Investasi Energi Terbarukan, Solusi untuk Hindari Krisis Listrik

Zulkieflimansyah (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE. M.Sc mengapresiasi upaya PLN dalam mengatasi pemadaman listrik yang terjadi beberapa waktu belakangan di wilayah Lombok. Pasalnya, pemadaman tersebut dinilai akan memberikan dampak bagi perputaran sektor ekonomi jika dibiarkan berlangsung lebih lama lagi.

“Pasti itu (berpengaruh pada sektor ekonomi). Cuma sekarang masalahnya tidak disengaja,” ujar gubernur dikonfirmasi, Kamis, 21 November 2019 di Mataram. Menurutnya, ini menjadi pemicu bagi Pemprov NTB untuk segera mengundang investasi untuk pembangkit di energi terbarukan.

Diterangkan Dr. Zul apa yang terjadi pada PLN menjadi pelajaran penting. Di mana beberapa unit pembangkit listrik tidak dapat menopang kebutuhan listrik di NTB karena dalam pemeliharan dan kelebihan beban kerja. ‘’Kemarin itu mungkin karena panas, mikrohidro kita tidak peroperasi dan ada gangguan di pembangkit yang ada jadi wajar tiba-tiba exhausted (lelah, kelebihan beban kerja, Red),’’ ujarnya.

Baca juga:  PLN Jelaskan Asal Muasal Pemadaman Listrik

Dengan perbaikan yang dilakukan oleh pihak PLN, gubernur berharap kejadian serupa tidak terulang kembali. Walaupun begitu, solusi lainnya seperti investasi untuk sumber energi terbarukan diharapkan segera terwujud sebagai jaminan untuk solusi yang lebih konkret.

 ‘’Yang tertarik untuk solar dan lain-lain (seperti) biomass di NTB ini banyak,’’ ujar Dr. Zul. Untuk itu, pihaknya disebut akan segera melakukan pendekatan sekaligus mempermudah proses investasi yang dibutuhkan. “Kita permudah (investasinya) dalam waktu dekat,” pungkasnya.

Sebelumnya Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, Ir. Muhammad Husni, M. Si, menerangkan bahwa ganguan yang terjadi pada pasokan listrik di Pulau Lombok terjadi karena beberapa pembangkit di PLTU Jeranjang sedang dalam masa pemeliharaan. Berdasarkan surat yang diterima pihaknya dari PLN, beban puncak untuk sistem kelistrikan Lombok pada saat ini sebesar 259 MW, sedangkan daya mampu pembangkit yang tersedia hanya sebesar 223 MW.

Baca juga:  Listrik Sering Padam, Pelaku Pariwisata di Kuta Mengaku Dirugikan

Dengan adanya defisit daya sebesar 36 MW tersebut, PLN Unit Induk Wilayah (UIW) harus melakukan pemadaman bergilir. Menurut Husni, sesuai penjelasan PLN dalam surat tersebut, penurunan daya maupun pembangkit dilakukan di PLTU Jeranjang Unit-I kapasitas 25 MW yang langsung memasuki masa pemeliharaan. Kemudian, beberapa pembangkit di PLTD Ampenan dan PLTD Paokmotong dengan total kapasitas 17 MW juga memasuki masa pemeliharaan. Selain itu, berkurangnya debit air di beberapa daerah juga disebut mempengaruhi kemampuan produksi PLTMH, dari kapasitas 6,5 MW menjadi 3,5 MW. (bay)