Nasional Wilayah IX, sejatinya sudah memiliki perencanaan matang untuk memperbaiki jembatan. Dalam waktu dua hari pascaputusnya jembatan pertama kali, jembatan sudah langsung diperbaiki. Balai Jalan juga membuat struktur pondasi di bagian hulu jembatan sebagai alternatif pembangunan jembatan bailey.

Jembatan Bailey ditargetkan akan dikerjakan selama tiga minggu pascakerusakan. Namun langkah itu urung dilanjutkan lantaran Pemda KLU belum tuntas menangani persoalan sewa lahan yang dilalui jembatan bailey. Untungnya, warga dan Pemda melakukan rembug menyelesaikan sewa lahan yang akan dilalui di jalur jembatan bailey.

Baca juga:  Enam Jembatan Putus Diperbaiki

Kabid Kedaruratan dan Logistik, pada BPBD KLU, Pasek Suparta, mengamini jika musyawarah antara warga dan Pemda sudah tuntas. Dalam rapat itu hadir antara lain, Plt. Asisten III Setda KLU, Kadis PUPR NTB, Plt. Kadis PUPR KLU, BPBD KLU, Bappeda KLU serta Kades Selengen.

Musyawarah itu membahas kompensasi pemanfaatan jalur yang dilalui jembatan Bailey. Di mana terdapat dua pemilik lahan di dua titik. Lahan di sebelah barat, adalah milik warga Dusun Tampes. Sedangkan lahan sebelah timur, milik masyarakat Dusun Lembah Berota sebagaimana status lahan adalah lahan TPU.

‘’Adapun lahan yang digunakan akan dikembalikan sesuai peruntukan semula apabila jembatan permanen selesai,’’ ujar Pasek.

Ia menambahkan, tidak ada permasalahan tentang sewa lahan di areal kuburan. Masyarakat setempat sudah membuat pernyataan digunakannya lahan untuk sementara waktu. Kepala Desa setempat, akan melakukan konsolidasi dengan warganya paling lambat Jumat, 21 Februari 2020 sore. ‘’Usai salat Jumat kami kumpul lagi dan disepakati Sabtu (22/2) (hari ini) sudah bisa dimulai pengerjaan jembatan bailey,” sambungnya.

Sementara, warga berharap adanya penanganan cepat terhadap jembatan di jalur jalan nasional itu. Sebab jalur tersebut merupakan jalur utama dan terdekat penghubung mobilitas Bayan – Mataram. Meskipun terdapat dua jalur alternatif melewati Dusun Tampes – Dusun Tangga (Desa Selengen) ke Desa Salut, dan Jalur Tampes – Sambik Rindang – Salut, namun masyarakat harus memutar lebih dari 3-7 Km.

Baca juga:  BPBD NTB dan Kabupaten/Kota Satukan Tekad Tangani Bencana

‘’Harapan kita segera dibuatkan jembatan alternatif pengganti jembatan lama. Jalan ini merupakan penghubung bagi akses ekonomi, akses pendidikan dan akses kesehatan masyarakat,’’ kata Safwan, warga Lembah Berora.

Akses Masyarakat Terganggu

Putusnya jembatan Tampes mengakibatkan,  akses masyarakat di jalur jalan  nasional tersebut juga terganggu. Sementara itu, pembangunan jembatan darurat Bailey di lokasi yang tidak jauh dari jembatan yang putus terkendala persoalan lahan.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc telah memerintahkan Kepala Dinas PUPR NTB, Ir. H. Azhar, MM berkoordinasi dengan Pemda KLU untuk segera menyelesaikan persoalan lahan agar jembatan darurat dari baja segera dapat dibangun.

‘’Saya bersama Pak Kadis di lapangan, di KLU. Masih kita koordinasikan masalah tanahnya sedikit. Putus total sekarang ini, tak bisa apa-apa. Kecuali kita bangun jembatan darurat Bailey. Kita mau pasang Bailey. Namun masih kendala sedikit,’’ kata Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR NTB, Ir. H. Sahdan, MT dikonfirmasi Suara NTB, Jumat, 21 Februari 2020 kemarin.

Baca juga:  Gubernur dan Wagub Perintahkan Dinas PUPR NTB Atasi Jalan Putus Kuta-Awang

Selain menunjau ke lokasi jembatan yang putus total. Sahdan mengatakan pihaknya juga berkoordinasi dengan Pemda KLU. Sebenarnya, kata Sahdan, pascajembatan tersebut putus beberapa waktu lalu, rangka baja untuk pembangunan jembatan darurat bailey sudah ada di lokasi.

Tetapi, pembangunan jembatan darurat bailey tersebut terkendala persoalan lahan. Ia menyebut lahan yang dibutuhkan sekitar setengah are. Di lokasi tersebut ada tempat pemakaman sekitar setengah are yang dapat digunakan. Tanah pemakaman tersebut masih kosong alias belum ada kuburan.

‘’Pak Gubernur memerintahkan Kadis PU, untuk segera berkoordinasi dengan Pemda KLU soal tanah. Butuh lahan setengah are. Walaupun sedikit. Itu tanah makam, tanah umum. Tapi pada posisi yang kita pakai tidak ada kubur. Kita hanya pinjam sementara, bukan selamanya,’’ jelasnya.

Diharapkan masalah lahan ini segera menemukan solusi. Apabila hari ini bisa selesai masalah tanahnya, maka Sabtu (22/2), hari ini sudah bisa dikerjakan pembangunan jembatan darurat bailey. Pembangunan jembatan darurat tersebut, kata Sahdan butuh waktu paling cepat dua minggu dan paling lama 20 hari.

‘’Karena yang sebelah sudah terpasang, tinggal sebelah saja, peretakannya. Ini sudah ada rangka baja di lapangan,’’ jelasnya. (ari/nas)