Destinasi Wisata Super Prioritas, Keamanan Pangan Harus Jadi Nomor Satu

Hj.Sitti Rohmi Djalilah (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Pusat sudah menetapkan NTB (KEK Mandalika), menjadi salah satu destinasi wisata super prioritas di Indonesia. Untuk mendukung hal tersebut, maka produk-produk pangan yang sehat harus menjadi perhatian nomor satu.

Demikian diungkapkan Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M. Pd, dikonfirmasi usai membuka pelatihan Intervensi Keamanan Pangan Bagi UMKM Pangan di Kantor Gubernur, Selasa (24/9). Ia mengatakan, memastikan produk pangan yang sehat dan bersih merupakan bagian dari Sapta Pesona Pariwisata. Selain unsur aman, tertib, sejuk, indah, ramah tamah dan kenangan.

‘’Kita kan masuk dalam lima destinasi super prioritas di Indonesia (yakni) Mandalika. Jadi, kita harus yakinkan betul Sapta Pesona itu. Ini awal yang sangat-sangat penting kita yakinkan. Jadi, kita harus yakinkan pelaku usaha menyediakan makanan yang sehat,’’ tegas Wagub.

Dengan adanya pelatihan kepada ratusan UMKM Pangan yang ada di NTB tersebut, diharapkan mereka dapat menyiapkan produk makanan yang sehat dan aman. Termasuk juga bagaimana mengurus perizinan yang terkait dengan produk pangan.

Baca juga:  OPAL DKP Dompu Jadi Media Pembelajaran Masyarakat Sekitar

Kapasitas UMKM Pangan, kata Wagub terus mengalami peningkatan. Tetapi tetap saja penggunaan boraks dan zat pewarna tekstil dalam produk pangan masih menjadi pekerjaan rumah (PR). Sehingga, pengawasan terus menerus penting dilakukan. Ia melihat, pengawasan sudah maksimal dilakukan BBPOM dan instansi terkait.

‘’Tapi kadang-kadang ada saja yang masih (menggunakan boraks). Makanya, penyuluhan harus terus menerus. BBPOM intens juga untuk

ambil sampel, mengecek ke pasar, (pedagang makanan) pinggir jalan,’’ terangnya.

Untuk pengurusan perizinan terkait dengan produk pangan, kata Wagub tidak mahal. Bahkan sekarang untuk pengurusan izinnya gratis. Sehingga tidak ada alasan UMKM untuk tidak mengurus perizinan soal keamanan pangan.

Menurutnya, UMKM Pangan harus konsen terhadap pangan yang sehat. Jika tidak, maka cepat atau lambat mereka bisa tutup. Mereka juga bisa dituntut oleh masyarakat apabila ada yang keracunan dalam mengunsumsi pangan.

Baca juga:  OPAL DKP Dompu Jadi Media Pembelajaran Masyarakat Sekitar

‘’Jadi sekarang, kebutuhan kesehatan menjadi nomor satu. Baru bicara yang lain-lain. Jadi bahan dulu harus sehat. Baru bicara kreativitas, kuenya seperti apa. Itu next step, tapi kesehatan nomor satu,’’ kata orang nomor dua di NTB ini.

Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram masih menemukan penggunaan bahan berbahaya olahan makanan di NTB. Produk makanan yang masih menggunakan bahan berbahaya ditemukan pada kerupuk. Sementara untuk olahan makanan yang lain sudah mulai berkurang.

Kepala BBPOM Mataram,  Ni Gusti Ayu Nengah Suarningsih mengatakan, pihaknya terus melakukan sosialisasi. Karena penggunaan bahan berbahaya jenis boraks pada kerupuk masih ditemukan.

Ia mengatakan, BBPOM Mataram sudah menemukan bahan yang lebih aman sebagai pengganti boraks pada kerupuk. Nantinya akan ada pembinaan khusus dari BBPOM kepada UMKM. Razia bahan berbahaya tetap dilakukan BBPOM Mataram.  Penggunaan bahan berbahaya pada olahan makanan masih sering ditemukan di pasar – pasar tradisional. (nas)