Pemadaman Habiskan Rp750, Kebakaran TPA Kebon Kongok Jadi Pembelajaran

Iswandi (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Proses pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kebon Kongok, Lombok Barat, resmi ditutup. Hal tersebut ditandai dengan apel penutupan yang dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Sekda NTB, Dr. Ir. H. Iswandi, M.Si, Senin (4/11) tepat di bekas lokasi kebakaran.

Dengan berakhirnya proses tersebut, Iswandi sekaligus membubarkan tim cepat tanggap yang dibentuk Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M.Sc melalui Keputusan Gubernur Nomor 364/767/2019 tentang pembentukan tim operasi penganggulangan kebakaran pada 18 Oktober yang lalu.

‘’Dari target waktu ditentukan dalam 15 hari, namum demikian maju kurang lebih 3 hari dari waktu yang direncakan,’’ ujarnya.

Ditekankan Iswandi, kebakaran yang terjadi di TPA Kebon Kongok haruslah menjadi pelajaran bagi seluruh pihak terkait. Menjadi bahan evaluasi yang serius. Pasalnya, penanganan untuk kejadian tersebut menghabiskan anggaran mencapai Rp750 juta.

‘’Kita harus keluarkan dana yang cukup besar apabila terjadi seperti ini. Kita tidak ingin bencana seperti ini terulang lagi di tempat lain,’’ tegas Iswandi. Walaupun begitu, dirinya mewakili Pemprov NTB mengucapkan terimakasih kepada 95 orang tim penanggulangan kebakaran yang disebut telah bekerja dengan maksimal sehingga tidak ada korban jiwa dari kebakaran yang terjadi.

Baca juga:  Sampah Kiriman Dikeluhkan Wisatawan Gili Gede

Menurut Iswandi, kebakaran tersebut menjadi salah satu tanda pentingnya seluruh masyarakat NTB dengan didorong oleh stakeholder dan lembaga terkait untuk mensukseskan program unggulan saat ini, yaitu NTB Zero Waste atau NTB Bebas Sampah.

Untuk itu, ke depan diharapkan pengelolaan sampah di TPA Kebon Kongok dapat meningkat dari sekadar menerima dan menimbun menjadi tempat pemilahan dan pengolahan. Dengan pengendalian TPA oleh Pemprov NTB, pemanfaatan teknologi diharapkan dapat menjadi jawabannya.

‘’Di tempat ini harus kita siapkan sarana prasarana, baik untuk pengelolaan sampahnya ataupun pencegahan kebakaran di masa mendatang,’’  ujarnya. Pada 2020 mendatang, Iswandi menerangkan Pemprov telah mencanangkan untuk membangun sarana-prasarana yang lebih representatif bagi pegawai TPA Kebon Kongok.

Terkait program  zero waste, ditambahkan Iswandi bahwa mengubah pandangan masyarakat agar melihat sampah sebagai sumber ekonomi adalah pekerjaan rumah yang menjadi tantangan utama ke depan. Dicontohkan seperti tumpukan gunung sampah di TPA Kebon Kongok yang notabene merupakan tumpukan 70% sampah plastik yang jika didaur ulang atau dimanfaatkan, dapat memberikan manfaat secara ekonomi.

Baca juga:  Harus Ada Terobosan Baru Penanganan Sampah

‘’Ini menunjukkan bahwa hikmah program Gubernur dan Wakil Gubernur dengan NTB Zero Waste atau bebas sampah, agar terjadi pengurangan sampah sampai dengan 70% dan pengelolaan 30%, merupakan suatu kebijakan yang sangat tepat,’’ ujar Iswandi. Program itu sendiri akan berhasil jika masyarakat mulai memilah sampah dari rumah.

 Senada dengan itu Kepala UPDT TPA Regional Kebon Kongok, H. Didik Mahmud Gunawan Hadi, menerangkan bahwa proses pemadapan kebakaran telah selesai minggu lalu. Walaupun begitu pihaknya masih memastikan bahwa api telah benar-benar padam hingga ditutup melalui apel pembubaran tim satuan tugas yang dipimpin oleh Sekda NTB.

Saat ini TPA Kebon Kongok sendiri menerima sampah mencapai 333 ton per hari. Dengan potensi tersebut,  gas metana yang dipanen dapat memenuhi kebutuhan operasional untuk listrik berdaya 5.000 watt serta disalurkan ke rumah-rumah warga sebagai pengganti bahan bakar. (bay)