FS Jembatan Lombok-Sumbawa Berpotensi Tak Bisa Dieksekusi 2020

Ilustrasi Jembatan Antarpulau

Mataram (Suara NTB)Feasibility Study (FS) atau studi kelayakan proyek jembatan Lombok – Sumbawa berpotensi tidak dapat dieksekusi pada 2020 mendatang. Kalaupun dianggarakan dalam APBD Perubahan 2020, pelaksanaan FS tidak mungkin bisa selesai dalam jangka waktu enam bulan.

FS proyek Jembatan Lombok – Sumbawa akan menelan anggaran sekitar Rp12 miliar. Apabila dianggarkan, belum lagi pelaksanaan tendernya. ‘’Dari segi waktu kapan tendernya, kapan dilaksanakan. Kalau FS sampai Rp12 miliar, tidak mungkin 6 bulan selesai. Paling tidak butuh waktu 8 bulan,’’ kata Kepala Bappeda NTB, Ir.Wedha Magma Ardhi, MT dikonfirmasi di Mataram, Jumat, 13 Desember 2019 kemarin.

Apakah bisa tender dimajukan mulai awal tahun 2020, sedangkan anggarannya dialokasikan di APBD Perubahan 2020? Mantan Kepala Dinas PUPR NTB ini mengatakan tender tidak bisa dimajukan. Karena dasar untuk melakukan tender belum ada.

Pasalnya, anggaran FS belum ada di APBD murni 2020. Akibatnya, belum masuk dalam  Daftar Pelaksanaan Anggaran (DPA). Sehingga tidak bisa masuk dalam Sistem Rencana Umum Pengadaan (Sirup). ‘’Paling mungkin FS dilakukan 2021,’’ katanya.

Pemprov NTB akan menyiapkan anggaran sekitar Rp12 miliar untuk FS rencana pembangunan Jembatan Lombok – Sumbawa. Dari sisi bisnis, pembangunan Jembatan Lombok – Sumbawa cukup menjanjikan, karena investasi balik modal diperkirakan kurang dari 10 tahun. Hal ini melihat potensi pendapatan dari penyeberangan Kayangan – Poto Tano yang mencapai Rp30 miliar sebulan.

‘’Komitmen Pemprov,  jembatan itu strategis. Untuk memastikan dia layak, itu harus FS dulu. Study itu penting karena itu akan kita tawarkan ke investor. Investor pasti membutuhkan hitung-hitungannya,’’ kata Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB, Ir. H. Ridwan Syah.

Pemprov akan mengundang konsultan yang akan melakukan FS asal Korea tersebut untuk memaparkan ke gubernur. Dengan anggaran sebesar Rp12 miliar tersebut, konsultan akan melakukan FS dari sisi teknis.

Bupati KSB, Dr. Ir. H. W. Musyafirin, MM mengatakan investor tidak akan rugi jika membangun Jembatan Lombok – Sumbawa. Hasil hitung-hitungan secara kasar, pendapatan penyeberangan Kayangan – Poto Tano saja sekitar Rp30 miliar sebulan.

Apalagi jika ada jembatan tersebut, secara ekonomi akan sangat menguntungkan. Dengan penyeberangan yang membutuhkan waktu sekitar 2 jam saja, pendapatan bisa mencapai Rp30 miliar sebulan. Apalagi dengan adanya jembatan tersebut, jarak tempuhnya hanya 15 menit.

‘’Cepat balik modal investasi itu. Ndak sampai 10 tahun sudah balik pokok investasinya. Ini perhitungan kasar saja. Cuma kelayakan teknis yang kita minta. Apakah dia jembatan full, atau jembatan dan terowongan,’’ katanya. (nas)