Wisatawan Keluhkan Dikejar-kejar Pedagang Asongan di KEK Mandalika

Para pedagang asongan yang mengejar-ngejar wisatawan yang berkunjung ke Pantai Kuta untuk menawarkan barang dagangannya. Kondisi ini sangat mengganggu kenyamanan wisatawan. (Suara NTB/nas)

Praya (Suara NTB) – Wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika mengeluhkan masih dikejar-kejar oleh pedagang asongan. Pihak Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) sebagai pengelola kawasan mengaku agak kesulitan mengatur para pedagang asongan. Padahal mereka sudah disiapkan lapak atau Bazaar Mandalika sebagai tempat berjualan.

Direktur Konstruksi dan Operasi ITDC, Ngurah Wirawan mengungkapkan pada 2016 lalu, banyak sekali pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di pinggir Pantai Kuta. Sekarang ITDC sudah menyiapkan lapak bagi pedagang yang ada di sana, berlokasi di dekat Masjid Nurul Bilad.

‘’Sekarang ini kami agak sulit mengatur karena sudah kami alokasikan lapak. Tetapi belum mulai ditempati. Lapak kurang ramai, betul. Karena memang ramainya pada saat Marathon TNI saja. Karena memang ada ribuan orang ke sini,’’ kata Ngurah pada acara Jumpa Bang Zul dan Ummi Rohmi di Pantai Kuta, Jumat, 18 Januari 2019 siang.

Ngurah mengatakan, ITDC berkewajiban membuat ramai kawasan Mandalika. Supaya lapak-lapak juga menjadi ramai. Mulai bulan depan, ITDC akan membuat kegiatan sejak hari Jumat, Sabtu dan Minggu agar Bazaar Mandalika semakin ramai pengunjungnya.

‘’Tinggal sekarang yang punya lapak, manfaatkan. Harapan kami itu bisa ramai. Yang tidak mengambil alokasi, tidak buka warungnya, kita akan ambil lapaknya. Kita berikan ke warga setempat. Jangan ambil lapaknya, kemudian dijual ke orang. Warga yang butuh makan berjualanlah di sana,’’ katanya mengingatkan.

Meskipun kawasan Pantai Kuta sudah tertata rapi. Namun, kata Ngurah, pihaknya masih memiliki pekerjaan rumah. Yakni menertibkan pedagang asongan yang mengejar-ngejar wisatawan atau pengunjung agar membeli barang dagangannya.

‘’Saudara-saudara kita yang berdagang di bawah pohon ketapang (pinggir pantai). Masih banyak menjadi keluhan wisatawan. Kita punya rating bagus di trip advisor. Sekarang wisatawan tidak ada yang mereka keluhkan terkait kebersihan dan keamanan. Namun masih ada keluhan mereka dikejar-kejar pedagang,’’ ungkapnya.

  Jokowi Minta Hotel di KEK Mandalika Pakai Gaya Arsitektur Sasak

Menurutnya, hal ini dapat menurunkan minat orang untuk berkunjung ke Pantai Kuta. Wisatawan takut berkunjung ke pantai karena dikejar-kejar pedagang. ‘’Bagaimana mungkin mereka ke pantai, karena takut dikejar-kejar pedagang. Mari kita sepakati. Dan kami berusaha keras meramaikan pasar dan bazar ini,’’ ujarnya.

Menurut Ngurah, apabila wisatawan yang berkunjung dikejar-kejar pedagang yang menawarkan barang dagangannya. Wisatawan akan bercerita ke teman-temannya agar tak berkunjung ke Pantai Kuta. Padahal Pantai Kuta sangat bersih dan keamanan juga cukup baik.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc  menginstruksikan Jumpa Bang Zul dan Ummi Rohmi  diselenggarakan di KEK Mandalika dan mengundang ITDC bersama warga Kuta dan sekitarnya untuk duduk bersama dan berdiskusi menyelesaikan permasalahan yang ada di KEK Mandalika.

Gubernur benar-benar serius dalam menyelesaikan permasalahan di KEK. Terlihat dalam rombongan yang hadir bersama gubernur mulai dari Dirut ITDC, Abdulbar M. Mansoer, Direktur Konstruksi dan Operasi, Ngurah Wirawan, Direktur Proyek The Mandalika, Hari Wibisono dan Wakil Direktur Proyek The Mandalika, Adi Sujono. Hadir juga Sekda NTB, Ir.H. Rosiady H.Sayuti, M.Sc.PhD serta hampir seluruh Kepala OPD lingkup Pemprov NTB. Gubernur  ingin mendengarkan langsung yang ingin disampaikan masyarakat.

‘’Ekonomi Indonesia adalah ekonomi yang terbuka. Ekonomi di daerah kita juga adalah sistem ekonomi terbuka. Aktor utamanya bukan pemerintah, tapi adalah dunia usaha,’’ katanya.

Ia menjelaskan, setiap perekonomian masalahnya ada dua. Pengangguran dan kemiskinan, yang tidak mungkin bisa diatasi sendiri oleh bupati/walikota dan gubernur jika tidak ada dunia usaha. Dunia usahalah yang berperan besar dalam mengentaskan kemiskinan dan pengangguran.

‘’Kami adalah aparat yang tugasnya membantu melayani masyarakat. Kami rela menjadi pesuruh masyarakat. Siapa yang mau jadi gubernur, bupati maupun kepala dinas, adalah mereka yg mau berkorban dan punya kerendahan hati melayani masyarakat,’’ ujarnya.

  Proyek Dermaga Apung di Kuta Mulai Rusak

Orang nomor satu di NTB ini  menjelaskan, posisi ITDC yang begitu penting sebagai dunia usaha dalam pengembangan pariwisata di NTB. Tugas pemerintah adalah memastikan dunia usaha aman, nyaman dan menyenangkan. Tetapi walaupun dunia usaha  ingin nyaman, jangan lupakan masyarakat. Jangan sampai masyarakat menjadi penonton di daerahnya sendiri.

‘’Mandalika ini, Kuta ini bukan punya orang Lombok saja, bukan punya orang NTB saja, bukan punya Indonesia saja. Alhamdulillah kita diberkahi suatu kawasan yang dimiliki dunia. Kita tidak ingin melihat anak-anak kita hanya menjadi pedagang yg mengejar-ngejar pembeli. Saya ingin melihat anak-anak Lombok Tengah kelak memiliki pendidikan tinggi, bahkan menjadi Direktur ITDC,’’ harapnya.

Senada dengang gubernur, Direktur Utama  ITDC, Abdulbar M. Mansoer menegaskan bahwa ITDC hadir sebagai bagian dari BUMN dan bertujuan memberikan manfaat kepada masyarakat.  ITDC adalah bagian dari BUMN dan milik masyarakat.

‘’Kami ingin mengingatkan dulu saat membangun di Bali, suasananya juga seperti ini. Namun dalam perjalanannya, semuanya mendapatkan manfaat. Warga yang dulu hanya berdagang, kini memiliki pendapatan jauh lebih besar. 30 persen pegawai kita di Bali adalah pemuda desa. Itu yang ingin kita wujudkan. Memang di awal selalu berat,’’ ujarnya.

Acara berlangsung interaktif dengan bergantian warga bertanya dan langsung dijawab oleh gubernur, Kepala OPD hingga jajaran ITDC. (nas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here