Geopark Rinjani Ingatkan Investor Soal Kesakralan Rinjani

Ilustrasi Gunung Rinjani. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Setelah ditetapkan dengan sertifikasi Unesco Global Geopark (UGG),  Geopark Rinjani secara kelembagaan turut menjaga kelestarian ekologis hingga kultur budaya Rinjani dan sekitarnya. Kehadiran investor dikhawatirkan akan menggangu tatanan sosial dan alam yang sudah berabad abad hidup rukun.

Menurut Dewan Pelaksana Harian Geopark Rinjani, L. Budi Karyawan, Gunung Rinjani bukan sekadar pasak bumi dengan ketinggian 3.726 mdpl. Lebih dari itu ada nilai yang tak kasat mata. ‘’Rinjani itu sakral bagi masyarakat Lombok,’’ ujarnya. Geopark Rinjani juga memastikan terjaganya komponen geological heritage, natural heritage dan cultural heritage.

Memang, kata dia, wacana heli tourism dan glamour camping (Glamping) bukan hal baru. Pernah ada sea plane dan helikopter mendarat di Danau Segara Anak. Hujan protes dari aktivis lingkungan, organisasi trakking hingga masyarakat sekitar kaki Rinjani.

Dipahami Budi, kultur masyarakat Lombok tidak anti investasi, apalagi untuk pengembangan wisata daerah. Rencana pembangunan akomodasi di pinggir Danau Segara Anak diyakini akan menuai kontroversi, khususnya dari masyarakat adat.

‘’Masyarakat Lombok sangat menghargai Rinjani dari sisi kebudayaan. Rinjani adalah kiblat penghormatan masyarakat adat ada di situ,’’ tegasnya.

Rinjani, khususnya Danau Segara Anak dijadikan tempat ritual Mulang Pakelem umat Hindu Lombok dan berbagai ritual lain yang memanfaatkan sumber air panas di Aik Kalau, khususnya untuk kegiatan pengobatan.

‘’Jadi mereka memandang Rinjani sebagai ‘’ibu’’, yang di dalamnya bersemayam Dewi Anjani. Ini memang tak kasat mata, tapi mereka sangat menghargai nilai nilai itu,’’ tandasnya.

Rinjani dengan komponen di dalamnya zona inti dan zona pemanfaatan juga harus diperhatikan. Ia khawatir ruang terbuka bagi investasi akan menggangu zona inti yang tidak boleh disentuh modernisasi dengan alasan apapun.

Kekhawatiran lain, sentuhan baru dengan alasan industri pariwisata akan memancing investasi bentuk lain dan semakin menghilangkan sakralitas Rinjani. Ia pun berkelakar, ritel modern pun akan berusaha menerobos izin membuka toko di puncak Rinjani.

Mewakili pemerihati lingkungan, Rijal F, tidak hanya menyinggung soal ancaman vegetasi dengan helikopter yang selebrasi di atas Segara Anak, ia juga melihat banyak kehidupan lain yang harus diperhatikan. Dia menghitung, ada 1.731 jumlah porter dan guide yang menggantungkan hidup dari Rinjani.

Belum  lagi usaha Trakking Organizer (TO) mempekerjakan guide dan porter. Ia melihat ada segmen yang sama dibidik oleh PT. Rinjani Glamping Indonesia dan PT. Airbus Helicopters Indonesia. Konsep heli tourism akan mengambil pasar yang selama ini jadi sumber penghasilan pekerja dan pengusaha lokal. ‘’Apalagi sekarang sudah bisa akses tiket dengan booking online, dengan heli tamu bisa langsung ke Segara Anak. Ini kan wajar ada  kekhawatiran mematikan usaha lokal. Jadi harus dipertimbangkan,’’  tegasnya. (ars)