Susun Formula Investasi dan Industri

Hj. Sri Suzana - Andi Kusmayadi - Arifuddin (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Sejumlah kabupaten/kota menyiapkan industrinya dengan membangun formula yang efektif. Investasi di bidang industri pengolahan komoditas lokal pun telah dimulai. Meski, masih ada berbagai kendala yang menghadang.

Di Kabupaten Sumbawa misalnya, industri pakan, kopi, tenun dan garam patut mendapat tempat teratas untuk diperhatikan. Proyek besar industrialiasi NTB membuat Pemkab Sumbawa menata perencanaan. Konsep industri penyediaan bahan baku harus mulai dialihkan ke olahan.

Kabid Industri pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumbawa, Andi Kusmayadi menerangkan, Pemkab Sumbawa sudah mengukur kekuatan produk unggulan. Namun yang selama ini terjadi, industri bahan baku kerap melompat ke industri jasa. Melewati industri olahan.

“Di Sumbawa, kita formulasi mana yang cepat diungkit. Kita akan mulai di 2020 ada tiga komoditi. Industri unggul ini adalah bergabungnya para pelaku di bahan baku, UKM IKM, teknologi dan inovasi kampus, pemerintah, dan swasta,” jelasnya.

Menurutnya, dalam penerapan industrialisasi Kamar Dagang Industri (Kadin) ditempatkan paling utama dengan daya dukung riset perguruan tinggi dan pemerintah.

Komoditi unggulan yang coba dikembangkan Sumbawa, kata Andi, yakni garam. Pengolahan garam Sumbawa dalam praktiknya ditarget bisa setara dengan produksi Kabupaten Bima.

“Kita sedang proses SNI. Garam NaCl untuk konsumsi itu 94 persen kalau industri 97 persen. Itu yang kita kejar sekarang. Kebijakannya kita sudah wajibkan ASN dan masyarakat konsumsi garam Yodium,” terangnya.

Andi menyebut Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah sebelumnya menyarankan perihal industri pakan yang dapat dijadikan primadona Kabupaten Sumbawa. Berkaca pada peternakan sapi yang sampai kini belum konsisten menghasilkan sapi dengan berat di atas 300 Kg.

“Agar bisa gemuk maka kita tingkatkan pakan. Solusinya pakan organik. Di situ tempatnya STIP itu bermain,” sebutnya. Pemkab Sumbawa, imbuhnya, menyiapkan lahan kawasan organik untuk bahan baku.

Pakan tersebut kata Andi sebelumnya masih masuk dalam 39 persen produksi bahan baku. Bahan baku itu masih keluar dalam bentuk utuh tanpa diolah menjadi pakan lebih dulu.

Bawang dan Garam Bima

 

Pasang surut industri garam tak membuat Kabupaten Bima mundur. Sempat berjaya pada 2017, produksi bawang berstandar nasional mulai digenjot lagi. Selain itu ada produk olahan bawang merah yang mulai merangsek masuk pasaran.

Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Bima, H. Arifuddin menyebut, potensi industri direncanakan dengan tujuan kesejahteraan masyarakat. Warga Kabupaten Bima secara tradisi bertani bawang merah dan garam. Potensi itu akan lebih digali.

“Ada empat kecamatan dengan potensi garam, Bolo, Woha, Palibelo dan Sape. Jadi perhatian kita bagaimana potensi itu bisa membuat masyarakat sejahtera,” sebutnya.

Ia menambahkan, selama ini petani kerap menemui kondisi pasar yang tidak menguntungkan. Contohnya saat harga anjlok. “IKM juga punya keterbatasan modal dan mindset mereka yang penting bisa berproduksi tapi tidak berpikir meningkatkan kualitas. Kita upaya supaya potensi ini maksimal,” terangnya.

Arifuddin mengenang produksi garam Bima yang menyedot investasi pada tahun 2017 lalu. Pengirimannya pun mencapai 10 kontainer per sesi menuju Surabaya, Jawa Timur. Harapan yang membuncah pun meredup seiring penurunan kualitas.

“Tidak bisa bertahan. Kalau mau bagus, petani jangan asal panen. Harusnya menunggu 10-12 hari kalau mau punya kualitas garam yang baik. Tapi ini mau langsung panen. Mindset petani kita seperti itu. Maka peran kami di sana memberi pembelajaran,” terangnya.

Kemudian, sentra pertanian bawang merah juga menjadi sasaran industri bagi Kabupaten Bima. tidak hanya sebagai bahan baku tetapi juga produk olahan. Bawang merah sebagai hasil pertanian perlu dukungan teknologi untuk menjamin kesegaran dan kualitas.

“Bagaimana menggoreng yang baik, pengemasannya bagaimana agar bisa mengangkat harga. Kita butuh investasi besar teknologi karena kalau disimpan cepat busuk dan penggunaan pestisida yang berlebihan,” papar Arif.

Investasi Datang dan Pergi

 

Industri pertanian Kabupaten Dompu sudah menyambut investasi berteknologi. Pabrik gula dan rumput laut pernah menyambangi. Namun harus pupus di tengah jalan sebab problem bahan baku.

Kadisperindag Dompu, Dra. Hj. Sri Suzana, M.Si mengatakan industri olahan pertanian sempat menjadi salah satu penopang ekonomi. Dia mencotohkan pabrik gula PT SMS.

Kesediaan lahan tebu seluas 6.000 hektare belum cukup untuk memenuhi permintaan produksi pabrik. Lahan tebu Dompu baru bisa memenuhi 1.200 ton kebutuhan. Sementara mesin pabrik harus mengolah 3.000 ton per hari untuk menutupi ongkos operasionalnya.

Suzana menghitung, pabrik hanya berproduksi selama 120 hari selama satu tahun . Kalau tidak berproduksi dia akan rugi 450 juta per hari. Keterbatasan ini akhirnya memaksa diambilnya opsi mengimpor bahan dasar gula dari Thailand. Maka, dia berharap sinergi dengan kabupaten tetangga seperti Sumbawa dan Bima untuk bahan baku gula yakni tanaman tebu.

“Kita sampai sekarang ini baru menuju industrialisasi. Kalau seperti ini masalahnya kapan kita sampai. Miris sekali saya,” ujarnya.

Selain persoalan bahan baku, Dompu pun kerap termakan janji manis investasi investor. Seperti dalam pengolahan rumput laut. Investor hanya bisa memberi layanan bibir alias omongan manis belaka tanpa realisasi.

Maka, kata Suzana, industri kecil menengah jadi tumpuan gerak roda ekonomi. Intervensi pemerintah pun menurutnya lebih baik dalam hal gelontoran anggaran pendukung UKM dan IKM.

“Ada 3.000 UKM IKM di Dompu. Saya melihat mereka masih tidak fokus pada satu bahan. Maka kita coba fokuskan kopi Tambora,” paparnya.

Intervensi anggaran dan program pemerintah, kata dia, berupa peningkatan alat dan mesin pascapanen seperti alat sangrai dan kemasan. “Sampai akhirnya mereka bisa produksi kopi Tambora dalam bentuk sachet. Ini mimpi kami memajukan IKM,” kata Suzana.

Selanjutnya, Dompu melihat pasar olahan jagung sebagai target industri. Kemudian olahan ikan Tuna, Tengiri, dan Udang, sampai Bandeng. “Fokus kami hanya pada produk unggulan berdasarkan potensi yang kami miliki jadi hasilnya bisa kita nikmati 2-3 tahun ke depan,” pungkasnya. (why)