Lagi, Penulis NTB Raih Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa

Irma Agryanti dan Arianto Adipurwanto seusai menerima piagam penghargaan dari KSK, Rabu (16/10) di Jakarta. (Sumber Foto : Fevy)

Mataram (Suara NTB) – Salah seorang penyair NTB, Irma Agryanti, meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2019 untuk kategori puisi. Irma mendapatkan penghargaan paling prestisius di dunia literasi Indonesia tersebut melalui buku puisinya yang berjudul Anjing Gunung.

Dengan menerima penghargaan tersebut, Irma menjadi penulis ketiga yang berhasil meraih penghargaan tersebut. Sebelumnya, penyair NTB, Sindu Putra dengan buku puisinya yang bertajuk Dongeng Anjing Api meraih Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2009. Lalu, Kiki Sulistyo dengan buku puisinya yang bertajuk Di Ampenan Apalagi yang Kau Cari? meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2017.

Irma sendiri mengaku sangat senang atas pencapaiannya tahun ini. “Apalagi saingannya berat-berat semua dan penerbit saya termasuk penerbit indie, jadi tidak terlalu besar,” ujar Irma ketika dihubungi Suara NTB, Kamis, 17 Oktober 2019. Irma menjadi penyair perempuan pertama dari NTB yang menerima KSK.

Menurut perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Pariwisata (Dispar) NTB tersebut, penghargaan yang diterima merupakan penanda bahwa kegiatan literasi dan penulisan karya sastra di daerah pantas mendapat perhatian secara nasional.

“Saya dari Lombok. Sastra di daerah memang butuh penghargaan-penghargaan seperti ini,” ujarnya.

Penghargaan KSK sendiri berlangsung di Jakarta, Rabu, 16

Oktober 2019. Diterangkan Irma, apa yang diterimanya tidak terlepas dari peran komunitas tempatnya bergiat selama ini. “Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dari Komunitas Akarpohon, Mataram. Komunitas kecil yang ada di daerah,” ujarnya.

Selain itu, masalah penerbitan juga menjadi sorotan Irma. Pasalnya penulis-penulis daerah, tidak terkecuali di NTB, masih jarang menerbitkan karyanya di penerbit mayor. Namun hal tersebut diterangkan Irma sama sekali tidak berhubungan dengan kualitas karya yang dihasilkan.

“Ini menjadi suatu kebangaan karena bisa bersaing dengan penerbit-penerbit dan penulis yang sudah besar (namanya),” ujarnya.

Diterangkan Irma, dirinya berharap penghargaan yang diterimanya dapat memacu semangat penulis-penulis daerah, terutama di NTB, untuk terus berkarya. “Semoga bisa terpacu untuk menulis yang lebih (baik lagi),” ujarnya.

Menurut Irma, apresiasi yang diterima oleh penulis-penulis NTB saat ini menandakan kualitas yang tidak jauh berbeda dari segi karya. Sehingga para penulis yang diam di daerah tidak perlu takut bersaing dengan penulis yang berada kota-kota besar.

Dalam KSK 2019, penulis lainnya yang berhasil masuk dalam daftar pendek penulis terpilih adalah Arianto Adipurwanto dengan buku kumpulan cerita pendeknya yang bertajuk Bugiali. Ari merupakan penulis prosa pertama yang berhasil masuk daftar penulis pilihan penghargaan bergensi tersebut. (bay)