Kemarau Panjang, Warga Rebutan Air Bersih

Warga Ndano Ndere saat berebut air  yang disalurkan dari mobil tangki. (Suara NTB/ist_bambang bpbd)  

Mataram (Suara NTB) – Dampak sosial kemarau berkepanjangan semakin dirasakan masyarakat. Warga bahkan harus berebut air bersih disuplai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang terbatas. Pemandangan itu terjadi di titik titik kekeringan di Kabupaten Bima.

Salah satu titik terparah di Kecamatan Donggo dan Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima. Dua daerah dataran tinggi ini langganan kekeringan setiap tahun. Saat suplai air Rabu, 2 Oktober 2019 kemarin, warga berebut air dari mobil tangki.

Air disalurkan melalui tangki, lalu dimasukkan ke dalam bak penampung. Warga berebut memasukkan ember dan jeriken ke dalam bak untuk mendapat air yang volumenya hanya 5000 liter. Hanya dalam waktu satu jam, air ludes jadi rebutan puluhan ibu-ibu.

Menurut Kasubid Penanganan Darurat BPBD Kabupaten Bima, Bambang Hermawan, Dusun Ndano Ndere Desa Bajo adalah desa paling parah terdampak kekeringan. Di desa ini, bak yang biasa jadi wadah menampung air melalui pipa dari perbukitan,  debitnya semakin kecil.

Baca juga:  Atasi Kekeringan, DPRD dan Pemkab Harus Cari Solusi Bersama

“Beginilah  kondisinya, warga sampai berebut air. Kami tidak bisa mengaturnya. Untuk diketahui, kadang-kadang mereka berkelahi karena berebutan air yang terbatas,” kata Bambang dihubungi Suara NTB Rabu, 2 Oktober 2019.

Bambang mengaku sulit mengatur meski setiap proses distribusi meski melibatkan aparat. Namun dipahaminya karena warga sangat

membutuhkan air bersih yang semakin sulit didapat. Juga air yang didapat hanya untuk keperluan minum dan memasak.

Bambang menambahkan, kondisi di Desa Bajo sejak Juni 2019, warga masih mengalami kekeringan. Disebutkan Bambang, sampai dengan distribusi kemarin, total 150.000 liter air atau 30 tangki disalurkan ke masyarakat Desa Bajo.

Demi mensiasati kebutuhan untuk air minum dan kebutuhan dapur sehari hari,  mereka terpaksa membeli. Per jeriken haragnya Rp 10.000. “Setiap harinya warga membeli seharga Rp 10.000. Jadi mereka keluarkan uang,” ujarnya.

Baca juga:  Kemarau Diprediksi hingga November

Sampai saat ini, lanjutnya, warga masih mengharapkan bantuan air bersih dari BPBD atau Dinas Sosial, komunitas peduli lingkungan atau instansi terkait.

Kemarau panjang  di NTB menurut BMKG, masih melanda seluruh kabupaten dan kota. Dampaknya, kemarau panjang dan krisis air bersih.

Hasil analisis, pada dasarian III September 2019, umumnya tidak terjadi hujan di seluruh wilayah NTB, kecuali sebagian kecil wilayah Lombok bagian Tengah sebagian kecil di Dompu. Sifat hujan umumnya bawah normal. Sementara kekeringan terparah  hampir merata di seluruh kabupaten dan kota, kecuali Kota Mataram.

Catatan BMKG, Hari Tanpa Hujan Berturut  (HTH) umumnya dalam kondisi menengah atau  11 sampai 20 hari hingga Kekeringan ekstrem  lebih dari 60 hari. HTH terpanjang terpantau di Kabupaten Sumbawa Barat sepanjang 169 hari. (ars)