Bangun Kepercayaan, Siapkan SDM untuk Wisata Medis

Ainuddin - Halus Mandala - Anita Achmad - Dewantoro Umbu Joka - I Gusti Lanang Patra (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Setelah berhasil membangun jenama (branding) wisata halal, Pemprov NTB kini berkeinginan menjadikan Lombok sebagai destinasi medical tourism atau tujuan pariwisata medis pada masa mendatang. Pengembangan wisata medis diyakni mampu menarik lebih banyak wisatawan luar negeri yang kini tengah beralih ke pangsa pasar Asia.

Namun, pekerjaan rumah (PR) terbesar jika keinginan ini diwujudkan ialah dari segi sumber daya manusia (SDM) di bidang pelayanan kesehatan. Hal demikian penting mengingat pelayanan medis bagi masyarakat saja kini banyak dikeluhkan.

Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Mataram Dr. Halus Mandala, mendukung penuh rencana pemerintah menjadikan Lombok sebagai destinasi medical tourism

 di Indonesia. Dia pun mendorong agar pemerintah sesegera mungkin menyusun rencana strategis (Renstra) untuk mempercepat terwujudnya destinasi wisata medis di Lombok.

‘’Kita harus membuat Renstra yang jangka waktu lima tahun ini sudah ada kepastian di setiap tahapannya. Apa tahapan pertama kedua ketiga itu harus jelas ada,’’ sebutnya.

Menurutnya, wisata medis sangat mungkin dikembangkan. Langkah gubernur yang telah menetapkan dua rumah sakit sebagai pusat layanan medical tourism nantinya diapresiasi.

‘’Jadi jangan mundur, tetap maju. Harusnya dengan ditetapkannya itu kita harus start, kita harus optimis. Persoalannya, kalau dimana-mana ada kelemahan SDM jangankan pelayanan yang terbaik, untuk senyum sapa salam masih jauh,’’ sambungnya.

Mengingat ini merupakan bisnis wisata, pemerintah juga sudah harus kian memperkuat SDM dalam rangka memperbaiki budaya wisata.

‘’Karena dengan senyum saja pasien bisa sehat. Ini yang perlu dibudayakan. Harus ditanamkan itu. Saya kira itu soal SDM, soal pelayanan. Ada kesiapan nggak untuk penyiapan SDM dan fasilitas yang dibutuhkan. Inikan harus ada komitnmen bersama,’’ imbuhnya.

Ketua BPPD NTB, Anita Achmad, menjelaskan bahwa konsep wisata medis itu sendiri sudah lama ada. Jika dulu orang berwisata medis ke Amerika dan Eropa, akan tetapi seiring berkembangnya teknik kesehatan kini orang beranjak ke Asia. Sasaran mereka ialah Singapura, Thailand dan India.

‘’Selain harga murah juga pelayanannya bagus. Singapura juga jadi pilihan wisata medis. Kenapa mereka pilih Singapura, karena menang di bahasa Inggris. Tapi kalau mau lebih murah orang pergi ke Thailand,’’ kata Anita menjelaskan.

Di luar urusan tersebut, hal paling penting yang harus dilakukan pemerintah ialah bagaimana agar setiap rencana program yang ingin dijalankan mendapatkan trust alias kepercayaan dari masyarakat. Karena mustahil suatu kebijakan bisa berjalan jika masyarakat tidak percaya.

‘’Masyarakat harus trust, banyak keluhan penanganan BPJS yang lamban, yang pulang dipaksakan harus sehari dua hari, tenaga medis juga terbatas. Sekarang kalau masyarakat sendiri tidak yakin dengan apa yang disajikan di sini, bagaimana kita akan menjual wisata medis ini,’’ jelasnya.

Oleh karenanya, menumbuhkan kepercayaan terhadap masyarakat harus jadi landasan utama sebelum membuat kebijakan atau program.

‘’Persoalannya tumbuhkan dulu sesuatu yang bikin trust di masyarakat ini, nanti dia akan bercerita ke teman-temannya. Sekarang bapak mau datangkan wisata medis ke sini, masyarakat saja mengeluh apalagi mau datangkan orang asing. Jadi orang asing di luar negeri cukup hanya membawa satu card di mana-mana dia bisa berobat tanpa cash money,’’ paparnya.

Baca juga:  Wujudkan Wisata Medis, NTB Perlu Siapkan Fasilitas Unggulan dan Perbaiki Pelayanan

‘’Yang saya ingin tekankan, persoalannya kalau masyarakat tidak trust bagaimana mau mambuat trust orang lain. Tapi pada intinya apapun yang mau diperbuat asalkan SDM siap tidak ada masalah. Masyarakat sendiri yang akan bercerita keluar,’’ujar Anita.

Sementara itu Ketua ASITA NTB, Dewantoro Umbu Joka, menyebut bahwa wisata medis sangat bisa dikembangkan di Lombok. Namun demikian, harus ada pembeda antara layanan kesehatan rumah sakit di tempat lain dengan rumah sakit di Lombok yang memungkinkan orang tertarik datang berobat sekaligus berwisata ke Lombok.

‘’Sebenarnya peluang mengembangkan wisata medis ini ada. Walapun sama tapi harus ada yang beda, layanannya beda. Jenis orang berwisata itu bisa jadi mereka berwisata sambil berobat atau berobat sambil berwisata. Yang paling utama adalah kita harus punya unggulan pelayanan kesehatan yang mau dijual misalnya kemoterapi ini yang kita promosikan secara massif,’’ terangnya.

Sehingga ujarnya, sangat penting bagi rumah sakit yang ada saat ini untuk menginformasikan apa saja jenis layanan kesehatan yang jadi keunggulannya. Selain itu, mengingat ini merupakan bisnis, aspek lain yang tidak kalah pentingnya ialah persaingan harga. Menurutnya, harga layanan kesehatan nantinya harus bisa bersaing dengan di tempat lain.

‘’Misalnya kalau saya bawa mereka kemoterapi di NTB hitung-hitungannya di Jakarta ada, Bali ada. Kalaupun kita mau mengunggulkan layanan kesehatan kemoterapi, namun dari sisi harga harus bersaing juga. Sekarang sudah berbisnis, kalau sudah sama harganya lebih baik mereka ke Jakarta dan Bali. Bisa lebih murah sedikit lah mungkin (mereka) bisa datang. Karena di Bali juga banyak,’’ sambungnya.

Ketua DPD HPI NTB, Dr. Ainuddin menyebut kualitas dokter-dokter yang dimiliki rumah sakit di

Lombok tidak kalah dengan dokter luar. Hanya saja masyarakat kita kurang mempercayai mereka. Dia menduga problemnya terletak pada aspek promosi yang masih kurang.

‘’Lombok ini kalau dari perspektif masyarakat luar negeri sangat bagus tapi jangan sampai sakit. Sebenarnya banyak keahlian dokter-dokter yang kita miliki di sini tapi masih mungkin belum dipromosikan. Ke dua kita selalu menyepelekan keahlian dokter kita, seolah-olah tidak punya keahlian makanya kita pilih yang lain. Padahal kalau kita lihat luar biasa,’’ jelasnya.

Selain itu hal yang juga tidak boleh luput dari perhatian ialah pada aspek advokasi penegakan hukum. Menurut Ainuddin, jika sewaktu-waktu tenaga kesehatan mengalami persoalan hukum, rumah sakit harus siap menghadapi tuntutan hukum dari orang luar.

‘’Karena kasus hukum kesehatan bisa jadi catatan buruk dunia pariwisata. Kita harapakan dokter di sini bisa punya keahlian masing-masing. Tentu tidak bisa membolak-balikkan telapak tangan,’’sebutnya.

Berkaca dari Penang

Ketua Pembina BPD PHRI NTB, I Gusti Lanang Patra menilai, medical tourism merupakan sebuah wacana yang bagus. Medical tourism akan menambah produk-produk pariwisata NTB. “Jadi, kita sudah punya wisata alam, wisata budaya, wisata religi, wisata kuliner dan banyak yang lain plus wisata medis,” ujarnya.

Namun, untuk bisa mewujudkan itu butuh proses yang sangat panjang. Negara yang sudah terkenal memiliki wisata medis seperti Malaysia dan Singapura pun membutuhkan proses sangat panjang untuk mencapainya.

Lanang menegaskan perlunya penegasan konsep. “Pertama, konsepnya berobat sambil berwisata. Dua hal ini mana kita dahulukan. Kalau mereka berobatnya dulu. Dari berobat itu menjadi kesembuhan ditunjang. Maka digabungkan dengan konsep tourism. Sehingga orang tak bosan,” ujarnya.

Baca juga:  IDI Dukung Rencana Wujudkan Wisata Medis

Konsekuensinya, ujar Lanang, orang tak akan sekali datang ke sana. Mereka biasanya perlu datang kembali untuk melakukan kontrol atas kesehatan mereka. Jika hanya mengandalkan berobat saja, maka hal itu akan membosankan. Di sinilah peran wisata sebagai penunjang perlu diperkuat.

“Itu mereka perkuat branding itu dengan tourism. Dan mereka tak asal-asalan mengelola tourism itu. Contoh seperti di Penang. Itu betul-betul mereka kuat di tourism. Dari aksesibilitasnya, airline semua. Mereka kuat sekali. Jadi, tourismnya kuat, kemudian medical juga kuat,” jelasnya.

Menurut Lanang, untuk sampai pada keputusan mendatangi destinasi wisata medis, orang perlu percaya pada keampuhan pengobatan di destinasi tersebut. Maka, membangun reputasi sebagai daerah tujuan berobat memang perlu dilakukan. Karena berkaitan dengan kepercayaan, hal ini menurutnya perlu waktu lama.

“Mereka perlu bukti dulu. Dan ini nggak jangka pendek. Lama prosesnya, sehingga muncullah trust. Dari trust itu mereka mem-branding. Jadi panjang sekali prosesnya.

Lanang mengutarakan, di Penang, hampir 80 persen pasiennya berasal dari Indonesia. Pertimbangan utama mereka berobat ke sana, tentunya karena meyakini akan mendapat kesembuhan.

Faktor kedua adalah karena biayanya yang murah. Menurut Lanang, saat ini Singapura justru ditinggalkan orang dan mereka beralih ke Penang. “Karena semenjak Singapura dolarnya melaju kencang, orang Singapura sendiri berobat ke Malaysia. Berarti salah satu pertimbangannya adalah biaya,” ujarnya.

Hal lain adalah kesungguhan. Dan hal ini benar-benar dialami sendiri oleh Lanang selaku orang yang pernah merasakan berobat di sana. Menurutnya, di Penang, masing-masing rumah sakit punya keunggulan. Misalnya, Penang Adventist Hospital yang terkenal memiliki dokter jantungnya yang berpengalaman di bidangnya.

Dokter di sana, menurutnya memiliki rekor mencengangkan. ‘’100 kali mereka melakukan by pass, satu kalipun tidak gagal. Sehingga trust itu akan muncul dan memang dibuktikan. Beberapa orang Indonesia yang datang ke sana. Dan mereka berani memberikan garansi, seperti ahli bedah jantung. Mereka berani menggaransi 99 persen. Dan memang tak pernah gagal,’’ tutur Lanang.

Berbekal reputasi dokter yang demikian, orang pun berbondong-bondong datang. “Ini tak main-main, kita untuk berani menggaransi,” lanjutnya.

Faktor lain adalah fasilitas. Fasilitas di Penang, menurutnya memang luar biasa. Kebersihan sangat terjaga. Sistem pelayanan mereka juga sudah terintegrasi. “Semua serba online. Saya sebelum ke sana, konsultasi online dulu dari sini.  Siapa dokternya, apa persiapannya. Sampai mereka melakukan penjemputan di bandara,” ujarnya. Di Bandara Penang, ada banyak sekali mobil rumah sakit yang bersiaga menjemput pasien.

Lanang menegaskan, untuk mewujudkan semua faktor tersebut butuh berpuluh-puluh tahun persiapan.

Menurutnya, sekarang yang terpenting untuk jangka pendek adalah menangani wisatawan yang datang ke NTB. Paling tidak, ketika mereka jatuh sakit saat berlibur di NTB, mereka bisa ditangani di fasilitas kesehatan di NTB dan tidak perlu dibawa berobat ke luar daerah.

“Ini perlu kita pikirkan. Karena ini menyangkut citra kepariwisataan kita di sini,” tegasnya. (dys/aan/nas)