Pemprov NTB Terus Upayakan Percepatan Penurunan Kemiskinan

Wedha Magma Ardhi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB terus berupaya mempercepat penurunan angka kemiskinan untuk mengejar target RPJMD 2019-2023. Pada akhir 2023, angka kemiskinan ditargetkan menjadi satu digit, yakni 9,75 persen.

Caranya dengan mengembangkan pariwisata berbasis komunitas/masyarakat atau Community Based Tourism (CBT). Saat ini sedang disusun Integrated Tourism Masterplan (ITMP) Pulau Lombok.

‘’Dalam konsepnya ITMP, pengembangan pariwisata yang sustainable dan inklusif,’’ kata Kepala Bappeda NTB, Ir. Wedha Magma Ardhi, M.TP dikonfirmasi Suara NTB, kemarin di Mataram.

Dengan konsep inklusif, manfaat pengembangan sektor pariwisata diharapkan dapat dirasakan secara menyeluruh oleh masyarakat di sekitar destinasi. Tidak seperti sebelumnya, perkembangan pariwisata hanya dinikmati oleh perhotelan dan industri pariwisata.

‘’Jadi, tidak hanya perhotelan yang menikmati perkembangan wisata. Tetapi bagaimana atraksi, amenitas. Amenitas kaitan dengan kuliner, kerajinan, oleh-oleh, souvenir yang kita dorong,’’ katanya.

Pengembangan desa wisata, kata Ardhi merupakan salah satu bentuk dari CBT. Seperti Desa Bilebante Lombok Tengah. Pengembangan desa wisata di sana mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Sehingga ujung-ujungnya akan menurunkan kemiskinan.

‘’Bagaimana kalau banyak desa wisata. Maka harus dikoneksikan. Kemudian kalau ada desa wisata yang sejenis, jangan sampai saling mematikan,’’ katanya.

Ia menjelaskan, konsep ITMP adalah membangun kawasan-kawasan di sekitar destinasi. Misalnya, KEK Mandalika, maka desa-desa sekitarnya harus dipersiapkan mendukung keberadaan KEK Mandalika.

‘’Mandalika, kalau dia sendirian tak akan berkembang. Dia harus didukung wilayah sekitarnya. Sehingga desa-desa wisata yang akan kita kembangkan. Mandalika sebagai mataharinya. Daerah sekitarnya menjadi planet-planet, satelit-satelitnya,’’ terang Ardhi.

Baca juga:  Ekonomi NTB Tumbuh 6,26 Persen, Wagub Ingatkan Jangan Lengah

Jangan sampai, kata Ardhi, setelah selesai gelaran MotoGP, para wisatawan yang menonton tidak menikmati destinasi wisata lainnya yang ada di Pulau Lombok bahkan Sumbawa. Sehingga, desa-desa sekitar KEK Mandalika harus dipersiapkan dari sekarang.

Untuk Pulau Lombok, ada empat area yang menjadi destinasi utama. Yakni, Senggigi, Mataram, Mandalika dan Rinjani. ‘’Bagaimana CBT kita terapkan di NTB. Instrumennya ada ITMP, kemudian kebijakan pemprov dan kabupaten/kota ikut di situ,’’ terangnya.

Menurut Ardhi, potensi-potensi desa wisata perlu diframing dan branding. Sehingga semua aktivitas masyarakat yang ada di desa wisata dapat menjadi tontonan wisatawan.

Ardhi menyebut tiga prioritas

pembangunan Pemprov NTB adalah sektor pertanian, pariwisata dan industrialisasi dalam upaya mempercepat penurunan kemiskinan. Pengembangan tiga sektor tersebut harus saling dukung.

‘’Tantangannya bagaimana merencanakan program. Dan bagaimana OPD berinteraksi, berkoordinasi. Harus konvergensi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota dan pemerintah desa,’’ katanya.

Pemprov NTB telah menetapkan pengembangan 99 desa wisata selama lima tahun. Pengembangan desa wisata dilakukan secara bertahap setiap tahun. Sesuai SK Gubernur, 99 desa wisata tersebut tersebar di 10 kabupaten/kota. Di Kabupaten Bima ada 10 desa wisata, yakni Kawinda Toi, Piong, Labuhan Kenanga, Oi Panihi, Sambori, Maria, Soro, Risa, Panda dan Tolotangga. Di Kabupaten Dompu ada 9 desa wisata, yakni Saneo, Malaju, Pancasila, Huu, Doropeti, Riwo, Madaprama, Nangamiru dan Lanci Jaya.

Baca juga:  Belanja Proyek Pengurangan Kemiskinan Disorot, Pemprov Perkuat Fungsi Pembinaan

Di Kota Bima ditetapkan empat desa wisata. Yakni Kolo, Dara, Kumbe dan Ule. Kemudian di Kota Mataram ditetapkan 4 desa wisata, yakni Tanjung Karang, Jempong Baru, Karang Pule dan Sayang Sayang. Selanjutnya di Lombok Barat ditetapkan 13 desa wisata. Antara lain Buwun Mas, Mekar Sari, Pusuk Lestari, Pelangan, Senggigi, Banyumulek, Lingsar, Senteluk, Karang Bayan, Gili Gede Indah, Sekotong Barat, Batu Putih dan Labuan Tereng.

Di Lombok Tengah ditetapkan 16 desa wisata. Yakni Sukarara, Marong, Mertak, Lantan, Kuta, Labulia, Bonjeruk, Sepakek, Selong Belanak, Mekar Sari, Karang Sidemen, Rembitan, Aik Berik, Tanak Beak, Penujak dan Sengkol. Di Lombok Timur ditetapkan 18 desa wisata. Antara lain Tetebatu, Sembalun Bumbung, Kembang Kuning, Pringgasela, Tanjung Luar, Jeruk Manis, Sekaroh, Sembalun Lawang, Lenek Ramban Biak, Jerowaru, Labuhan Pandan, Sugian, Lenek Pesiraman, Bebidas, Senanggalih, Seriwe, Sapit dan Sembalun.

Kemudian di Lombok Utara ditetapkan 8 desa wisata. Seperti Senaru, Pemenang Barat, Genggelang, Sokong, Karang Bajo, Santong, Medana dan Gili Indah. Di Sumbawa ada 9 desa wisata, yakni Pulau Bungin, Marente, Batudulang, Lantung, Labuan Aji, Labuan Jambu, Lenangguar, Teluk Santong dan Lepade. Terakhir di Sumbawa Barat ditetapkan 8 desa wisata. Yakni Mantar, Tatar, Pototano, Labuhan Kertasari, Labuhan Lalar, Beru, Pasir Putih dan Sekongkang Atas. (nas)