Warga Tolak Proyek Irigasi Tetes

Ilustrasi irigasi tetes (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Sebagian warga di Desa Akar-Akar, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), menolak keberadaan proyek instalasi air senilai Rp19 miliar. Proyek dari Dinas Pertanian Provinsi NTB tersebut dihajatkan untuk mengatasi kekeringan lahan pertanian, khususnya saat kemarau.

Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintahan dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Tinggi NTB bersama Inspektorat  Provinsi NTB sedang mengurai masalah ini agar tidak jadi hambatan.

Pekerjaan tersebut berupa instalasi drip atau irigasi tetes, dikerjakan oleh perusahaan penyedia  PT DS dengan nilai kontrak Rp 19,697 miliar. Batas waktu pekerjaan 20 Desember 2019.  Instalasi ini memanjang pada lahan seluas 200 hektar. Namun diantara pemilik lahan itu, 15 diantaranya yang memiliki lahan 32 hektar menolak keberadaan proyek.

Juru bicara Kejati NTB, Dedi Irawan, SH.,MH didampingi Kasi TP4D Erwin Indrapraja, SH.,MH menyayangkan penolakan warga tersebut. Padahal tujuannya untuk upaya pengembangan komoditi pertanian, khususnya jagung di Desa Akar-Akar. Dengan mekanisme kerja irigasi tetes, bisa mengairi sawah secara teratur.

Baca juga:  Pertanian dan Pariwisata, Tumpuan Ekonomi NTB

‘’Bahkan petani bisa menanam sampai tiga kali dalam setahun, khususnya komoditi jagung,’’ ujar Dedi Irawan.

Saat turun bersama Inspektorat Provinsi NTB, pihaknya heran dengan reaksi sebagian warga, khususnya 15 orang pemilik lahan 31 hektar yang dialiri irigasi tetes. Alasan penolakan pun terkesan sumir.

“Seperti ada provokasi dari pengepul, jika jagung yang dialiri irigasi tetes produksinya melimpah, bisa memicu kecemburuan petani lain yang tidak kebagian aliran irigasi,” ungkapnya.

Upaya meyakinkan petani pun terus dilakukan bersama Pemda KLU dan aparat desa setempat. Karena bagaimana pun juga, kata dia, satu sisi tujuannya untuk sukseskan program Pijar, juga agar proyek tidak mengalami hambatan.

Namun jika upaya persuasif tidak berhasil, maka langkah lain ditempuh. Pihaknya mendorong Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) untuk membuat berita acara penolakan dari warga, kemudian ditanda tangani desa, kecamatan dan Pemda KLU.

Dengan dasar itu, instalasi akan dialihkan ke lahan warga lain yang mau menerima aliran pipa tersebut.  Pekan depan, warga yang menolak dan menerima akan dibuatkan kepastian.

Baca juga:  KTNA NTB Soroti Persoalan Tembakau

Di sisi lain, jika kegiatan itu sukses, maka akan jadi percontohan di daerah lain, khususnya daerah tadah hujan seperti di Pulau Sumbawa.  Menanam jagung dan komoditi lain tidak harus menunggu hujan, tapi sumber airnya dari pompa yang dialiri irigasi tetes.

‘’Kalau ini berhasil, akan dikembangkan di daerah lain. Karena ini pola pengairan pertama di NTB,’’ tambah Erwin.

Mekanisme kerja instalasi ini, air akan bersumber dari lima pompa  air dengan kapasitas besar. Air kemudian dialiri melalui pipa penghubung yang  membentang di lahan 200 hektar. Dari pipa  utama, terdapat pipa tambahan yang bercabang menjulur ke area persawahan. Air dari pompa akan diatur alirannya melalui pipa pipa kecil.

‘’Jumlahnya 5 pompa besar. Satu pompa bisa mengairi sampai 40 hektar,’’ sebutnya. Pengerjaan proyek masih dalam proses, diharapkan bisa tuntas tepat waktu pada Desember 2019 untuk menghindari denda. (ars)