Ironi Peti di Lahan Konsesi; ‘’Pembunuh’’ Senyap Bernama Merkuri

Kondisi Narzil Ilham Jayadi, Resi Indra Yana dan Johari Saputra  yang mengalami kelainan fisik sejak lahir (Suara NTB/ars)

Advertisement

Dalam bisnis dan aktivitas tambang ilegal, merkuri adalah ‘oksigen’ karena menentukan keberlangsungan produksi. Saat yang bersamaan, zat kimia ini ‘bertanggung jawab’ atas kematian dan kerusakan lingkungan dalam sejarah panjang tambang terlarang sejak tahun 1950-an. Diantaranya kasus di Minamata Jepang yang menewaskan 111 jiwa, di Irak 35 orang meninggal 321 cidera, dan Guatemala 20 orang meninggal 45 cidera akibat keracunan merkuri (Palar, 2008 : 104).

Bagaimana dampak penggunaan merkuri di Kabupaten Sumbawa Barat?

Sudah dua tahun Nazril Ilham Jayadi (4) hanya bisa tergeletak di atas pembaringan.  Bobot kepalanya yang semakin berat dan membesar, membuat Nazril sulit bergerak, apalagi duduk atau berdiri. Hari-hari yang sulit itu masih dirasakan buah hati pasangan muda Nurul Aini (23) dan Nasumi Jayadi (25). Ukuran kepalanya yang serupa orang dewasa, semakin tidak imbang dengan tubuh mungilnya.

Jika mencermati ciri yang sama, dalam pandangan medis kondisi ini disebut hidrosefalus. Ditandai dengan ukuran kepala bayi yang membesar secara tidak normal akibat penumpukan cairan di dalam rongga ventrikel otak.

Lima bulan setelah kelahirannya, awalnya ia adalah bayi yang tumbuh normal. Masuk usia enam bulan, Nazril mulai sakit- sakitan, sesekali mengalami kejang. Perubahan mulai dilihat Nurul Aini setelah kepalanya semakin membesar. Anggota tubuh lain tak berfungsi baik. ‘’Tangan dan kakinya keras. Kadang- kadang kelihatan gemetar,’’ tutur Nurul Aini kepada Suara NTB.

Sejak itu, kontrol atas kondisi tubuhnya meningkat seiring fisiknya yang tak kunjung membaik. Dari posyandu desa setempat, kemudian ke Puskesmas Maluk, berlanjut ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumbawa Barat. “Dokter rumah sakit sarankan kami rujuk ke Mataram. tapi itu sudah, belum ada ada biaya,” tutur  Nurul.

Pasangan ini  hidup sederhana di sebuah gubuk dengan ukuran dua kali empat meter di sebuah petak lahan Dusun Lamunga Bawah, Desa Batu Putih, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat. Rumah mereka berbatasan langsung dengan kaki bukit Lamunga, gugus ketinggian yang saban hari dicacah penambang liar untuk mencari bijih emas.

Nasumi menggantungkan penghasilannya dari bukit yang masuk kawasan Kontrak Karya (KK) sebuah perusahaan tambang. Dalam aktivitas tambang liar dan proses produksi, Nasumi masuk dalam tahap  gelondong atau proses pemisahan  awal material batu kasar menjadi halus. Dalam proses itu, merkuri adalah cairan paling akrab baginya.

Harjo (40) juga akrab dengan aktivitas PETI (Penambangan Emas Tanpa Izin) dengan bahan kimia seperti merkuri. Tinggal di Dusun Sedong Bewah Desa Klaner, Kecamatan Taliwang. Harjo adalah perantau. Asal silsilah keluarganya dari Kecamatan Sakra, Lombok Timur.  Sebenarnya ia terbiasa bercocok tanam meski kawasan itu tadah hujan. Hasil pertanian padi dan komoditi lain sudah cukup jadi kelangsungan hidup dan biaya sekolah anak anaknya. Tapi sejak 2010, ia tergiur dengan penghasilan dari aktivitas PETI, meski hanya sebagai kuli angkut dan gelondong. Dalam sepekan, ia bisa menghasilkan Rp 1 juta. Hasil yang mustahil dia dapat dari bertani untuk rentang waktu sama.

Saat proses gelondong material, ia mencampurkan merkuri ke dalam tabung silinder. Semudah menuangkan detergen dalam mesin cuci. Setelah empat sampai enam jam material digulung hingga jadi lumpur, proses berbahaya tapi dianggap santai oleh Harjo. Setelah menuangkan lumpur dari silinder ke dalam ember penampung, tangannya dicelupkan ke dalam air untuk meniriskan lumpur dengan merkuri.

Setelah proses ini, kuku tangan dan kakinya perlahan lahan rusak, diperkirakan karena terendam dalam lumpur yang mengandung merkuri. ‘’Kalau sudah rusak, biasanya sulit tumbuh kuku saya,’’ akunya. Kuku biasanya akan tumbuh beberapa pekan setelah tidak bersentuhan dengan merkuri.

Itu yang dirasakan secara fisik oleh Harjo, namun bukan hal yang dirisaukannya. Pikirannya mulai berubah untuk keluar dari aktivitas PETI setelah melihat fisik anaknya Resi Indra Yana (4). Jari kaki buah hati dengan pasangannya Sopiah (36) tumbuh tidak normal. Kaki kanannya hanya empat biji. Sementara kondisi kaki kiri juga tidak normal lagi. Antara ibu jari dengan jari di sampingnya berdempetean. Begitu juga dengan kelingking, berdempetan dengan jari kaki tengah. Melihat bentuk kaki siswi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini, bercabang dua menyerupai ketapel.

Saat mengandung, Sopiah mengaku tidak merasakan kelainan apapun. Ia normal menjalani proses kehamilan dengan tetap rutin kontrol di posyandu. Namun setelah persalinan, ia mendapati kaki anaknya tidak normal. Mereka ikhlas  menerima kondisi kekurangan fisik pada anaknya tersebut.

Tapi kekhawatiran tetap menggelayut dalam benaknya, karena mengkhawatirkan situasi yang terjadi pada anaknya tersebut tidak terlepas dari aktivitasnya saat produksi emas menggunakan merkuri.  ‘’Sudah dua tahun saya ndak gelondong lagi. Agak khawatir sih kalau lihat anak saya begini,’’ ujarnya.

Johari Saputra

Kondisi kelainan dialami Johari Saputra (4), jari tangannya justeru lebih. Ia lahir dengan membawa gumpalan daging mungil di tangan kanannya. Tumbuh di pangkal ibu jari. Lambat laun semakin membesar dan menggelantung. Ujung gumpalan daging itu tumbuh menyerupai kuku. Petugas medis di Puskesmas Maluk ketika itu menawarkan proses operasi untuk amputasi daging asing itu. Tapi pihak keluarga tidak mengizinkan karena daging tersebut dianggap punya mitos.

Johari Saputra tinggal bersama ayahnya Zaini Hermanto, satu rumah dengan  kakek dan neneknya. Zaini juga seorang pekerja tambang hingga saat ini. Aktivitasnya tetap dilakoni sembari terus mencari sumber penghasilan lain ketika produksi menurun.

Sementara istrinya Asiah, mencari nafkah tambahan menjadi TKI di Malaysia sejak 14 bulan lalu. Hasil PETI dan TKI digabungkan menjadi satu untuk membangun rumah baru. Belum ada tanda-tanda rumah akan berdiri utuh. Inilah yang membuat Zaini tetap bertahan di aktivitas tambang liar. Ia bertanggung jawab untuk menuntaskan bangunan rumah dan kebutuhan sehari-hari.

Kondisi sosial di Desa Lamunga dihadapkan pada pilihan PETI sebagai sumber penghasilan. Ada kesan, bahwa tanpa PETI, tidak ada penghasilan layak. Lahan pertanian dianggap tidak menjanjikan, karena hanya bisa menghasilkan sekali dalam setahun.

Kelainan fisik pada bayi dan anak anak di  Taliwang, Sumbawa Barat memang belum dapat disimpulkan dipicu terpaparnya keluarga mereka  akibat merkuri. Sejumlah pihak mulai intens menaruh perhatian pada bayi dan anak-anak di KSB dan berusaha membuat simpul hubungan dengan penggunaan merkuri berlebihan pada tambang rakyat. Dalam dua bulan terakhir, peneliti dari Australia dan Jepang dikabarkan telah turun mengambil sampel pada anak anak.

Di tingkat daerah, penelitian terus diintensifkan, dihubungkan dengan munculnya gangguan kesehatan pada warga.  Data Dinas Kesehatan Sumbawa Barat dan RSUD Sumbawa Barat, terdapat kecenderungan peningkatan penyakit dalam kurun waktu 2012-2014 dari ke 10 jenis penyakit.

Seperti penyakit ginjal yang pada tahun 2012 hanya di angka 89 kasus, namun memasuki tahun 2013 mengalami peningkatan yang signifikan menjadi 657 kasus dan di 2014 ini akan mengalami peningkatan menjadi 357 kasus dan belum termasuk input data tahun  2019. Begitu pula dengan peningkatan jumlah penderita penyakit kulit yang untuk tahun 2012 dikisaran 323 kasus namun di 2014 melonjak menjadi 917 kasus.

Cacat lahir yang terjadi di Sumbawa Barat sejak tahun 2012, hanya terjadi dalam 4 kasus saja. Namun setahun kemudian, melonjak menjadi 49 kasus.

Selain bayi yang lahir cacat di Taliwang, kelainan ditemukan di Brang Rea, dimana bayi lahir dengan usus terburai, lahir tanpa batok kepala. Kejadian ini kemudian dijadikan sampel kasus untuk lebih mendeskripsikan dan menarik benang merah dari dampak merkuri di Sumbawa Barat.

‘’Memang dampak dari pencemaran merkuri bukan seperti penyakit yang lainnya karena langsung dirasakan dampaknya, melainkan butuh waktu yang cukup panjang. Tetapi jika paparan merkuri di dalam tubuh sudah semakin banyak, maka kerusakan organ vital yang ada di dalam tubuh sangat dimungkinkan terjadi,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan Sumbawa Barat H. Tuwuh S. Ap belum lama ini.

Inilah yang kemudian membuat merkuri disebut sebagai “pembunuh” senyap. Dampaknya tidak dirasakan langsung, tapi perlahan lahan akan memberi pengaruh buruk bagi kesehatan dan kerusakan lingkungan.

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya mengungkapkan hasil riset yang mengejutkan. Pencemaran lingkungan di Sumbawa Barat akibat terpapar merkuri sudah berada pada ambang batas sehingga tidak aman bagi kesehatan. Bahkan beberapa sampel seperti daging kuda, pertanian padi dan juga ikan sudah terpapar merkuri. Sampel yang diambil di Kecamatan Brang Rea dan Taliwang tersebut mengindikasikan bahwa KSB sudah masuk ke dalam kategori zona merah merkuri.

Berdasarkan hasil uji laboratorium BBTKLPP  Surabaya yang sudah diserahkan ke Dikes Sumbawa Barat, tanaman padi ditemukan kadar merkuri sebesar 0,37 miligram atau diatas ambang batas dari batas aman sebesar 0,3 miligram. Selain itu di sampel daging kuda juga ditemukan kadar merkuri di atas 0,3 miligram sesuai dengan standar kesehatan lingkungan yang ditetapkan.

Berdasarkan hasil sample tanaman padi, ikan, dan daging kuda yang diambil dari Kecamatan Brang Rea dan Taliwang, tingkat paparan merkuri sudah berada di atas ambang batas. Bahkan di beberapa sampel rambut yang diambil juga ditemukan adanya kandungan merkuri.

‘’Melihat fenomena tersebut itu artinya bahwa kondisi pencemaran merkuri di KSB sudah sangat parah dan harus segera disikapi,’’ kata Tuwuh mengutip hasil riset tersebut.

Isu tentang kemungkinan timbulnya pencemaran dari aktivitas pertambangan rakyat di Kabupaten Sumbawa Barat menguatkan stigma terhadap masyarakat sebagai pelaku pencemaran melalui aktivitas tambang liar.

Uji laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat misalnya, mencatat bahwa air di Danau Lebo’ tercemar mercuri 0,466 mg/l. Hasil Uji Laboratorium Bogor Tahun 2013 tersebut menjadi justifikasi beberapa pihak untuk mendesak agar mencari solusi penanganan aktivitas penambangan emas yang menggunakan mercuri di Sumbawa Barat. Menguatnya isu mercuri ini bahkan menimbulkan beragam cara pandang baru yang disertai ketakutan baru bagi masyarakat Kota Taliwang. (ars)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.