Kunjungi NTB, Menkes Bahas Stunting hingga Peran Posyandu

Menkes,  Terawan foto bersama dengan Wagub NTB,  Hj. Sitti Rohmi Djalilah,  Ketua Dekranasda NTB,  Hj.  Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah dan Kepala Dinas Kesehatan NTB,  dr. Nurhandini Eka Dewi di Ruang VIP LIA, dalam kunjungannya ke NTB,  Kamis, 5 Desember 2019 siang.  (Suara NTB/humasntb)

Praya (Suara NTB) – Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Dr.Hj.Sitti Rohmi Djalilah bersama Ketua Dekranasda NTB Hj.Niken Saptarini Zulkieflimansyah makan siang bersama Menteri Kesehatan RI,  Letjen (Purn) Dr.dr.Terawan Agus Putranto bertempat di ruang VIP Lombok International Airport (LIA),  Kamis, 5 Desember 2019 siang.  Dalam suasana yang penuh keakraban itu,  turut mendampingi Kepala Dinas Kesehatan NTB,  dr.  Nurhandini Eka Dewi,  Sp.A,  MPH.

Menkes melakukan sejumlah kegiatan di Lombok seperti meninjau RSUD Provinsi NTB dan Puskemas Kuripan, Lombok Barat (Lobar). Bagi Terawan, kedatangannya ke NTB tidak lengkap rasanya kembali ke Jakarta sebelum menikmati ayam taliwang.

‘’Saya paling senang kalau diajak makan, apalagi menunya bebalung dan ayam taliwang,’’ ungkap Menkes sambil tertawa lepas.

Di sela-sela makan siang, Terawan berbincang santai dengan Wagub membahas stunting dan program Posyandu. Terawan mengatakan, dalam RPJMN 2020-2024,  penekanan angka stunting ditargetkan  menjadi 19 persen pada 2024 dari yang saat ini 30,8 persen sesuai data Riskesdas 2018. Terawan mengaku upaya ini harus dilakukan dengan  semaksimal mungkin dengan intervensi gizi spesifik dan sensitif.

Baca juga:  Sekolah di Lobar Bersinergi Atasi Stunting dan Anemia

Strategi nasional dalam menurunkan   stunting dilakukan dengan intervensi gizi spesifik atau langsung menyasar anak. Yakni,  untuk anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Upaya yang dilakukan di antaranya pemberian obat atau makanan untuk ibu hamil atau bayi berusia 0 sampai 23 bulan.

Kemudian, intervensi gizi sensitif yang dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan.  Antara lain penyediaan air bersih atau sanitasi, pendidikan gizi, dan ketahanan pangan dan gizi.

Strategi penurunan stunting ini,  kata Terawan, harus dilakukan dengan bersinergi melibatkan beberapa Kementerian dan Lembaga serta koordinasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah.”Yang paling penting integrasi dan kolaborasi, ” ujarnya.

‘’Untuk tahun ini,  target stunting sedang kami hitung dalam terjemahan Renstra Kemenkes 2020-2024. RPJMN sudah mengamanahkan itu (penurunan stunting hingga 19 persen), actionnya ada di Renstra. Kami sudah memiliki tekad untuk membuat masyarakat sehat, produktif, dan mandiri. Sampai saat ini sedang kami lakukan untuk masyarakat,’’ kata Terawan

Sementara itu, Wagub NTB,  Dr.Hj. Sitti Rohmi Djalilah mengatakan  program revitalisasi Posyandu penting dilakukan. Peran dan fungsi Posyandu yang langsung bersentuhan dalam menyelesaikan masalah dasar masyarakat dari hulu.

Baca juga:  Sekolah di Lobar Bersinergi Atasi Stunting dan Anemia

‘’Kami di NTB berusaha supaya masalah-masalah yang ada di tengah masyarakat itu diselesaikan dari hulunya. Untuk itu, keberadaan Posyandu yang berada di setiap dusun harus dapat dioptimalkan keberadaannya untuk menyelesaikan masalah-masalah dasar yang ada di masyarakat,’’ katanya.

Wagub menyebutkan,  saat ini penderita stunting di NTB berada pada angka 33,49 persen yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di NTB. ‘’Jika Posyandu telah berjalan efektif dan optimal, penderita stunting di NTB akan dapat diturunkan,’’ jelasnya.

Untuk menjalankan program  revitalisasi Posyandu ini, tambah Wagub, pihaknya mengajak seluruh kepala desa untuk dapat menganggarkan biaya untuk Posyandu melalui dana desa.

‘’Melalui dana desa yang jumlahnya cukup besar, kami mengajak para kepala desa supaya menganggarkan minimal Rp150.000 untuk insentif kader Posyandu,’’ ucap Wagub.

Semuanya itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan kecintaan Pemprov NTB kepada anak bangsa. ‘’Kami yakin, anak-anak kita di NTB adalah aset bangsa, kita harus jaga bersama,’’ tutupnya. (nas/*)