Bendungan Meninting Mulai Dibangun

Penekanan tombol sirine bersama-sama, menandai dimulainya pembangunan Bendungan Meninting (Suara NTB/bul)

Giri Menang (Suara NTB) – Bendungan Meninting di Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat secara resmi mulai dibangun. Bendungan ini memiliki fungsi sangat strategis di Pulau Lombok. Menjaga ketahanan air, mengurangi pengaruh kekeringan, destinasi wisata, sumber air baku, pembangkit listrik dan mendukung KEK Mandalika.

Kepala BWS Nusa Tenggara I, Dr. Hendra Ahyadi, ST, MT menjelaskan secara utuh tentang Bendungan Meninting dan manfaatnya
Kepala BWS Nusa Tenggara I, Dr. Hendra Ahyadi, ST, MT menjelaskan secara utuh tentang Bendungan Meninting dan manfaatnya

Ground breaking Bendungan Meninting dilakukan Kamis, 19 September 2019. Dihadiri langsung, Dirjen SDA Kementerian PUPR, Dr. Ir. Hari Suprayogi, M.Eng. Kepala Pusat Bendungan, Dr. Ir. Ni Made Sumiarsih, M. Eng. Kepala Bidang Bendungan  Wilayah Timur Dirjen SDA. Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara I, Dr. Hendra Ahyadi, ST, MT, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah.

Disaksikan Sekda NTB, H. Iswandi beserta Sekda Kabupaten Lombok Barat, H. M. Taufik. TP4D Provinsi NTB, Kepala OPD Provinsi NTB, Kabupaten Lombok Barat, stakeholders. Serta tokoh agama, masyarakat, pemuda, serta masyarakat setempat.

Ground breaking Bendungan Meninting berjalan lancar. Masyarakat setempat juga mendukung pembangunan bendungan ini. Sebab keberadaan bendungan akan berdampak pada banyak hal. Kepada wilayah  pembangunan bendungan, Kabupaten Lombok Barat dan Pulau Lombok pada umumnya.

Peta Bendungan Meninting

Dirjen SDA Kementerian PUPR, Ir. Hari Suprayogi, M.Eng mengemukakan, kondisi spesifik Provinsi NTB adalah wilayah dengan iklim tropis kering (semi arid) dengan musim hujan sangat pendek 3- 4 bulan di mana curah hujan rata-rata tahunan 1.200 mm dengan musim kemarau yang panjang (8-9 bulan) berdampak pada masalah ketersediaam air. Maka dari itu pembangunan bendungan menjadi sangat strategis untuk menampung potensi curah hujan yang ada.

Guna mensukseskan target Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045, Presiden Jokowi dalam program nawacitanya, membangun 65 bendungan di seluruh wilayah indonesia. Khusus untuk di provinsi NTB  sebagai salah satu dari 14 provinsi lumbung pangan nasional, presiden telah mencanangkan sejak 3 tahun yang lalu untuk membangun 5 bendungan.

Yaitu Bendungan Tanju dan Bendungan Mila di Kabupaten Dompu (sudah selesai), Bendungan Bintang Bano Di Kabupaten Sumbawa Barat dalam tahap pelaksanaan. Selanjutnya terdapat 2 bendungan yang telah dikontrakkan mulai awal tahun 2019 yakni Bendungan Beringin Sila di Kabupaten Sumbawa dan Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat yang di ground breaking kemarin.

Ground breaking Bendungan Meninting dilakukan secara simbolis

“Ada juga yang diusulkan Bendungan Krekeh. NTB ini paling banyak bendungannya di Indonesia,” ujarnya. Pembangunan bendungaan merupakan salah satu program utama Kementerian PUPR melalui Ditjen Sumber Daya Air yang bertujuan untuk mengkonservasi sumber daya air serta pengendalian daya rusak air dalam rangka mewujudkan ketahanan air dan kedaulatan pangan.

Bendungan meninting merupakan salah satu dari 65 waduk prioritas rencana Kementerian PUPR yang terletak di desa bukit tinggi Kecamatan Gunung Sari dan Desa Dasan Geria Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat. Bendungan meninting merupakan proyek strategis nasional multiyears contract yang dalam pembangunannya nanti melibatkan Tim Pengawal Dan Pengaman Pemerintahan Dan Pembangunan Daerah (TP4D) yang dimonitor oleh BPKP dengan pelaksanaan pembangunan direncanakan dari tahun 2018 sampai dengan tahun 2022.

Pelaksanaan pembangunan direncanakan dari tahun 2018 sampai dengan tahun 2022 yang selanjutnya akan dikelola oleh BWS NT I sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Pembangunan Bendungan Meninting memerlukan lahan tanah seluas 90 hektar. Bendungan ini akan memberikan manfaat kepada masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah dan Kota Mataram.

Karena menyediakan tampungan air ± 8.2 juta m3 untuk memenuhi kebutuhan air irigasi D.I penimbung 454 ha, kebutuhan air bersih 150 liter/detik, sebagai pembangkit listrik kapasitas terpasang 2×0.40 Megawatt (MW) dan menyediakan air irigasi untuk suplai ke sistim HLD Jangkok-Babak.

Tahun ini rencananya selesai 10 persen pembangunan. Pascagrounbreaking, jalan masuk, pembangunan trowongan yang diutamakan untuk pengelakan. Dan pengalihan sungai. Lalu pembangunan bendungan. Pembayaran pembebasan lahan juga dilakukan bertahap. Sampai tuntas.  “Akhirnya, berharap dan mohon dukungan kepada semua pihak untuk meminimalisir persoalan sosial,” harapnya.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah menyampaikan apresiasinya atas perhatian pemerintah pusat kepada NTB. Pemprov juga menyatakan komitmen mendukung suksesnya pembangunan bendungan ini. Menurutnya, tidak ada pilihan kecuali mensukseskan. Apalagi di Lombok Selatan saat musim kemarau sangat kekeringan.

“Nanti air ini bisa dialirkan sampai jauh ke sana. Saya kira banyak permasalahan air yang akan selesai di Lombok dengan Bendungan Meninting ini,” demikian Gubernur. Sementara Kepala BWS Nusa Tenggara I, Dr. Hendra Ahyadi, ST, MT memaparkan soal dampak Bendungan Meninting terhadap KEK Mandalika.

Kebutuhan air di wilayah selatan dapat dialirkan dari Bendungan Meninting. Sistim distribusi air di Pulau Lombok, satu-satunya ada di Indonesia. Sehingga sangat strategis untuk pemerataan distribusi air ke seluruh wilayah Pulau Lombok. Selain itu, Bendungan Meninting dilengkapi dengan museum bendungan yang akan menjadikannya sebagai destinasi wisata alternatif di Kabupaten Lombok Barat ke depan. (bul)