Tarif Penyeberangan Lembar-Padangbai akan Naik

Suasana di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat. Menjelang akhir tahun 2019, Kementerian Perhubungan berencana menaikkan tarif angkutan penyeberangan dengan rata-rata sebesar 10,13 persen di 20 lintas komersial. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Menjelang akhir tahun 2019, Kementerian Perhubungan berencana menaikkan tarif angkutan penyeberangan dengan rata-rata sebesar 10,13 persen di 20 lintas komersial. Kenaikan tersebut termasuk untuk penyeberangkan di pelabuhan lintas Lembar(Lombok Barat)-Padangbai (Bali) yang menjadi jalur utama transportasi laut penghubung Lombok dan Bali.  Kenaikan tarif itu akan mulai berlaku pada 1 Desember mendatang.

Humas PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Lembar, Deny Nurdiana Putra, menerangkan bahwa pihaknya tengah mengatensi kenaikan tarif penyeberangan tersebut. Walaupun begitu, sampai saat ini untuk pelabuhan Lembar belum menerima keputusan resmi dari pemerintah pusat terkait hal tersebut.

‘’Kenaikan tarif di bahas dulu oleh kantor pusat, nanti baru ada keputusan di direksi. Karena kami mengarahnya ke sana,’’ujar Deny ketika dihubungi Suara NTB, Senin, 25 November 2019. Menurutnya, jika proses pengambilan keputusan tersebut telah selesai maka pihaknya akan mengikuti aturan besaran tarif ditetapkan. ‘’Tapi mungkin kenaikannya ada penyesuaian dulu,’’ sambungnya.

Baca juga:  Pemprov NTB Desak Perbaikan Dermaga II Padangbai Dipercepat

Deny sendiri mengaku belum mengetahui persentase pasti kenaikan tarif yang akan terjadi karena masih dalam proses pembahasan. “Belum ada, nanti kita tunggu informasi dari pusat. Keputusannya seperti apa,” ujarnya.

Terkait mekanisme penghitungan skema kenaikan tarif, Deny menerangkan bahwa untuk tarif angkutan penyeberangan, Kementerian Perhubungan akan melibatkan beberapa stakeholder dan perwakilan sejumlah pihak. Antara lain pengusaha yang menjadi anggota Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap).

Kenaikan tarif sendiri diterangkan Deny pasti akan bervariasi untuk setiap wilayah. Pemerintah dalam ketentuannya disebut memang berhak menaikkan tarif setiap setahun sekali melalui hasil evaluasi. Sebagai payung hukum untuk kebijakan tersebut, Kementerian Perhubungan tengah menyiapkan kebijakan berupa Peraturan Menteri Perhubungan.

“Ini memang ketentuan dari kementerian. Kalau keputusannya sudah begitu, kita di sini tinggal mengikuti saja bagaimana hasilnya,” ujar Deny.

Sebagai informasi, berdasarkan data Kementerian Perhubungan, tarif angkutan penyeberangan di tiga lalu-lintas angkutan penyeberangan besar seperti Lembar-Padangbai, Merak-Bakauheni, dan Ketapang Gilimanuk, naik di atas rata-rata. Untuk tarif angkutan Lembar-Padangbai naik sekitar 13,15 persen.

Baca juga:  Jembatan Penyeberangan di Jalan Pejanggik Dibongkar

Sedangkan untuk Merak-Bakauheni naik 14,51 persen, dan Ketapang-Gilimanuk naik 18,74 persen.

Deny menerangkan bahwa pihaknya belum dapat memastikan apakah kenaikan tarif yang akan terjadi di jalur Lembar-Padangbai benar-benar mencapai 13,15 persen dikarenakan belum menerima keputusan resmi dari pemerintah pusat. Walaupun begitu, Deny membenarkan bahwa ada beberapa hal yang dapat membuat tarif di satu jalur penerbangan naik.

Tarif penyeberangan bisa naik antara lain karena terjadi kenaikan pada harga bahan bakar minyak (BBM). Dicontohkan Deny seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu, dimana kenaikan harga BBM turut mempengaruhi kenaikan tarif angkutan penyeberan. “Kalau saya melihat kemarin terkahir seperti itu, dengan kondisi harga BBM yang turun naik. Waktu itu peraturan menterinya seperti itu, nanti kalau ada baru lagi kami tidak tahu,” pungkasnya. (bay)