Tambah Peralatan Dua Kali Lipat, Siapkan 300 Truk Tanah

Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah bersama sejumlah pimpinan OPD meninjau kebakaran TPA Regional Kebon Kongok, 20 Oktober 2019. (Suara NTB/humasntb)

Mataram (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc menginstruksikan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk dapat memadamkan api di TPA Regional Kebon Kongok selama 15 hari. Untuk mengejar target tersebut, alat berat dan armada pendukung lainnya akan ditingkatkan dua kali lipat.

Bahkan, dibutuhkan tanah sekitar 300 truk untuk menimbun lahan yang terbakar sehingga asapnya tidak keluar lagi. ‘’Butuh 1.500 kubik tanah, 20 truk sehari.  Selama 15 hari, 300 truk,’’ kata Kepala Dinas PUPR NTB, Ir. H. Azhar, MM dikonfirmasi di Mataram, Senin , 21 Oktober 2019 siang.

Ia menjelaskan, pada Minggu (20/10), Gubernur telah meninjau TPA Regional Kebon Kongok yang terbakar. Kemudian pada Senin (21/10) pagi, Penjabat Sekda NTB, Dr. Ir. H. Iswandi, M. Si memimpin rapat di lokasi dalam rangka mempercepat pemadaman api di TPA Regional Kebon Kongok.

Azhar menjelaskan, semula waktu yang dibutuhkan untuk penanganan kebakaran TPA Regional Kebon Kongok selama 30 hari. Namun, gubernur meminta percepatan, sampai 15 hari. Konsekuensinya peralatan harus ditambah dua kali lipat.

Ia menyebutkan Dinas PUPR sudah mengirim 4 escavator dan 2 unit bulldozer. Sekarang, api di TPA Kebon Kongok sudah padam. Tetapi masih mengeluarkan asap. Artinya, bara api masih ada di bawah.

Sehingga, lahan yang terbakar tersebut diratakan dan dipadatkan  menggunakan excavator. Kemudian ditimbun menggunakan tanah sekitar setengah meter. Tujuannya, agar tidak lagi keluar asap dan segera dapat digunakan untuk lokasi pembuangan sampah dari Kota Mataram dan Lombok Barat.

Ia menyebut, pada lahan seluas 5 hektare tersebut akan dibagi menjadi 17 blok. Penanganan akan dilakukan per blok. Sehingga TPA Kebon Kongok bisa dimanfaatkan lagi untuk membuang sampah.

Terpisah, Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB, Ir. H. Ridwan Syah, MM, MTP menjelaskan alasan perlunya percepatan penanganan kebakaran TPA Kebon Kongok. Pertama, untuk mengurangi dampak yang lebih besar, karena sampah sudah mulai menumpuk di Kota Mataram dan Lombok Barat.

“Setelah kita evaluasi, mungkin itu dikerjakan lebih cepat karena tergantung daripada alat berat. Kemarin awalnya 3 excavator dan satu bulldozer. Ditambah menjadi minimal dua kali lipat,” katanya.

Sistem penanganannya dibagi per blok. Dari

5 hektare itu dibagi menjadi 17 blok. Upaya tersebut  disarankan oleh ahli yang biasa menangani kebakaran di TPA.

‘’Dibuat 17 blok untuk mengisolasi bara api supaya penyelesaiannya cepat. Kemudian ditimbun pakai tanah di atasnya. Karena api akan cepat menyala kalau ada tiupan angin dan oksigen. Sehingga itu ditutup dengan tanah,” jelasnya.

Dalam satu blok, luasnya 30 are. Pada Minggu (20/10), sudah ada dua blok yang sudah bisa digunakan untuk pembuangan sampah. Ridwan menjelaskan menangani kebakaran di TPA memang memerlukan keahlian khusus. NTB juga belajar di daerah lain.

‘’Sampahnya numpuk belasan meter. Apinya dari bawah. Disiram dari atas belum tentu tembus. Kemudian menyiram sebanyak-banyaknya juga tak menyelesaikan masalah. Bahkan bisa menyebabkan masalah baru. Akan meletup ke atas gasnya,’’ katanya.

Sehingga lahan yang sudah terbakar diratakan, digali dan disiram. Setelah itu ditutup menggunakan timbunan tanah minimal 50 cm. ‘’Langkah ini efektif, seperti penanganan di tempat lain,’’ jelasnya.

Sementara itu, Staf Khusus Gubernur Bidang Lingkungan, IB.Windia Adnyana menjelaskan semula berdasarkan peralatan yang ada, dibutuhkan waktu sampai 30 hari untuk penanganan kebakaran TPA Kebon Kongok. Jika mau penanganannya selesai dalam 15 hari, maka peralatannya harus disiapkan dua kali lipat.

Untuk di  bagian atas jumlah peralatan ang dibutuhkan untuk excavator sebanyak 2 unit, buldozer 2 unit dan Damkar 3 unit serta mobil tangki air. Kemudian di bawah ada 6  escavator dan 20 dump truck untuk mengangkut tanah.  ‘’Kebutuhan peralatan seperti itu, baru bisa padam selama 15 hari,’’ katanya. Pada Minggu (20/10), hanya ada  2 excavator, bulldozer satu unit dan dump truck 4 unit.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB mencatat sekitar 4 hektare TPA Regional Kebon Kongok yang terbakar. Api sudah bisa dijinakkan, tetapi masih muncul asap.

‘’Api sudah padam, tapi di bawahnya baranya masih. Sehingga masih ada asap. Ini kayak lahan gambut,’’ kata Kepala Dinas LHK NTB, Ir. Madani Mukarom, B. Sc.F, M. Si.

Madani mengatakan, alat berat sudah ditambah sejak pekan kemarin. Seperti bulldozer 2 unit, escavator 4 unit, mobil tangki air 8 unit dan mobil damkar 3 unit. Bahkan, juga ditambah water canon 4 unit. Pemadaman api di lahan TPA Kebon Kongok dilakukan siang dan malam. Sekarang pemadaman api dilakukan per blok. Sehingga menjadi lebih efektif. (nas)