Dua Mahasiswa Jadi Korban, Warga Diminta Waspadai Bencana Musim Hujan

Ahsanul Khalik (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Musibah meninggalnya dua mahasiswa yang terseret arus di air terjun Jeruk Manis, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, patut jadi pelajaran bersama untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga, khususnya wisatawan, diimbau untuk hati hati ketika berkunjung ke objek wisata.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB meminta kepada instansi pemerintah dan instansi terkait agar turun tangan mengantisipasi. Musibah yang menewaskan mahasiswa Universitas Mataram (Unram), Widia Lasmiati (28) dan Reza Andika Firdaus (29), mendorong perlunya mitigasi di tempat wisata.

‘’Khusus untuk daerah daerah wisata, agar semua pihak terkait juga mengambil langkah pengamanan. Ini untuk keamanan dan keselamatan warga masyarakat dan wisatawan,’’ saran Kepala Pelaksana BPBD NTB, H. Ahsanul Khalik, S.Sos.MH, Minggu (3/11).

Pada masa transisi musim dari musim kemarau ke hujan, daerah NTB diprediksi terjadi banjir, gelombang pasang dan angin kencang. Ahsanul Khalik berharap, masyarakat mewaspadai potensi bencana ini, khususnya objek wisata air terjun dan pantai.

Baca juga:  Pemkot Antisipasi Cuaca Ekstrem

Ia juga menyarankan agar Pemerintah Kota dan Kabupaten mengeluarkan imbauan untuk kewaspadaan masyarakat,  dengan membersihkan sungai, parit, drainase dan memotong ranting atau dahan pohon.

Ciri Ciri Bencana

Awal musim penghujan tahun 2019-2020 di Indonesia diperkirakan November sampai Desember, puncaknya diprediksi pada Januari hingga Februari tahun 2020.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut cirri-ciri potensi bencana yang harus diwaspadai pada masa transisi musim atau pancaroba.

Seperti angin kencang, angin puting beliung, perubahan suhu dan cuaca ekstrem, hujan es, gelombang tinggi di pesisir pantai. Ancaman lainnya, jenis bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor dan tanah bergerak (likuifaksi) pada saat musim penghujan.

‘’Puncak musim hujan diprediksi pada bulan Januari-Februari 2020. Oleh karena itu waspadai juga potensi cuaca ekstrem pada masa transisi musim (pancaroba) seperti puting beliung, hujan es, suhu ekstrem,’’ kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo dalam keterangan tertulis yang diterima Suara NTB.

Dalam satu pekan ke depan, potensi hujan diprediksi akan terjadi di sejumlah wilayah. Sedangkan gelombang tinggi akan terjadi di wilayah selatan dan barat daya Sumatera Selatan hingga wilayah selatan Jawa hingga Bali, NTB, NTT dengan perkiraan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter. Kendati demikian BMKG masih memprediksi bahwa kondisi tersebut masih aman untuk penyeberangan laut.

Baca juga:  Sejumlah Rumah Warga Rusak Diterjang Puting Beliung

Ditambahkan Agus Wibowo, sebagai upaya dalam menghadapi bencana pada masa transisi musim dan bencana hidrometeorologi tersebut, BNPB telah menganggarkan dana sisa tahunan dengan total nilai Rp850 miliar. Dana tersebut merupakan Dana Siap Pakai (DSP) yang bisa digunakan untuk penanggulangan bencana di seluruh Indonesia hingga akhir tahun ini.

Tidak hanya untuk bencana hidrometeorologi atau masa transisi musim saja, DSP juga berlaku untuk segala jenis bencana yang mungkin saja bisa terjadi hingga akhir tahun ini. (ars)