Pipa Air Hancur, Korban Gempa Kekurangan Air Bersih

Warga Dusun Tangga memperbaiki pipa PVC yang rusak akibat lapuk. Mereka berharap bantuan pipa HDPE dari pemerintah. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Cobaan dialami korban gempa di Kabupaten Lombok Utara (KLU) tak kunjung usai. Dalam kondisi tempat tinggal sedang dalam perbaikan, ratusan warga sejumlah dusun di  Kecamatan Kayangan mengalami kekurangan air bersih akibat pipa air yang hancur.

Pipa yang menjadi satu satunya jalur aliran air bersih dari kaki Gunung Rinjani, ditemukan warga dalam kondisi hancur Selasa, 24 September 2019. Diperkirakan kerusakan pipa jenis PVC itu sudah hancur sejak tiga hari lalu akibat kondisi yang sudah lapuk sehingga tidak mampu menahan tekanan air.

‘’Setelah kami cek, pipanya hancur sepanjang dua kilometer,” kata relawan bencana, Luji Hartono dihubungi Suara NTB Selasa siang kemarin.

Baca juga:  Pemkot Tidak Tahu, Sejumlah Lingkungan di Babakan Dilanda Kekeringan

Ada ratusan kepala keluarga yang menggantungkan kebutuhan air bersih dari sumber mata air yang disebut kawasan Tempos Nusa itu.

Seperti Dusun Tangga 130 KK, Dusun Lokoq Mandi 100 KK, Dusun Sangiang 147 KK, Dusun Sambik Jengkel Timur 126 KK.

Kerusakan pipa bukan kali ini saja. Terparah saat gempa magnitudo 7.0 Agustus lalu. Seluruh bagian pipa hancur diterjang longsor. Karena keterbatasan biaya, warga menyambung pipa yang ada  secara swadaya hingga berjarak 8 Km ke perkampungan.

‘’Tapi karena pipa memang sudah lapuk, makanya lebih cepat rusak. Sudah lima kali kami perbaiki, masih rusak terus,” keluh mantan Kadus Tangga ini. Jika hingga hari keempat pipa masih rusak,  diperkirakannya warga yang mayoritas korban gempa di sana akan alami krisis air. Sebab tidak ada sumber lain kecuali mata air Tempos Nusa.

Baca juga:  Ayo, Selamatkan Teluk Bima

Mewakili warga, ia mengaku berharap banyak dari Pemerintah KLU atau Pemprov NTB untuk memberikan bantuan  pemasangan pipa yang lebih paten, jenis HDPE karena  daya tahan longsor lebih.

Jika bertahan dengan jenis pipa  yang sama,  dipastikan warga akan terus mengulang perbaikan akibat pipa semakin lapuk. (ars)