Infrastruktur Jalan Memprihatinkan, 212 KK Warga di Sumbawa dan Bima Terisolir

Akses jalan yang memprihatinkan menuju KAT di Kecamatan Batulanteh Sumbawa yang membuat wilayah ini terisolir. (Suara NTB/disosntb)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Sosial (Disos) mencatat setidaknya 212 kepala keluarga (KK) masyarakat NTB masih tinggal di daerah terisolir di Kabupaten Sumbawa dan Bima. 212 KK masyarakat NTB yang disebut Komunitas Adat Terpencil (KAT)  tersebut masih terisolir lantaran akses infrastruktur jalan yang memprihatinkan.

Kepala Bidang Pemberdayaan dan Kelembagaan Sosial Disos NTB, H. Amir, MM mengatakan, KAT masih tersisa di dua kabupaten di NTB, yakni Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Bima. Untuk Kabupaten Sumbawa,  mereka berada di empat lokasi jumlahnya sekitar 200 jiwa.

Untuk Bima, lokasinya di So Soro Desa Lere Kecamatan Parado 46  KK,  dan So Tolomoro Desa Kuta 32 KK. Untuk di Sumbawa lokasinya  di Dusun Fajar Bakti, Desa Baturotok 32 KK, di Dusun Ladan 51 KK.

‘’Setiap tahun kita mengusulkan ke pusat. Untuk tahun ini ada empat lokasi diberikan bantuan melalui dana tugas pembantuan langsung ke Bima dan Sumbawa,’’ kata Amir dikonfirmasi Suara NTB di Mataram akhir pekan kemarin.

Amir menjelaskan, masyarakat yang masih terisolir ini diberikan bantuan pembangunan rumah, diberikan jaminan hidup selama 2 tahun dan pemberian bantuan bibit tanaman yang cocok sesuai kondisi geografis daerah setempat, juga peralatan kerja. ’’Empat dusun itu yang diberikan bantuan pemberdayaan,’’ katanya.

 

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh SUARANTB.com (@suarantbcom) pada

Kemudian ada juga KAT yang dilakukan pemberdayaan lanjutan tahun ke dua. Seperti masyarakat yang berada di Dusun Panco, Desa Mata, Kecamatan Tarano. Kemudian di Dusun

Tebanlemak,  Desa Tepal, Sumbawa, sedang diberdayakan tahun kedua. Sementara di Bima satu lokasi di Dusun Tenggani, Desa Sarae Ruma, Langgudu ada 51 KK.

‘’Di awal menjadi penetapannya. Untuk infrastruktur dasar, jalan kadang hanya jalan setapak. Sehingga saat studi awal, kami terkadang jalan kaki,’’ ujar Amir.

Ia menambahkan, desa-desa terpencil tersebut belum ada listrik. Kemudian sarana dan prasarana air bersih masih terbatas. Ada sumber air bersih tapi untuk mengalirkan ke rumah-rumah warga belum tersedia infrastruktur yang memadai. ‘’Jalan tanah yang rusak dan saat musim hujan becek. Kendaraan double gardan kadang  sulit masuk ke sana,’’ katanya.

Untuk penanganan KAT ini, kata Amir, telah dibentuk Pokja di dua kabupaten tersebut. Pokja tersebut di dalamnya lintas OPD. Sehingga penanganan KAT dapat dilakukan secara terpadu dan menyeluruh.

‘’Kehadiran PU sangat membantu, membuka akses jalan di daerah terpencil. Untuk listrik, Dinas ESDM memberikan PLTS. Hampir di semua KAT yang sudah  kita berdayakan ada PLTS,’’ katanya.

Infrastruktur air bersih, kata Amir, salah satu yang sangat mendesak bagi KAT. Sehingga sekarang, di Dusun Tenggani Desa Sarae Ruma yang sudah diberdayakan masyarakatnya sejak tahun lalu, sudah diintervensi oleh Dinas PU untuk menyalurkan air dari sumbernya sekitar 2 km.

Diharapkan pada 2024, tidak ada lagi masyarakat di NTB yang terisolir. Namun, tidak menutup kemungkinan apabila ada laporan dari masyarakat bahwa ada yang tinggal di daerah terpencil, maka akan ditindaklanjuti dengan pemetaan sosial. ‘’Seperti di  Baturotok, ada komunitas transmigran sampai 50 KK,’’ sebutnya. (nas)