Suhu Panas di NTB Tembus 36°C

grafik gerak semu matahari yang memicu panas menyengat. sumber : BMKG Lobar

Mataram (Suara NTB) – Beberapa  hari terakhir suhu di NTB lebih menyengat dari kondisi normal. Suhu maksimum bahkan tembus hingga 36°C  selama Oktober. Kondisi ini semakin memperparah kemarau panjang dialami NTB.

Secara klimatologis, suhu maksimum di NTB biasanya terjadi di bulan Oktober, menjadi siklus tahunan karena terjadi juga pada tahun sebelumnya.   Dalam catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu maksimum di Pulau Lombok hariannya dapat mencapai 32 hingga 34°C. Sementara di Pulau Sumbawa jauh lebih panas.

‘’Sedangkan di Pulau Sumbawa lebih panas, tembus mencapai 34 hingga 36°C,’’ sebut Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Luhur Tri Uji Prayitno, Jumat, 11 Oktober 2019.

Menurutnya, suhu udara di NTB terasa lebih panas pada Bulan Oktober karena matahari akan berada tepat di atas wilayah NTB atau disebut fase kulminasi.  ‘’Kulminasi ini akibat dari gerak semu matahari,’’ ujarnya. Puncak kulminasi ini tepatnya pada tanggal 16 Oktober nanti.

Dicatatnya, dalam beberapa hari terakhir, dari data suhu udara maksimum di Stasiun Klimatologi Lombok Barat, masih menunjukkan nilai yang berada di sekitar normal,  antara 30 hingga 33°C.

Suhu panas ini terekam menjadi titik kulminasi dan siklus tahunan. Tahun 2018 suhu tertinggi tercatat 34.7°C, sedangkan tahun ini suhu tertinggi pada bulan Oktober terjadi pada tanggal 4 Oktober tercatat sebesar 34.9°C. ‘’Sedangkan suhu tertinggi yang pernah tercatat di Stasiun Klimatologi Lombok Barat sebesar 35.6°C pada tahun 2015,’’ jelasnya.

Periode Musim Kemarau

Provinsi NTB belum keluar dari fase kekeringan ekstrem. Krisis kebutuhan air

dialami masyarakat, air embung dan bendungan juga mengering.

Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hingga dasarian III (fase 10 hari) September 2019,  umumnya tidak terjadi hujan di seluruh wilayah NTB. Hujan tipis hanya terjadi di sebagian kecil wilayah Lombok bagian Tengah, sebagian kecil di Dompu.

‘’NTB masih berada di periode musim kemarau. Masyarakat diimbau agar tetap waspada terhadap dampak yang ditimbulkan. Seperti kekeringan, kekurangan ketersediaan air bersih dan potensi kebakaran lahan di sebagian besar wilayah NTB,’’ kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Lombok Barat, sambung Luhur Tri Uji.

Peringatan dini kekeringan itu disampaikan khususnya untuk daerah – daerah rawan kekeringan dan daerah dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 60 hari. Seperti wilayah Lombok Selatan, sebagian Lombok Barat sebagian Lombok Timur bagian Selatan dan seluruh wilayah di Pulau Sumbawa.

Bahkan kekeringan ekstrem  terpanjang  terjadi di Kabupaten Sumbawa Barat, hingga mencapai 169 hari.

Dijelaskan juga, kondisi suhu muka laut di sekitar perairan NTB menunjukan kondisi lebih dingin disbanding situasi normal. Analisis angin menunjukkan angin Timuran masih mendominasi di wilayah Indonesia. Pergerakan Madden Jullian Oscillation (MJO) saat ini tidak aktif di wilayah Indonesia.

‘’Kondisi tersebut mengurangi peluang terjadinya hujan di wilayah NTB,’’ jelasnya.

Terkait peluang terjadinya hujan pada dasarian I Oktober 2019 sangat rendah, dan peluang terjadi hujan. Kondisi ini diperkirakan terjadi di seluruh wilayah NTB diprakirakan sampai dasarian III Oktober.

‘’Sementara pada dasarian I November 2019, peluang terjadinga hujan kurang dari 20 mm/dasarian, umumnya lebih dari 60 – 80  persen di wilayah NTB,’’ jelasnya. (ars)