Kawasan Geopark Rinjani dan Tambora Terbakar

Ilustrasi kebakaran lahan.

Mataram (Suara NTB) – Kebakaran hutan dan lahan semakin menjadi-jadi. Kebakaran kini bahkan merembat ke wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani dan Tambora. Lebih dari 200 hektare kawasan gunung tertinggi di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa itu terbakar sejak beberapa hari lalu.

Kebakaran di kawasan Gunung Rinjani terjadi di jalur pendakian Sembalun Selasa, 15 Oktober 2019 sekitar pukul 14.00 Wita. Api menjalar hingga malam, bahkan kejadian hingga Kamis, 17 Oktober 2019 pagi kemarin.

Kronologis kejadiannya, petugas Resort Sembalun mendapat informasi dari  masyarakat yang melihat hotspot (titik api) di dua titik. Api  diperkirakan  di sebelah Barat Sungai Kokoq Putih dan di bagian barat Pos II Sembalun.

‘’Kepala Resort Sembalun segera melakukan koordinasi dengan Polsek Sembalun dan Koramil Sembalun untuk membentuk Tim Dalkarhut (Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan). Tim Dalkarhut bersama tiga orang anggota Polsek Sembalun berangkat menuju Pos II Jalur Pendakian Sembalun untuk melakukan size up Dalkarhut,’’ kata Kata Plt. Balai TNGR Ari Subiantoro kepada Suara NTB Kamis, 17 Oktober 2019.

Hasil pemantauan visual, hotspot  sangat jauh dari Pos II atau di lereng, sehingga akses pemadaman sangat sulit. Keesokan  harinya Rabu, 16 Oktober 2019,  Tim Dalkarhut memutuskan untuk kembali ke Kantor Resort Sembalun.

Upaya pemadaman berlanjut pukul 14.00 Wita, Tim Dalkarhut melibatkan bantuan lima orang dari Petugas Polhut dan empat orang warga. ‘’Kami dapat informasi bahwa tim bantuan kesulitan untuk melakukan pemadaman awal, karena kondisi lokasi tertutup kabut. Kemudian tim bantuan menuju Pos IV Jalur Pendakian Sembalun,’’ jelasnya.

Baca juga:  2.244 Hektare Terbakar, 90 Persen untuk Buka Lahan Pertanian Baru

Terpantau api sudah merambat ke savana dan rumput di sekitar jalur pendakian Rinjani. Hingga menginjak pukul 20.00 Wita, api terpantau mengarah ke Plawangan Sembalun dan jalur pendakian lama. Tim belum dapat melakukan pemadaman dikarenakan medan  yang relatif sulit dan kondisi angin kencang.

Kamis pagi kemarin, api terpantau mengecil, termasuk yang merambat ke jalur pendakian sudah padam. Dalam catatannya, luas

areal yang terbakar diperkirakan sekitar 60 hektar.

Menurutnya, penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan. Sementara vegetasi terbakar yang dapat diidentifikasi berupa rumput,  perdu, pohon cemara gunung, pohon bak-bakan dan berbagai vegetasi lainnya.

Kasus kebakaran ini menambah panjang daftar kejadian sama. Sebelumnya, Kamis (3/10), kebakaran terjadi di Desa Timbanuh, masuk dalam kawasan Taman Nasional. Pemadaman dilakukan keesokan harinya oleh petugas balai dan gabungan MPA (Masyarakat Peduli Api) Timbanuh.

‘’Tim Satgas berhasil memadamkan api yang berlokasi di lereng pugunungan selatan Puncak Rinjani. Luas areal terbakar kurang lebih 150 hektar,’’ ujarnya. Vegetasi yang terbakar seperti savana, edelwies, pohon bakbakan, cantigi, cemara, picanium.

Baca juga:  Polisi Usut Kebakaran di Rinjani dan Tambora

‘’Penyebab kebakaran diduga akibat longsoran batu dari puncak Rinjani yang memicu percikan api ketika bergesekan dengan batu yang lain kemudian kena savana yang kering,’’ ungkapnya.

Kebakaran lebih sporadis di kawasan Taman Nasional Tambora. Kejadian Selasa lalu. Api berawal dari Pos 2 atau di luar kawasan Taman Nasional.

‘’Api kemudian merambat ke Pos 3 dan Pos 4 yang merupakan kawasan Taman Nasional,’’ ujar Kepala Balai Taman Nasional Tambora, Murlan Dameria Pane, S.Hut., M.Si Kamis, 17 Oktober 2019.

Disebutkan, luas lahan kawasan Taman Nasional Tambora yang terbakar sejak Agustus lalu sudah mencapai 80 hektare. Kebakaran yang kerap terjadi di kawasan itu umumnya bersumber dari luar kawasan, namun merembet hingga ke dalam area Geopark Tambora. ‘’Hal itu didukung oleh kondisi cuaca dan dedaunan kering sehingga mudah terbakar dan merembet ke kawasan Taman Nasional Tambora,’’ jelasnya.

Murlan menambahkan, upaya pencegahan terus dilakukan Balai Taman Nasional dengan cara persuasif melalui sosialisasi dan penyuluhan agar masyarakat sekitar menjaga kawasan dari potensi kebakaran.

‘’Kami sudah berupaya melakukan patroli siang dan malam. Namun untuk menjaga itu semua tidak cukup hanya dilakukan oleh petugas Balai TNT saja. Harus ada kepedulian bersama,’’ katanya. (ars)